Percaya

Apa yang terlihat di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Aku percaya itu.

Aku bertemu dengannya beberapa kali. Lelaki berumur 28 tahun ini mirip dengan gambaran orang tentang pemuda Bandung. Ramping berkulit bening. Rambutnya cepak modis dengan potongan acak asimetris. Ya, mirip-mirip dengan penyanyi band ngetop masa kinilah, semisal Republik atau Juliet (sumpah, aku bukan penggemar band ini). Ia mengenakan kaos T warna pastel yang ngepas badan lengkap dengan celana jeans yang juga body fit. Intinya adalah modis. Sesuai dengan bidang keahliannya memotong rambut. Aku bertemu dengannya di salon langgananku. Sebuah salon yang konon kabarnya menjadi ampiran anak muda Bandung yang ingin mengikuti trend gaya rambut masa kini. (Aku suka ke sini tapi lebih karena aku cocok dengan hasil karya si Aa satu ini. Beberapa bulan terakhir aku suka mempertahankan gaya rambut cepak)

Tatkala bertemu, ia selalu membuka dengan salah satu pertanyaan standar tukang salon “Mau dipotong berapa centi?” Dan kujawab dengan tak kalah standarnya, “Dirapiin aja.” Karena kami sudah beberapa kali bertemu, aku bisa menambahkan frase standar lainnya, “Kayak biasanya.” Entahlah. Mungkin itu kata pembuka yang mujarab. Dan setelah itu, obrolan pun mengalir ringan. Seperti siang tadi.

Kali ini ia memilih topik spiritual. Nggak tahu juga bagaimana juntrungannya mengapa kami akhirnya membicarakan tentang topik ini. Tiba-tiba saja ia sudah nyerocos menceritakan Sunan Kalijaga yang menurutnya tiga kali berganti raga dalam tiga masa yang berbeda. Dan di masa kini, ia meyakini Sang Sunan ada di tubuh seorang guru spiritual di Sumedang. Ciri-cirinya, sang guru punya cap kewalian di dahi dan paha kanannya. Cap yang menurutnya tidak akan hilang meski Sang Wali sudah berganti raga. Cap kewalian itu merupakan tanda lahir yang mirip dengan tulisan asma Tuhan. Dia juga bercerita bahwa ia pernah mengikuti ritual permandian di malam Jumat Kliwon saat sang guru memandikan para muridnya. Hmm… hanya beberapa detik, obrolan pun jatuh ke jurang mistik.

Mau tak mau aku pun membenturkan penampilannya yang modis dengan pemikirannya yang menurutku tak logis. Seorang Sunan, yang sudah meninggal sekitar 400 tahun lalu, bisa hidup lagi di tubuh orang yang berbeda … Tak apalah, aku pun tak boleh menyanggah. Aku kadung percaya bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Ia sudah percaya padaku dengan bercerita dan dengan begitu aku harus menghargainya. Meski ia modis, meski ia lelaki muda yang berprofesi harus mengikuti perkembangan trend anak muda masa kini, meski trend dan kepercayaan tak ada hubungannya, aku harus menerima kenyataan bahwa apa yang tampak di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Ya, ya .. Aa’ jangan keras-keras ceritanya, ntar nggak enak di denger FPI, malah nanti bisa jadi psst… pstt .. bla bla bla…

Percaya

Liburan

Aku baru saja liburan. Hmm.. ini sebetulnya obrolan yang terlambat. Sementara anak-anak di bangku sekolah sedang merancang liburan mereka di bulan Juni, aku sudah mengambil liburanku di bulan Mei lalu. Membebaskan diri dari rutinitas selama seminggu, dan bahkan sudah kembali tenggelam dalam rutinitas dalam dua minggu ini. Ya, ya.. yang penting aku sudah liburan!

Liburan buatku adalah minum teh hangat sembari mengobrol bersama ibu di belakang rumah. Itu yang kulakukan kemarin. Liburan juga berarti mendengarkan celoteh riang kemayu ala gadis cilik berusia lima tahun. Kemarin keponakan kecil ini bercerita dengan sangat bangga bahwa ia sudah bisa naik sepeda kecil merah jambu barunya. Ia tidak peduli, meski wara-wiri naik sepeda di dalam rumah.

Liburan yang cukup panjang kemarin juga berarti mendengarkan cerita kegilaan seorang adik. Adik sepupu yang hitam manis, yang betul-betul manis lima tahun lalu, kini ternyata tidak lagi manis. Rambut di dahi tergerai menutupi sebelah matanya sementara ujung-ujung rambut di kepalanya berdiri menjulang. Sama menjulang seperti badannya yang jangkung. Celana pensil kotak-kotak yang dipadukan kaos hitam yang tak kalah sempit melengkapi penampilannya. Kukunya pun dicatnya warna hitam, menghitam persis seperti baru kena jepit pintu. Tapi serasi sih, dengan kulitnya yang hitam. Ia kini bukan lagi bocah yang mengidolakan power ranges seperti yang kukenal lima thaun lalu. Ia kini lebih suka membesut gitar elektrik sembari menjajal vokal seraknya. Ya, ia sering bernyanyi. Aku sendiri belum pernah mendengarnya, tapi kupikir sama nyaring dengan nyanyian sang ibu yang tiap hari dibuat senewen oleh polahnya itu.

Liburan juga berarti bertukar cerita berlama-lama bersama teman-teman lama. Ya, kami mengobrol melewatkan malam di pantai favorit kami: Ngrenehan. Dari yang awalnya ke pantai itu bersama rombongan dalam belasan anak, kemarin kami kembali ke pantai itu hanya dalam rombongan tujuh anak. Tidak apa. Rasanya masih tetap sama. Kami berenang di pantai keesokan harinya. Niat liburan untuk bermain di pantai sampai kulit terbakar dan rambut asin bergaram berbau matahari pun kesampaian.

Dan, liburan pun kuakhiri di Stasiun Tugu. Bepergian lewat stasiun selalu terasa sendu. Entah karena apa, mungkin karena kereta, mungkin karena bangunan stasiun yang tua. Atau, mungkin karena tatapan mata teduh yang mengiringi kepergianku kali itu. Ya, ya sebuah sajak lama menderu di kepala … “Kita ini seperti sepasang rel yang menjulur beriringan namun tak pernah bertemu …” (hapalan serampangan sajak milik Eka Budianta yang kuingat di kepala)

Liburan