Cintaku di Gated Society

konon katanya hidup itu seperti spiral yang berputar-putar, terus naik ke atas. seperti peer yang mental-mentul, naik dan turun, akan selalu ada gerak mental ke atas. apa  yang dialami dulu, mungkin akan dialami kembali di masa mendatang dalam bentuk dan kondisi yang berbeda. Dalam bahasa matematika A menjadi A’. tapi ada kalanya juga sih per itu gak mental-mentul. datar-datar aja. coba dicek. mungkin itu bukan twister angin tornado, tapi lebih mirip obat nyamuk. Disulut, berasap, lalu habis (padahal nyamuk masih juga ada) ah itu sih derita yang lain lagi…

well, ini cerita soal tinggal di dalam kluster. aku pernah membuat tulisan serius soal gated society, orang-orang yang tinggal di dalam kluster perumahan yang punya gerbang tinggi, satpam 24 jam, dan tembok tinggi pemisah dengan kampung tetangga. just like a love and hate relationship, ini seperti benci tapi rindu. Opini positif soal keamanan, gak akan menghapus perasaan ganjil pada konsep hunian seperti ini.

Dan hidup memang mentul mentul. sengit ndulit. percayalah, kesebalan yang sangat, akan berakhir dengan penerimaanmu yang sangat atas kesebalan itu. siapa sangka, tiga tahun setelah aku menulis itu, kini aku jadi bagian dari komunitas berpagar. tinggal dalam kluster Laris Manis yang sejak dibuka penawaran langsung habis karena setiap Senin harga naik.

Di dalam kluster Laris Manis, sepertinya banyak norma yang tidak tertulis. ini jelas berbeda dengan tinggal dalam kampung yang normanya sering jelas tertulis di tembok, semisal: ngebut benjut, di atas pukul 22 motor harap dituntun, atau tamu lebih dari 24 jam harap lapor RT. Tapi di kluster Laris Manis, tidak perlu ada hal semacam itu karena semua sudah memahami bahwa terlalu banyak kata-kata verbal bisa jadi akan tidak menyenangkan. Satu dari sedikit norma yang sudah kupelajari: jangan menyapa dengan sebutan mbak, seberapa pun mudanya perempuan yang sedang kamu ajak bicara.

awalnya kupikir, sebutan mbak itu sangat akrab, tidak berjarak. di pabrik kata-kata tempatku bekerja dulu pun orang-orang juga biasa memanggil mbak untuk perempuan tua dan muda, tidak peduli senior dan atasan sekalipun. perempuan biasanya senang dipanggil mbak karena akan terdengar muda dibandingkan sapaan tante, ibu, apalagi budhe. tapi hal semacam itu tidak berlaku di kluster Laris Manis.

aku pernah memanggil seorang tetangga dengan sebutan mbak, karena kupikir usianya tidak terpaut jauh denganku, eh mukanya tampak kurang suka. lalu pernah juga aku memanggil mbak untuk menyebut seorang teman tetangga, tapi ternyata lawan bicaraku juga menunjukkan air muka tidak ngeh.

butuh beberapa hari untuk menyadari bahwa ternyata memang tidak pernah ada yang memanggilku mbak. mereka memanggilku dengan sebutan tante atau ibu ternyata bukan karena lupa namaku. perlu beberapa waktu untuk memahami bahwa sapaan mbak merujuk pada asisten rumah tangga. … o, baiklah tante.

Namanya juga warga baru, musiman pula. aku yakin masih banyak hal yang akan aku temui di sini. ini dunia baru. Namun selama triwulan pertama sebagai penduduk musiman, kluster ini (masih) terasa manis. Aku sudah mencoleknya sedikit, mencecap hari ulang tahun pertamaku di kluster ini dengan status baru sebagai nyonyah rumah. hhhmm… untung gak ada yang manggil, nyah …

Thanks, honey. You are so sweet … just like our home sweet home, kluster Laris Manis

Cintaku di Gated Society

Wow… !

