Miniatur

Undangan resepsi pernikahan membuatku datang ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Menarik. Tentu yang menarik bukan pesta resepsinya. Tetapi tentu saja TMII yang menarik. Tempat itu masih tampak sama seperti aku datang ke tempat itu sekitar 18 tahun silam. menarik, dengan dibumbui rasa nostalgia tentunya. 

Namanya juga dengan semangat nostalgia, meski matahari menyengat, aku tak patah semangat untuk berkeliling. Tidak berjalan kaki, tapi dengan menumpang sebuah mobil tour. Ya, tempat itu masih serupa. Ada danau buatan seluas sekitar 9 hektar dengan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya. Ada kereta gantung yang berseliweran di atasnya. Bangunan teater 4D Keong Mas – yang dulu pernah bikin aku menganga takjub – juga masih berdiri megah. Ada yang baru, Taman Budaya Tionghoa. Jumlah anjungan berubah jadi 26, karena anjungan Timor Timur sudah dijadikan museum. Katanya sih, akan dibangun anjungan baru, secaraaaaa … sekarang ini kan sudah 33 provinsi gitu.

Ngomongin museum. Taman mini yang seluas 100an hektar itu punya sejumlah museum. Antara lain Museum Indonesia (konon inilah cikal bakal taman miniatur Indonesia), Museum Transportasi yang majang pesawat dan rangkaian lokomotif di mukanya, Museum Keprajuritan yang masih saja serem dan tentu saja Museum Purna Bhakti Pertiwiyang kesohor itu. Yang disebutkan terakhir ini kesohor karena dibangun dalam kurun waktu lima tahun (1987-1992) dan isinya memang menakjubkan: koleksi cinderamata dari berbagai negara milik mantan Presiden Soeharto.  

Ya, TMII masih tampak serupa. Kecuali pagar sejumlah bangunan yang catnya sudah mengelupas di sana sini, kecuali sejumlah museum yang tampak sepi tidak dikunjungi, kecuali sejumlah besi dan logam Stasiun Kereta Mini yang terlihat berkarat, kecuali pepohonan dan semak belukar yang tumbuh subur di sejumlah halaman anjungan. Tak apa, TMII rasa nostalgia memang menarik.

Makin menarik ketika sopir mobil tour yang aku tumpangi mulai membeberkan ceritanya. Bukaan, ia tidak tertarik memamerkan koleksi taman wisata di TMII. Ia juga tambah tidak antusias ketika membicarakan sejarah berdirinya TMII yang pada suatu masa dulu sempat didengung-dengungkan. Ia lebih tertarik membicarakan tentang makhluk-makhluk tak kasatmata yang menjadi bagian koleksi TMII. (Lhaa.. ini taman mini atau taman uka-uka?)

Ceritanya, ada sepasang ular berkepala manusia yang suka berseliweran di jalanan, terutama di seputaran Museum Indonesia dan bakal Sea Park yang sedang dibangun. “Panjangnya, mbak, dari Museum Indonesia ini, sampai ujung genteng rumah di sana itu!”, seru si sopir bersemangat. Ya, ia tengah menggambarkan betapa besar dan panjang ular itu. “Yaa.. kira-kira 300 meteran lah” (coba itu, kalau ular beneran, pasti udah dilepasliarkan kembali ke habitatnya oleh para pecinta alam).

Belum cukup menceritakan koleksi extra large-nya, si sopir pun berganti topik. Kali ini giliran koleksi yang super cantik tapi suka mengikik. Dengan semangatnya, si sopir bercerita, “Iya, mbak. Mobil saya pernah ditumpangi perempuan cantik. Dia nyetop mobil saya di sini ini, di Stasiun Kereta Mini. Setelah putar-putar, eh si perempuan tadi tiba-tiba menghilang. Tinggal dua daun kamboja yang ada di tempat duduknya… bla-bla-bla.” Aku tidak lagi mendengar lanjutannya karena sibuk celingukan mencari-cari jejak nostalgia yang tersisa di antara anjungan demi anjungan.

