Perfecte Krul

Iklan yang memasang wajah manis seorang mbak berambut warna cokelat keriting itu bikin penasaran. si mbak tampil begitu percaya diri. senyumnya mengembang, semegar rambutnya yang bak singa kruwil. di dekat mukanya terpajang beberapa botol perawatan rambut dengan keterangan menggoda: perfecte krul.

wow..!

itu memang iklan sebuah merek perawatan rambut, mulai dari sampo, conditioner, vitamin, dan krim pelembab. gara-gara iklan itu, aku bela-belain cari waktu senggang untuk ke Kruidvart, swalayan retail yang spesialisasinya menjual produk farmasi, perawatan kecantikan dan perawatan kesehatan. di sini cantik identik dengan sehat, jadi harap maklum kalau produk perawatan seperti itu nggak bakal ditemui di toko swalayan umumnya. mengayuh sepeda juga musti gesit. mencari sela di tengah padatnya jadwal kampus yang baru selesai jam lima sore. padahal, jam segitu pula toko-toko di sini mulai berkemas. dan teng jam enam malem, nggak ada lagi yang buka (gini nih negara maju? ckckckck)

sesampainya di Kruidvart, produk perawatan rambut ternyata memang beraneka. rak empat tingkat dipenuhi produk dengan berbagai merek, jenis dan harga. ada yang untuk rambut supaya bervolume sempurna, lurus sempurna, warna sempurna, njigrak sempurna. ini sempurnaaaa… sampai-sampai perlu sekitar 10 menit untuk menemukan yang aku cari. ah, akhirnya aku menemukan si kruwel sempurna. hampir salah ambil dengan bervolume sempurna karena kemasannya sama persis. masing-masing cuma dibedakan oleh tulisannya. aku mengambil satu pelembab bertuliskan krul control creme. setelah mencermati, ternyata itu bikinan unilever. hmm, rasa-rasanya makin tegas kalau aku memang generasi Indonesia yang tumbuh bersama unilever.

konsepnya ternyata sama. di negara asalnya, unilever dikenal sebagai produk ritual sehari-hari menyasar keluarga kebanyakan. tapi ada yang beda. kalau dipikir, negara kapitalis mutakhir sungguh mencengangkan. seperti nggak pernah kehabisan strategi menjaring pangsa pasar. dan strateginya kali ini jitu sekali. membuatku tiba-tiba merasa membutuhkan produk itu. kita-kira kalau produk itu masuk ke Indonesia bakal laku gak ya, mengingat iklan produk perawatan rambut di kita adanya cuma untuk rambut hitam lurus dan ketombean?

Advertisements
Perfecte Krul

Sabtu Sial dan Ban Perancis

Kalau saja aku tahu informasi ini sebelumnya, mungkin aku nggak akan beli sepeda yang sekarang kupakai. Merepotkan. Aku membelinya dari kakak angkatan dengan sistem informasi dari mulut ke kuping. Deal. Sepeda mini dengan tas pannier seperti punya pak pos di boncengan belakangnya bikin aku kesengsem sejak fotonya dilayangkan melalui surat elektronik.

Uzur dan kekerapan gelindingan roda dari hari ke hari membuat ban belakang pun menyerah. Kempes di hari Sabtu yang sial. Pinjaman sejumlah pompa dari sana sini ternyata nggak berhasil menggembungkan ban sepedaku. Ternyata, ada dua masalah. Selain ukuran pentil nggak cocok degan pompa, ban dalam ternyata robek.

Aku baru tahu kalau Belanda dan Perancis sungguh-sungguh serius membedakan produk industrinya. Saking seriusnya, pentil ban dalam pun dibuat tidak sama ukurannya. Bikinan Perancis berukuran kecil mirip seperti ujung logam isi pulpen Pilot. Sementara buatan Belanda berukuran besar, sedikit sedikit lebih kecil dari batere AAA. Perbedaan yang merepotkan! Tidak sembarang pompa yang beredar di pasar Rotterdam bisa dipakai untuk meniupkan angin ke ban dalam produksi Perancis. Sial! Ban dalam sepedaku ternyata bikinan Perancis.

Mau tak mau aku menguji ketrampilan pas-pasan bongkar sepeda demi menyelamatkan puluhan Euro. Rasanya nggak rela kalau harus membayar jasa tukang tambal ban dengan harga puluhan ribu rupiah. Hup. Ban dalam yang koyak pun sudah tergulung dan kubawa ke pasar dadakan, Blaak Markt. Seluruh kios onderdil sepeda yang kudatangi tidak memberikan solusi. Tapi, mereka membawa informasi penting: ban dalam sepedaku adalah buatan Perancis dan di pasar itu tidak ada yang menjual pompa untuk itu!

