Kubikel Baru Warna Biru

Put mengirim pesan singkat lewat jejaring elektronik. ia mengirim foto kubikel terletak di sudut dengan jendela yang gelap. terlalu gelap sampai aku nggak bisa melihat ada apa di baliknya. tapi Put meyakinkan bahwa itu adalah bakal kursi dan mejaku. menghadap langit dan riuhnya Jakarta, begitu katanya. dan yang akan menjadi tetanggaku adalah tentu Yoh, si politikus negara gagal (makasih lho, pasti kamu sudah banyak nanggung dan njawab selama ini .. :P)

Nyess. di saat aku sedang memikirkan belantara Jakarta yang sebentar lagi bakal kusambangi lagi, jelas sapaan itu bikin adem sekaligus ngikik geli. ya, aku kangen kalian. inilah model keramahan Jakarta yang lain. sekarang aku harus membiasakan untuk bilang bahwa Jakarta adalah kota kita. suka nggak suka, ke situ juga aku akan kembaliii (lagu lawas tiba-tiba muter di kepala)

ya, Put cerita kalau ruangan kami sudah dibongkar dan dirombak. kubikel kini berwana biru langit. dan aku kebagian di satu sudut berjendela. perfecto! aku suka sudut, apalagi dengan jendela. tinggal aku tempatkan rentengan padi Cianjur aseli dan angklung kecil lawas (semoga masih ada) lengkap dengan perlengkapan simpel wedangan. sudut yang sempurna. termasuk bagi tetangga, Jek, yang hobi warungan pagi sore tapi nggak modal. ya, ya, aku siap bilang bahwa Jakarta kota kita, makarya bersama di pabrik kata-kata. tapi tunggu tunggu.  tidak terlalu cepat.. aku selesaikan dulu ribuan kata yang sedang kususun sekarang. menyambangi sebentar negeri-negeri yang jauh. dan tentu, ke Jakarta aku akan kembali. sungguh lagu lawas itu kali ini tidak terdengar sumbang.

Advertisements
Kubikel Baru Warna Biru

Usul, Jadi Pengelola Saja!

kawan sekelas yang kebanyakan dari pemerintahan setidaknya bikin aku mikir, betul nggak mudah jadi pemerintah. apalagi kalau harus ngatasi persoalan yang mbundet, nggak ketahuan mana ujung dan mana pangkalnya. tapi rasanya juga gemas. lha kok, kita nggak kunjung bisa ya bikin pemerintahan yang baik dengan aturan yang benar untuk kepentingan warga? katanya negara demokrasi, katanya desentralisasi, katanya ekonomi makro sudah stabil, mana .. manaaa… ? wew

jangan-jangan persoalannya sebetulnya sederhana. itu gara-gara kita biasa menyebut lembaga negara itu sebagai ‘pemerintah’. mari diutak atik awalan dan akhiran.  itu kan berarti orang yang memerintah. artinya, ya memang bisanya memerintah. harus begini, mari kita begitu, bersama kita begini, dan bisanya ternyata cuma segitu.

mungkin baik juga ya kalau ada usulan ke lembaga bahasa Indonesia supaya sebutan untuk institusi itu diganti kayak jaman dulu. pamong praja misalnya. tapi nanti dikira Jawanisasi. pemomong, juga sepertinya kurang tepat karena berarti menganggap masyarakat nggak pernah dewasa dan maunya di-emong saja (lha kok Jawa lagi). atau mungkin baiknya pengabdi? kesannya menghamba banget, nanti ada yang nggak terima. susah juga, karena aku memang bukan ahli bahasa yang baik dan benar. nggak tahu gimana caranya dapat kata yang biasa-biasa saja, tidak menyepelekan, tapi juga tidak menyanjung berlebihan.