Sebelum menginjak usia 20, aku bertanya-tanya bagaimana rasanya jadi perempuan usia duapuluhan. Bayangannya waktu itu, usia 20 rasanya kok sudah dewasa (untuk tidak menyebut tua :D) aku berandai-andai merancang itu ini yang  serius seperti menikah misalnya di usia 25 tahun (hahahaaaay!) . Kenyataannya lain. 20 hanya soal angka yang tak mengubah kedewasaan. Usia 20 terlampaui dengan hal yang linier: lulus kuliah, mencari kerja, mendapat kerja. Satu hal yang tak linier adalah soal menikah. Di saat teman-teman sibuk merancang pernikahan mereka, aku sibuk merancang hal lain-lainnya.

Mendekati usia 30, kembali pertanyaan itu mengusik: bagaimana menjadi manusia umur 30 tahun. Menuakah? Hmm.. sedikit. Dewasakah? nggak yakin. Lebih serius dengan hidup? Mungkin. Diam-diam ada rasa cemas yang terselip. Aku pun menyibukkan diri membuat targetku sendiri demi mengusir hantu-hantu masa lalu yang membuatku menua sebelum waktunya. Aku memilih banyak daftar apa-apa yang harus dilakukan sebelum usia 30 tahun. Ngotot? Konyol? yo ben. Lha bebas wong ini hidupku. Dan aku mensyukuri dilimpahi banyak sekali keindahan dalam hidup. Banyak hal mewarnai, salah satunya keguyuban di pabrik kata-kata selama hampir 10 tahun. Gak bakalan lupa gimana nyamannya duduk bekerja sambil memandang langit di kubikel biru. (Thanks to all my dear friends who made everything was sooo perfect in years we have been through!)

Waktu menggelinding dan  30 tahun pun terlewati. Sekarang 34 tahun ah, masih tigapuluh sekian. Ternyata rasanya masih sama saja, aku masih cengengesan, suka main-main ke sana kemari. Namun ada yang berubah, hidup rasa-rasanya lebih serius demi menyiasati sifat ibu tiri kota yang semprulnya sering tak terduga. Ternyata benar kata para senior, usia hanya soal angka yang tidak akan mengubah apapun soal kedewasaan. Soal mental adalah sejauh mana kita bisa memaknai dan belajar menyikapi apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Seperti tagline iklan rokok “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan” (damn, kenapa ya, iklan rokok kok bagus-bagus?).

Jadi, semuanya adalah soal pilihan, termasuk saat aku memilih untuk memulai perjalanan baru dengan petualangan baru. Ya… aku akan menikah! Wow, aku masih takjub dengan pilihanku ini. Ada kecemasan baru. Tidak lagi berkutat dalam angka, tapi soal entah. Menuakah aku? .. pasti. Tapi aku masih belum punya jawaban untuk: lebih dewasakah aku? lebih serius? Terlalu banyak jangan-jangan, kepala mendadak riuh dengan pikiran-pikiran yang bukan-bukan dan yang iya-iya.

Satu yang kutahu pasti, aku merasa lebih beruntung karena ada seorang sahabat yang akan selalu menemaniku dalam perjalanan terjal dan berliku. Adi meyakinkanku bahwa perjalanan panjang ini akan lebih bermakna bila dilewati bersama. Dan kami pun memantapkan niat untuk berjalan lebih jauh. And the starting line is countdown … Bismillah …

 

Wow… !

#thankgoogle

rangkuman Google tentang top questions of the year, selain mengukuhkan kehebatan mesin pencari ini, juga menunjukkan betapa pikiran zaman sekarang itu makin absurd. makin ajaib jika memakai ukuran zaman generasi pra-twitter.

dalam rangkumannya soal keseharian, Google menasbihkan bahwa pertanyaan ‘how’ itu ternyata 8x lebih banyak daripada ‘who’. baiklah… artinya, ehm ini menurutku, orang sekarang ini makin kritis karena lebih peduli pada proses dan detil daripada sosok atau sekadar tahu ini apa, itu apa. tapi, keingintahuan ini rasanya kok aneh karena dalam penjelasan selanjutnya, Google juga menjelaskan bahwa topped of the questions untuk sehari-hari itu adalah .. ‘what is love‘. pertanyaan ini dikatakan 5x lebih banyak daripada mempertanyakan apa itu ilmu, ‘what is science‘. apa artinya, orang sekarang lebih romantis dan puitis karena mempertanyakan cinta? atau jangan-jangan hidup makin gersang dan lupa bahwa ada kata love dalam kamus mereka. mbuh lah ..