Sial. Santapan nostalgia siang itu pun habis. Ya tersisa obrolan tak penting yang diobral si sopir mobil tour. Tak apalah, aku justru menemukan bahwa taman yang kukelilingi selama sekitar dua jam itu memang benar-benar miniatur Indonesia. Sebuah bangsa salah urus, kurang suka berpikir logis, tapi lebih suka mikirin mistik. Duh.. duh… Mendingan makan bistik, deeeh!

Advertisements
Miniatur

Sekolah

Ketika aku datang pagi ini, seorang teman tampak sibuk berkemas. Mengambili kertas-kertas yang teronggok di sudut meja, mengikatnya menjadi satu bundel tebal. Menggeser kotak-kotak anyaman bambu warna warni koleksinya, dan mengelapnya. Tumpuk demi tumpuk buku di mejanya pun disusunnya kembali. Semuanya ia masukkan ke dalam kardus besar. Tak cukup satu kardus. Mungkin ia perlu empat kardus besar untuk membuat semua barang di mejanya terangkut. Ia memang sibuk berkemas. Ia akan pindahan. Pindah kota, pindah kerja, pindah kehidupan.

Melihatnya sibuk, perasaanku campur aduk. Aku banyak belajar darinya selama ini, dan sekarang, ia akan pindah. Perasaanku pun menjadi entah. “Aku akan sekolah lagi.” begitu katanya ketika kutanyakan apa rencana berikutnya.

Tentu tidak ada yang salah dengan rencananya. Keputusannya untuk sekolah lagi sudah dipikirnya masak-masaknya. Temanku, seorang perempuan cerdas, tentu tidak ingin otaknya mengeras karena rutinitas. Pikirannya selalu mengalir bak air jernih, gemericik, mengiringi setiap ketuk jemarinya di papan ketik. Pikirannya lancar tertuang utuh menjadi karya yang menggugah. Bahasanya bernas, ulasannya tangkas. Entah sudah berapa jiwa yang semula layu tanpa asa, kembali mekar setelah mengeja tulisannya yang segar. Ya, tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencananya. Meski untuk mewujudkan rencana itu, ia harus mengorbankan apa yang ia miliki sekarang. Sesuatu yang sudah disusun teliti selama lima tahun. Atau.. tunggu.. tunggu, mungkin aku yang salah menduga, ia justru merasa tidak memiliki apa-apa lagi di sini?

“Aku malah senang sekali sekarang,” begitu katanya ketika kutanyakan bagaimana perasaannya menjelang kepindahannya. “Semua sudah kupersiapkan. Aku akan belajar lagi,” katanya mantap.

Separuh hidupnya kini ada dalam kardus, terselip di antara buku-buku, tergurat di atas ratusan kertas-kertas bekas yang selalu ia simpan rapi. (Ia tipe orang yang tidak pernah membuang catatan, notes, sobekan karcis pertunjukan, undangan seminar, agenda rapat, de el el) . Semuanya sudah terbungkus rapi. Dan segera akan ia bawa serta untuk kembali disusun di tampat barunya nanti. Entah apa yang ada di pikirannya, bagiku seruwet coretan pensilnya di notes hariannya. Baiklah, selamat belajar teman …  Tentu saja, aku gembira atas rencanamu itu!

 

Sekolah

Legenda

Namanya Nancy. Pembicaraan kami malam itu dimulai dari cerita seputar dirinya. Sepotong cerita yang berusia jauuuh lebih tua daripada umurnya.

Perempuan itu selalu tampak menunggu, termangu di ambang jendela. Pandangannya kosong. Menembus pepohonan di Insulindepark, melayang hingga merambahi pucuk Gunung Manglayang. Ia selalu menunggu entah. Kekasihnya atau kebenaran. Ia tak tahu mana yang akan lebih dulu menemuinya. Ternyata, maut yang menjemputnya dulu. Ya, ialah Nancy perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melemparkan diri dari ujung tangga. Namun, penantiannya menjadi tak berujung. Menurut cerita, ia akan selalu tampak menunggu. Iya, menunggu di ambang jendela itu. Tepat di lantai teratas bangunan SMA 5 Bandung. Ia sudah menunggu … mungkin selama 86 tahun. Bagi yang kebetulan melihatnya di jendela itu, sapalah.. namanya Nancy.