tapi nggak apa, aku usul saja gimana kalau jadi sebutannya netral. ‘pengelola’. memang sih, kesannya jadi nggak berwibawa. terlalu datar, karena kita sudah terbiasa menybut kata ‘pengelola’ untuk orang yang mengelola gedung misalnya. dan memang kata itu terkesan rentan kritik. gedung rusak tinggal komplen ke pengelola. saluran macet, komplen lagi. atap bocor, komplen lagi. kurang itu ini ya komplen lagi. kalau nggak bener-bener juga, besok lagi nggak pakai pengelola yang sama. kesannya memang jadi biasa-biasa saja. nggak berlebihan. mungkin sebagai pengelola juga sikapnya jadi nggak berlebihan. nggak perlu terlalu tampil lebay kalau ternyata kinerjanya biasa-biasa aja. ya, ya, gimana kalau disebut pengelola saja? toh sebetulnya kan kerjaannya sama cuma ukurannya yang beda. satunya pengelola gedung, satunya pengelola negara. yang satu kerjaanya skala kecil, yang satunya cakupannya seluasss Sabang sampai Merauke. ya toch?

Usul, Jadi Pengelola Saja!

Ngirit tanpa Meja

sepulang mewawancara seorang birokrat, seorang kawan bercerita tentang floating desk. ceritanya membuat kami mahasiswa Indonesia takjub bin heran. kok bisa ya, kerja dua puluhan tahun tapi nggak punya ruangan sendiri.

laporannya, si bapak birokrat Landa ini punya perananan penting merumuskan kebijakan pendidikan di kota Rotterdam, menerjemahkan kebijakan pusat supaya sesuai dengan kebutuhan warga kota. desentralisasi mutrakhir membuat semua kebijakan yang menyangkut pelayanan publik diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan warga, termasuk gimana caranya cari duit untuk membiayai kebutuhan secara mandiri. untuk itu, dia musti aktif bekerja sama dengan birokrat kecamatan dan menggandeng LSM dan ormas. singkatnya, si bapak ini orang penting. makanya, heran waktu tau bahwa bapak ini tidak punya ruangan sendiri layaknya kepala-kepala penting di kantor pemerintahan di Indonesia.

rupanya, gaya berkantor semacam jamak dipakai oleh kantor pemerintah di sini. tuntutan kerja birkorat meningkat, nggak cuma jadi juru ketik di belakang meja semata, tapi harus lebih sering merapatkan barisan dengan berbagai pihak demi menggalang partisipasi publik. makanya para birkorat di sini lebih sering koordinasi dengan lokasi yang berpindah-pindah, tergantung agenda yang sedang ditangai. hari senin mungkin di sudut sana, selasa di sudut sananya lagi, trus jumat mungkin menyambangi gedung yang lain. meja jadi nggak penting, apalagi ruangan. mereka harus bisa kerja di mana saja, bisa bicara dengan siapa saja, bisa melakukan apa saja. kesannya dinamis.

tentu saja, alasan utamanya ngirit! pembuatan ruangan komplet dengan perabotannya dianggap pemborosan. apalagi jika si empunya ruangan sering nggak di ruangannya. kalau alasannya gimana caranya menaruh barang-barang pribadi, kantor-kantor itu mengatasinya dengan membuatkan lemari penyimpanan yang cukup besar untuk keperluan pribadi pegawai. tentu saja nggak bakalan cukup kalau untuk menumpuk barang hingga berhari-hari bahkan bertahun-tahun. ruangan juga dinilai nggak efektif karena membuat orang jadi terpaku pada tempat ketimbang kerjaannya. apalagi, birokrat namanya civil servant. jelas dia adalah pelayan masyarakat yang harus sigap tanggap beraksi mengatasi persoalan masyarakat. tentu nggak dari belakang meja.

kalo begini kan nggak perlu ada pengadaan barang dan jasa berlebihan hanya buat perabotan. dan nggak perlu juga itu Senayan ribut-ribut minta gedung baru. bukan karena nggak hormat, bukaan. alasannya memang cuma satu. ngirit.

Ngirit tanpa Meja