seluruhnya ada delapan tema besar dalam A year in search yang prejengannya memang memanjakan itu. setelah ngeklak-ngeklik itu, aku jadi penasaran kira-kira kata kunci apa yang membuat orang nyantol di blog ini. ha, gara-gara A year in search akhirnya aku melongok blog yang mangkrak hampir setahun ini.

thank to wordpress yang juga menyediakan statistik kunjungan berdasarkan kata kunci. dan, ini yang bikin aku ngikik. blog yang terlalu banyak berisi hal tak penting ini ternyata punya pangsa pasarnya sendiri. dalam statistik, ada sejumlah kata yang menjadi top searches. jujur, sebagian bikin aku berkerut kening, orang macam apa yang mencari arti kata berikut dalam google dan membuatnya nyangkut di blog ini.

yak, ini lah top searches in my blog

arti kata bajang | ngruntel bahasa jawa | apa arti simbol buah pome | toko artomoro tutup jam | jus pome | model rambut ibu pejabat |

O Google.. you make information hunt is so much fun! #thankgoogle😀

#thankgoogle

Oscar Ranupani

Kami menyebutnya Oscar, lelaki kemayu yang baru beberapa hari lalu meluruskan rambutnya di salon.

Malam itu, rambutnya yang dipotong di bawah telinga itu tampak hitam, lurus, tanpa cela. Rambutnya mengilat memantulkan api tungku yang tampak rakus menjilati kayu. Kami duduk di bangku sisi kiri tungku, sementara Oscar dan dua karibnya duduk di seberang kami. Ibu yang ramah memberi kami penganan dan minuman hangat. Dapur kayu milik keluarga Sobirin hangat melindungi kami dari terpaan angin dingin Ranupani.

Kami mengobrol riuh, seolah sudah lama akrab mengenal. Sembari bercerita ngalor ngidul, telapak tangan Oscar tidak henti-hentinya mengusapi rambutnya. Kakinya menyilang kenes sementara sesekali kerlingan matanya merayapi ujung rambut sampai ujung jempol seorang kawan yang duduk di sebelahku. Jelas, Oscar lebih tertarik pada Mamang di sampingku. Tapi aku lebih tertarik pada tiga karib Oscar yang tampak sama sekali tidak kenes dan kemayu. Satunya berjaket merah ala pendaki, satunya berjaket hitam dan terus mengepulkan asap rokok, dan seorang lagi Sobirin, yang sudah membantu kami mengangkuti barang selama perjalanan melintasi punggung Gunung Semeru. Empat karib ini sungguh akrab. Duduk bersebelahan, saling meledek, sembari saling melengkapi cerita. Akrab.

Kupikir ceritanya akan lain, kalau Oscar hidup tidak di Ranupani. Oscar sudah pasti akan di-bully oleh kawan-kawannya sendiri. Aku masih ingat kawanku Sonya di kampus yang disisihkan dari perkumpulan sosial. Geng cewek risih menerima Sonya karena dianggap tidak cukup feminin untuk memperbincangkan kerumitan perasaan tapi juga dinilai terlalu agresif menunjukkan pendiriannya.  Sementara itu, Sonya juga sering ditolak perkumpulan para cowok, karena dianggap terlalu lebay bersolek dan terlalu kenes bersikap. Sonya serba salah. Saat KKN tiba, problema Sonya makin rumit karena bersangkutan dengan urusan pembagian kamar tidur. Jelas, Sonya tidak punya banyak teman. Sonya tidak seberuntung Oscar yang terlihat baik dan akrab-akrab saja dengan kawan sepermainannya.

Tapi di Ranupani, selalu ada permakluman dan penerimaan. Bukan hanya untuk Oscar melainkan sepertinya untuk banyak hal, termasuk untuk urusan surgawi. Di dekat Ranu Regula ada Pura dengan pengeras suara yang jaraknya hanya beberapa meter dari sebuah langgar. Tak jauh dari situ, ada gereja kecil dengan tanda salib yang sangat besar di tembok depannya. Damai. Ya, mungkin semua cerita ini akan berjalan lain jika tidak di Ranupani. Di Ranupani, semua adalah Kita. tidak ada liyan, tidak ada mereka. Kebersamaan belum tersingkir.