Aku menyerah. Untunglah ukuran ban sepedaku masih standar Belanda. Akhirnya kuganti dengan ban dalam buatan Belanda yang lebih toleran dengan berbagai jenis pompa, termasuk pompa kecil yang kubawa dari Jakarta. Beruntung, ada dua handyman yang sigap membantu memasangkan ban. Yak! Pada Sabtu sore yang sial itu, sepedaku menggelinding lagi di jalanan. Mendadak, suara Freddie Mercury yang beraksen British itu terngiang.. I want to ride my bicycle, I want to ride my bikeeeeeeee! Hmm, pentil ban dalam sepeda buatan Inggris seperti apa ya?

Sabtu Sial dan Ban Perancis

Bandung itu lutju #3: The Art of Doing Nothing

Sudah baca novel Eat Pray Love? Si tokoh, Elizabeth belajar the art of doing nothing dari orang Itali. Dia pasti belum tahu kalau dia bisa melakukan hal yang sama di Bandung.

Dalam film, Elizabeth diperankan oleh Julia Robert, artis berambut kruwil berwajah enak dilihat. Ia perlu usaha ekstra untuk bisa menikmati hari dengan berjalan-jalan di trotoar, ngobrol ngalor-ngidul, mengudap sore hari, duduk-duduk di taman. Mungkin kalau si Elizabeth itu bukan orang Manhattan, tapi orang Bandung, kayaknya kok nggak perlu jauh-jauh ke Itali buat belajar the art of doing nothing. Di Bandung, itu bisa bangeeet. Sepanjang hari di kota ini bisa bersantai seolah nggak ada masalah. Dan yang penting, banyak tempat bisa didatangi dalam satu hari berwisata kota.

Di jantung Bandung (baca: Gasibu dan sekitarnya) itu asik. Di mana lagi bisa jalan kaki mengukur jalanan dengan nyaman. Ehm, memang trotoar nggak lagi utuh, tapi setidaknya pepohonan jadi payung teduh sepanjang jalan. Dari taman cilaki, gasibu, seputaran jalan dago bawah, jalan riau atas, kalau mau bisa dijangkau dengan jalan kaki. Nggak usah ngapa-ngapin. Nongkrong di taman sambil ngemil gorengan dan es potong itu juga udah asik.

Betapa orang Bandung sangat paham seni nggak ngapa-ngapain juga kelihatan di riuhnya Pasar tiban di Lapang Gasibu tiap hari Minggu dari jam 5 sampai 11 pagi. Lokasi pasar membentang, dari depan Gedung Sate, sampai di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Jualannya sagala aya, dari yang penting sampai nggak penting: oblong, celana pendek, kaos kaki, jajanan, makanan, celemek, keset, kaset, macem-macem. Harganya miring, semiring-miringnya tergantung kepiawaian menawar harga.

Seringnya, orang datang ke sana tujuan utamanya untuk lihat-lihat dulu, kalau-kalau ada barang dengan mode terbaru. Soalnya, kalau nekad langsung cari barang A, B, atau C, orang harus sabar dan siap kecewa. Ada kalanya si pedagang nggak buka lapak atau kalaupun buka, lapaknya sering berpindah-pindah di radius 20-an meter. Saking padat dan ramainya lokasi pasar tiban, orang musti ingat betul-betul ancer-ancer lokasi lapak kesayangannya. Ini penting, daripada kesel nyari tempat idola nggak ketemu-ketemu.

Makanya, satu syarat penting the art of doing nothing di Bandung adalah tidak tergesa-gesa. Dengan kata lain, ini adalah seni menikmati berjalan kaki – atau bersepeda santai – yang nggak kemrungsung dan nggak mengejar harus. Sama sekali nggak disarankan bawa mobil roda empat apalagi lebih. Waah,bisa-bisa nggak nyeni lagi karena jadi emosi.

Hal yang nggak nyeni sama sekali di Bandung adalah keruwetan lalulintas. Ini sama ruwetnya dengan hidup orang-orang Jakarta yang sukanya bikin macet Bandung di ujung minggu. Memang, berwisata kota di Bandung itu asik. Cukup satu dua hari di Bandung bisa bikin pikiran segar kembali.

Sebagai warga Jakarta anyaran, aku sudah membuktikan jurus jitu itu. Eits, tapi aku nggak bikin macet. Karena tujuanku wisata kota, cukuplah jalan kaki atau ngangkot. Toh, aku nggak perlu belanja belanji di setiabudi atau ngadem di Lembang atau ngemil di Dago pakar. Mendengarkan koor tonggeret di bawah pepohonan taman Cilaki, itu sudah cukup.. Bonus kalau pas jalan, dapet kudapan anyar yang penuh inovasi ala Bandung..

Bandung itu lutju #3: The Art of Doing Nothing

Pasar Bubrah

Pasar Guyub Makaryo mau dibubrah. Kabar itu bikin geger.

“Bener itu Yu, pasar kita mau dibubrah?” tanya Mbok Rin dengan nafas sengal-sengal. Badannya masih gobyos keringat. Dia baru saja ngepit dari rumah. Buru-buru nyelehke onthel, tanpa minum dan menghela nafas, langsung njujug ke lapak Yu Nik.