Obrolan kami malam itu membahas penyebab ia bunuh diri. Satu potong cerita bilang, ia memilih bunuh diri karena patah hati. Kekasihnya meninggalkannya, mungkin tewas di Perang Jawa, mungkin tenggelam di Semenanjung Pengharapan, atau malah mungkin kawin dengan perempuan lain. Namun potongan cerita yang lain menyebutkan, ia memilih mati karena diperkosa.

Cerita Nancy mengingatkanku pada sepotong kisah lain yang dituturkan oleh seorang teman, tentang seorang pejuang bangsa Afrika. Pejuang ini tertangkap oleh penguasa rezim apartheid. Sang penguasa pun menjatuhkan hukuman pada si pejuang atas dakwaan telah melanggar peraturan dan mengganggu ketentraman umum. Ada dua pilihan, disiksa dalam penjara atau mati. Dan si pejuang memilih mati. Sama seperti Nancy, kisah si pejuang selalu diceritakan berulang-ulang.

Mungkin benar. Adakalanya kematian menjadi pilihan. Bukan, bukan mati untuk mengakhiri hidup, namun mati untuk hidup kembali. Adakalanya, kematian yang justru menghidupkan nama hingga berpuluh-puluh tahun, beratus tahun, atau bahkan berabad, kemudian. Kematian yang membuat sepotong nama menjadi legenda. Dan orang-orang seperti aku – selalu penasaran dengan cerita-cerita legenda  – yang bikin legenda itu terus hidup. Paling nggak, legenda akan terus dihidup-hidupkan dalam obrolan yang nggak penting macam tulisan kayak begini. 😀

Legenda

Ramuan Persahabatan

Sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan. Itulah ramuan untuk merawat persahabatan. Sayangnya, aku sering kali kekurangan persediaan ramuan itu di ruang hatiku.

Bukannya aku tidak punya perhatian. Sering aku mengambinghitamkan rutinitas yang mengeringkan energi, mengeringkan rasa. Dan aku pun mengering layu. Semangatku yang meluap di awal tahun pun menguap entah ke mana. Aku seperti kehilangan perhatian.

Sahabat yang tepat selalu mengingatkanku bahwa merawat persahabatan itu mudah. “Yang kamu perlukan hanya sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan,” begitu kata beberapa sahabat, tentu dengan dengan gaya bicara mereka yang berbeda-beda, “dengan begitu semangatmu akan terus tergenggam”.

Ya, sepotong perhatian datang dari seorang teman lama yang bekerja di pabrik kata-kata. Sepotong perhatian itu terselip dalam surat elektroniknya. Hmm, rupanya dia menulis surat itu pagi sekali. Terlalu pagi ketika keretanya tiba di Gambir, sehingga rumah sewanya masih terkunci.

Dia pun mampir di sebuah warung bubur di sekat jalan layang perempatan Slipi. Entah apa yang ada di kepalanya, entah karena di Slipi, entah karena bubur, entah karena penjualnya orang Sunda. Yang jelas, tiba-tiba ia teringat padaku dan mengirimkan sepotong surat itu. Isinya sangat khas. Celoteh sederhana, ringan, namun mengena. Iya, mengena, karena dengan celotehannya itu aku tahu bahwa ia mengingatku. “Aku kangen sama kamu,” begitu katanya lagi dalam surat elektroniknya tadi pagi.

Ya, ya, aku selalu terkesan dengan celotehan. Apalagi jika yang melontarkan seorang teman. Rasanya hangat. Tidak melulu hal penting yang harus diobrolkan, justru hal sederhanalah yang bisa membuat pertemanan kami mengesankan.

 Lain lagi dengan seorang teman lama dari Botoran, Tulungangung sana. Gimana kabarmu?” begitu katanya setiap kali menyapaku melalui telepon genggamku. Dalam hitungan menit, ceritanya mengalir lancar. Tentang muridnya, anaknya, rumahnya, sekolahnya. Tidak selalu ceria memang, kadang sendu ketika ia menceritakan tentang kerinduannya pada cinta. Ah, apapun kisahnya, aku selalu senang mendengarkan.

Mereka, para teman lama, mengingatkan bahwa merawat persahabatan itu mudah. Hanya perlu sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan. Ya, aku belajar dari mereka.

Ramuan Persahabatan