Oscar Ranupani

Pagar Generasi Pra-Twitter

Jagongan di rumah Pak Tam membuatku mikir kalau Twitter memperumit kebiasaan kita berkomunikasi. Situs jejaring sosial yang menautkan cuitan-cuitan kabar itu sukses mempopulerkan tanda baca yang sebelumnya jarang dipakai: tanda pagar /#/ alias hashtag!

Di Twitter, orang menggunakan tanda pagar untuk membuat kategori cuitan.Tanda pagar adalah kode dalam dunia metadata. Suatu kata yang diberi tanda pagar, otomatis akan menjadi kata kunci. Kata bertanda pagar bisa ditaruh di depan, di tengah, atau di akhir kalimat. Tanda pagar membuat kata kunci mudah dicari dan ditelusuri. Maka, orang yang ingin eksis di dunia maya akan membuat sebanyak-banyaknya kata kunci dengan menaburkan banyak tanda /#/ dalam kalimatnya. Dengan begitu, peluang membuat  trending topics yang cuitannya diakses buaanyak orang semakin terbuka lebar.

Tanda /#/ sebetulnya juga dipakai di sejumlah jejaring sosial lainnya, seperti Instagram, Tout, Tumblr, Flickr. Jauh sebelum Twitter ngetop, tanda itu juga sudah nangkring di papan ketik. Dalam bahasa program, tanda /#/ dipakai untuk memisahkan pesan demi pesan. Dulu mbak Veronika dalam voice massage operator telepon seluler juga sering bilang, “tekan pagar untuk meninggalkan pesan”. Operator juga sering memanfaatkan tanda /#/ untuk bahasa sistem pengisian pulsa. Dalam kartu isi ulang pulsa tertera cara mengisi pulsa yakni memasukkan kombinasi sejumlah nomor didahului dengan tanda bintang /*/ dan diakhiri dengan tanda /#/. Tapi, bagiku tidak ada yang begitu revolusioner memperkenalkan tanda pagar sebagai bagian dari simbol berkomunikasi seperti halnya Twitter. Dalam opiniku, Twitter lah yang membuat banyak orang ngeh terhadap keberadaan tanda pagar.

Tapi Pak Tam mengubah pandanganku tentang tanda pagar. Lelaki berusia sekitar 40-an tahun itu adalah seorang yang berpikir sederhana dan bertindak mulia. Sehari-hari bertani dan mengajar mengaji. Kehidupannya tidak akan jauh-jauh dari pekarangan rumahnya, sawahnya, dan langgar. Rumahnya yang di ketinggian Dusun Pringapus, Desa Sambungrejo, Grabag, Magelang ini tampaknya berperan besar dalam menciptakan alam pikirannya menjadi begitu damai dan jauh dari ambisi apapun. Dari beranda rumahnya, kita bisa melihat jelas puncak Gunung Telomoyo, yang menurutnya jarak ke puncaknya hanya tinggal belasan kilometer lagi.

Latar belakang itulah pangkal keruwetan berkomunikasi antara aku dan Pak Tam. Ia betul-betul menguji kemampuanku dalam menjelaskan peran tanda pagar dalam proses alur data. Pak Tam diminta mengirimkan pesan singkat dengan format tertentu yang bisa diterima oleh sistem komputer. Format itu menyertakan sejumlah tanda pagar supaya data bisa diterima oleh sistem secara lengkap dan otomatis sudah terpilah-pilah. Aku, dengan kerenyahan bahasa yang sudah distandarisasi melalui panduan customer delight, menjelaskan panjang lebar mengenai pesan singkat tersebut: mulai dari menunjukkan format, menerangkan apa saja isinya, hingga kapan pengirimannya. Tapi, di akhir penjelasan, Pak Tam membuatku mati kutu. Pertanyaannya singkat namun menyayat. “Tanda pagar itu apa? Di mana tempatnya?” Pak Tam ternyata TIDAK mengenal tanda pagar…  Dan Slaaaps. Sesaat, aku kehilangan kata-kata. Cunthel.