“Iya, dibubrah. Tapi trus katanya di pindah ke belakang kantor kawedanan.” kata Yu Nik sambil tetep sibuk mbungkusi klepon.

“Kok dipindah segala tho? Aku kalo mau beli-beli jadi ngepit jauh!”  Mbok Rin ngungun. Rambutnya mawut, jariknya kisut. Mukanya juga berkerut-merut mrengut. Mbok Rin sudah lama jadi langganan penganan dan kletikan bikinan Yu Nik. Biasanya Mbok Rin kulakan banyak-banyak untuk dijual lagi di warungnya di desa sebelah. Warta pasar bubrah bikin dia resah.

Kalau pasar benar mau dipindah ke pusat kawedanan, jelas bikin gelo warga Desa Guyub Rukun. Pasar Guyub Makaryo adalah pasar paling besar dan paling komplet di desa itu. Tapi gelo itu bukan soal transaksi dagang semata.

Pedagangnya semanak ramah-ramah, pembelinya juga juga sumedulur menganggap semua orang pasar adalah saudaranya, mulai dari bakul, tukang angkut, tukang kredit, tukang parkir, tukang sapu, sampe tukang ngupasi krambil dan ngirisi brambang.

Pasar Guyub Makaryo sudah jadi tempat ngopi dan ngobrol. Tempat curhat. Segala info beredar di situ, mulai dari harga tomat mutu ABC, kentang mutu sedang dan bawang gondol, sampai kabar kabur macam si anu mau nikah lagi atau si tea punya srimbitan anyar.

Tapi warta yang beredar juga sesekali bisa ikut menentukan nasib seluruh warga desa. Misalnya, orang-orang penting yang mau nyalon jadi kades, pasti menggilir datang ke pasar. Sengaja giliran biar ekslusip, nggak perlu antre buat nanya-nanya. Padahal, pertanyaannya mirip-mirip, gak  jauh-jauh dari pasokan beras lancar atau nggak ke Lik Di juragan beras, bangunan pasar ada kerusakan apa nggak ke Den Cokro petugas retribusi, atau harga sayur murah atau mahal ke Mbak Wi bakul sayur partai besar.

Makanya, kabar pasar mau dibubrah jelas nggriseni. Semua warga desa sudah membahas kabar itu di mana-mana.

“Woo lah, beneran itu, Pak Rik, kalau pasar kita mau dipindah?” tanya hansip desa pada Pak Carik.

“Ya begitu kabarnya, pak. Saya juga belum tahu pasti.” jawab Pak Carik ramah.

“Lha alasane opo?” sela Yu Jum bakul jamu gak sabaran.

Kang No tukang jagal ikutan nimbrung, “Kalau dipindah kami dibikinin tempat lagi nggak?”

Sore itu, warga desa sengaja mencegat Pak Carik di dekat pengkolan pasar. Biasanya, pasar jam segini juga udah sepi. Tinggal warung kelontong di muka pasar saja yang buka. Tapi, sore ini jelas luar biasa. Warga desa memilih duduk kelekaran di depan warung Mbak Nah yang persis berdiri di pinggir jalan untuk nunggu Pak Carik yang selalu lewat di jalan itu jam empat sore.

“Sabar sodara-sodara. Wacana itu memang ada. Tapi kepastiannya masih nunggu keputusan.”

“Nunggu apa? Saya jadi ragu-ragu mau nambah dagangan lagi.” kata Kang No.

“Sapa yang mutusin? Apa kalau pada rapat dicatetin apa nggak sih?” seru yang lain

“Kok kemaren pak Kades nggak nyinggung-nyinggung ya pas kerja bakti,” kata yang lainnya lagi.

“Katanya nanti di sana nggak dibikinken warung lagi ya? sanggah yang lain manas-manasi.

Orang-orang mulai sahut menyahut ribut seperti kawanan meri rebutan pakan. Pak Carik mulai panik. Untunglah, suara merdu Mardomo takmir masjid sudah melantunkan adzan maghrib. Pak Carik merasa terselamatkan.

“Monggo, itu sudah magrib. Saya harus pulang dulu. Sodara-sodara kan ya juga capek to? Monggo besok dilanjutkan lagi ngobrol-ngobrolnya.”

Ajaib. Ajakan itu bikin orang-orang manut. Seperti ayam pulang kandang, warga yang tadi ribut berangsur sepi. Mereka membubarkan diri bergegas pulang ke rumah masing-masing. Hari memang mulai surup. Matahari yang tadi menyengat kini sudah angslup.

Nggak apa kalau hari ini blum ada kepastian. Toh, besok juga bisa ditanyakan lagi, begitu pikiran orang-orang senja hari itu.

Pasar Bubrah

Manis, tapi Jual Mahal

Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.

Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.

Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!

Tapi, ono rego ono rupo. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran – ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan – harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.

Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.

+ Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu!

Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak. (dengan rayuan semanis mangga tentu saja)

Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?

Manis, tapi Jual Mahal