Ya ya, komunikasi kami ternyata belum berada di frekuensi yang sama. Masih ada tiga bahasa di antara kami: bahasa yang kugunakan, bahasanya Pak Tam, dan bahasa si komputer yang terbatas kosakatanya itu. Keruwetan makin menjadi dengan sarana papan ketik di ponsel Pak Tam yang terlihat masih menggunakan teknologi jauh sebelum Twitter diluncurkan oleh penciptanya yang ganteng Jack Dosey tahun 2006. Jalan pintas pun digunakan. Kosakata yang pantang dikatakan pun akhirnya keluar..”pokoknya”.

Pokoknya pakai pager, Pak. Menawi mboten, komputere mboten saged nampi.

Selama ini, Pak Tam menggunakan telepon genggam sesuai dengan fungsi sejatinya: mengirim pesan singkat atau menelepon kerabat dan sahabat yang tinggal jauh di sana. Sehabis kata pamungkas “pokoknya” itu terlontar, aku agak menyesal karena membuat Pak Tam terpaksa mengenal tanda pagar. Ia jadi mengenal cara berkomunikasi yang ganjil dan wagu: mengirim pesan mekanik kepada barang, kepada sistem, kepada dunia yang maya, kepada entah. Tanda pagar bagi Pak Tam bukan revolusi berkomunikasi tapi justru memagari inti komunikasi sejati, yang seharusnya berbicara dengan sentuhan personal yang menyapa, pada kerabat, pada sahabat.

Setuju sama Njenengan, Pak! … tanda pagar itu apa??

Pagar Generasi Pra-Twitter

Magelang Siesta!

Seorang kawan bilang, bahwa paling enak punya toko kelontong di Magelang. Kerja tidak ngoyo dan bisa siesta, tidur-tidur siang sebentar setelah makan siang. Buka toko lagi sore harinya dan tak lama kemudian tutup lagi ketika hari belum terlalu larut. Nyaman.

Mungkin benar kata kawan itu. Jalan Jenderal Sudirman yang banyak toko kelontong, toko oleh-oleh dan warung makan jadul itu sering terlihat lengang. Padahal, aku lewat juga nggak sore-sore amat, sekitar jam lima sore. Di seputaran Akmil yang masih rungkut dengan pepohonan juga begitu. Entah karena orang sungkan bawa kendaraan ngebut di wilayah militer, atau memang nggak banyak yang melintas. Agak ramai ya hanya di sekitar alun-alun dan pertokoan di jalan Tidar dan Jalan Pemuda. Selebihnya, senyap.

Tiga hari di Magelang, rasanya seperti sudah seminggu. Bukan karena bosan, tapi memang sehari di sini serasa 28 jam, panjang. Hidup tidak diburu waktu, dan orang tidak akan babak belur dihajar rutinitas. Apalagi, hujan turun hampir setiap hari, membuat udara kota di kaki Gunung Tidar ini sungguh nyaman untuk .. siesta, ngeteh di rumah, atau apapun asalkan tidak berkeliaran di jalan.

Makanya, agak ganjil rasanya melihat kota dengan ritme alon-alon ini punya mal yang besar dan gemerlap seperti Artos. Awalnya, aku pikir nama itu dari bahasa Jawa yang berarti uang. Penamaan sederhana seperti pada toko-toko jadul, semacam arto moro atau sudi mampir. Ternyata Artos itu adalah Armada Town Square. Cool. Mal berusia dua tahun ini bersisian dengan hotel bintang 4 plus dari jaringan Aerowisata yang baru dibuka akhir tahun 2012. Keseluruhan kompleks Artos ini berukuran jumbo untuk kota yang hanya seluas 18,12 km2. Luas kota ini hanya sekitar separuh dari luas tetangganya, Kota Yogyakarta, yang juga dikenal kecil itu.

Suka tidak suka, kompleks Artos memang mengubah wajah Magelang siesta yang ngantukan. Mau bagaimana lagi. Sebuah kota akan mau siesta berlama-lama kalau toh resep belanja sampai gempor di mal yang gemerlap diyakini mampu melecut transaksi ekonomi yang jauh lebih pesat. Tidak penting lagi apakah tata kota menjadi agak wagu dengan mal yang beradu besar dengan Gunung “mungil” Tidar di seberangnya.

Dan aku ternyata menikmatinya. Di hari ketiga, aku menukar tempat menginap, dari hotel senyap di lembah Progo ke hotel riuh di mal. Tidak tahan, berlama-lama di tempat yang terlalu sunyi sendirian. Apalagi, ketika kabut turun dan yang didengar hanya arus deras sungai sepanjang malam. Akhirnya, aku memilih bergabung dalam keriuhan di pinggir Kota Magelang. Tapi lain waktu, aku pasti menikmati siesta yang sebenarnya di Magelang.

Magelang Siesta!

Cerita Jakarta #4: Akhirnya, Penasaran Itu Pecah

Kami merekam betul, bagaimana Ibu Ika selalu mangkir dari pertemuan yang sudah dirancang. Kalau saja kami terlambat lima menit saja, mungkin kami akan terus dihantui rasa penasaran. Pagi itu kami datang untuk melunasi rasa penasaran kami.

Sungguh, kami sudah terlalu lelah untuk menagih niat baiknya menyelesaikan perkara kami. Kami sudah melunasi rasa dongkol dengan menelan perkara itu sebagai pelajaran hidup yang …. kemripik garingnya. Tapi, ternyata yang paling sulit adalah menumbangkan rasa penasaran. Rasa itu mengganjal ganjil menantang harga diri. Selama ini kami tidak pernah tahu rupa orang yang sudah mengusir kami. Ibu Ika, sosok sibuk yang mengaku si pemilik rumah, hanya mengirimkan juru bibir (jubir) untuk mengusir kami.

Minggu lalu, berbekal sepotong alamat dari seteru lama, nik dan aku bertekad bulat mencari rumahnya di bilangan Bambu Apus, Jakarta Timur. Awalnya ragu, karena selain jauh jarak, wilayah itu juga jauh dari bayangan. Pilihan cuma ada dua, selamanya penasaran, atau kerepotan beberapa jam tapi melunasi seluruh keingintahuan.

Singkat cerita, Legenda membelah Jakarta. Hampir sejam lamanya di seputaran pintu Tol Bambu Apus untuk bertanya kanan kiri dan nyasar sana sini. Tekad kami bulat: merapat ke Jalan Gebang Sari no 83. Untunglah, kami tiba tepat pada waktunya. Tidak terlambat dan tidak terlalu cepat. Kami datang tepat ketika si Ibu Ika sedang berdiri di depan garasi bersiap pergi. Mesin mobil CRV sedang dipanasi dan bersiap meluncur.

Dari dandanannya kami tahu si Ibu hendak njagong. Rambutnya sudah rapi kaku dicatok. Wajahnya dipulas senada dengan warna kebaya hijau daun yang dikenakannya. Dia menggenggam clotch hitam merling-merling, dan sekotak parfum eternity warna salem. Agak kurang serasi sebetulnya, tapi ya siapa yang peduli.

“Saya ada undangan, kalian tahu jam berapa?” katanya tinggi.

Walah ya mana kami tahu.  Nggak perlu terlalu lama bicara, kami sudah tahu berhadapan dengan sosok yang tidak ramah. Tanpa basa-basi, dia langsung tegangan tinggi begitu tahu kami adalah keluarga Rabel.

“Ya wajar dong kalau saya suruh kalian pergi, itu kan rumah saya!” katanya makin tinggi.

Rasanya seperti nonton sinetron produksi klan Punjabi, dengan adegan utama ibu tiri marah-marah yang mimik mukanya seperti seng kejatuhan buah mangga. Tajam dan berisik.

“Sudah sana kalian urusan saja sama … bla bla bla..!

Dan selebihnya kuping kami berdenging. CRV Hitam bergerak meninggalkan wajah kami yang melongo takjub. Mental kami pun diuji. Kami merasa menang. Ibu boleh mengusir kami dan merenggut kenyamanan kami, tapi nggak membuat kami kehilangan kewarasan dan rasa humor. Dan yang terpenting rasa penasaran kami pecah sudah.

Cerita Jakarta #4: Akhirnya, Penasaran Itu Pecah