Pagar Generasi Pra-Twitter

Jagongan di rumah Pak Tam membuatku mikir kalau Twitter memperumit kebiasaan kita berkomunikasi. Situs jejaring sosial yang menautkan cuitan-cuitan kabar itu sukses mempopulerkan tanda baca yang sebelumnya jarang dipakai: tanda pagar /#/ alias hashtag!

Di Twitter, orang menggunakan tanda pagar untuk membuat kategori cuitan.Tanda pagar adalah kode dalam dunia metadata. Suatu kata yang diberi tanda pagar, otomatis akan menjadi kata kunci. Kata bertanda pagar bisa ditaruh di depan, di tengah, atau di akhir kalimat. Tanda pagar membuat kata kunci mudah dicari dan ditelusuri. Maka, orang yang ingin eksis di dunia maya akan membuat sebanyak-banyaknya kata kunci dengan menaburkan banyak tanda /#/ dalam kalimatnya. Dengan begitu, peluang membuat  trending topics yang cuitannya diakses buaanyak orang semakin terbuka lebar.

Tanda /#/ sebetulnya juga dipakai di sejumlah jejaring sosial lainnya, seperti Instagram, Tout, Tumblr, Flickr. Jauh sebelum Twitter ngetop, tanda itu juga sudah nangkring di papan ketik. Dalam bahasa program, tanda /#/ dipakai untuk memisahkan pesan demi pesan. Dulu mbak Veronika dalam voice massage operator telepon seluler juga sering bilang, “tekan pagar untuk meninggalkan pesan”. Operator juga sering memanfaatkan tanda /#/ untuk bahasa sistem pengisian pulsa. Dalam kartu isi ulang pulsa tertera cara mengisi pulsa yakni memasukkan kombinasi sejumlah nomor didahului dengan tanda bintang /*/ dan diakhiri dengan tanda /#/. Tapi, bagiku tidak ada yang begitu revolusioner memperkenalkan tanda pagar sebagai bagian dari simbol berkomunikasi seperti halnya Twitter. Dalam opiniku, Twitter lah yang membuat banyak orang ngeh terhadap keberadaan tanda pagar.

Tapi Pak Tam mengubah pandanganku tentang tanda pagar. Lelaki berusia sekitar 40-an tahun itu adalah seorang yang berpikir sederhana dan bertindak mulia. Sehari-hari bertani dan mengajar mengaji. Kehidupannya tidak akan jauh-jauh dari pekarangan rumahnya, sawahnya, dan langgar. Rumahnya yang di ketinggian Dusun Pringapus, Desa Sambungrejo, Grabag, Magelang ini tampaknya berperan besar dalam menciptakan alam pikirannya menjadi begitu damai dan jauh dari ambisi apapun. Dari beranda rumahnya, kita bisa melihat jelas puncak Gunung Telomoyo, yang menurutnya jarak ke puncaknya hanya tinggal belasan kilometer lagi.

Latar belakang itulah pangkal keruwetan berkomunikasi antara aku dan Pak Tam. Ia betul-betul menguji kemampuanku dalam menjelaskan peran tanda pagar dalam proses alur data. Pak Tam diminta mengirimkan pesan singkat dengan format tertentu yang bisa diterima oleh sistem komputer. Format itu menyertakan sejumlah tanda pagar supaya data bisa diterima oleh sistem secara lengkap dan otomatis sudah terpilah-pilah. Aku, dengan kerenyahan bahasa yang sudah distandarisasi melalui panduan customer delight, menjelaskan panjang lebar mengenai pesan singkat tersebut: mulai dari menunjukkan format, menerangkan apa saja isinya, hingga kapan pengirimannya. Tapi, di akhir penjelasan, Pak Tam membuatku mati kutu. Pertanyaannya singkat namun menyayat. “Tanda pagar itu apa? Di mana tempatnya?” Pak Tam ternyata TIDAK mengenal tanda pagar…  Dan Slaaaps. Sesaat, aku kehilangan kata-kata. Cunthel.

Ya ya, komunikasi kami ternyata belum berada di frekuensi yang sama. Masih ada tiga bahasa di antara kami: bahasa yang kugunakan, bahasanya Pak Tam, dan bahasa si komputer yang terbatas kosakatanya itu. Keruwetan makin menjadi dengan sarana papan ketik di ponsel Pak Tam yang terlihat masih menggunakan teknologi jauh sebelum Twitter diluncurkan oleh penciptanya yang ganteng Jack Dosey tahun 2006. Jalan pintas pun digunakan. Kosakata yang pantang dikatakan pun akhirnya keluar..”pokoknya”.

Pokoknya pakai pager, Pak. Menawi mboten, komputere mboten saged nampi.

Selama ini, Pak Tam menggunakan telepon genggam sesuai dengan fungsi sejatinya: mengirim pesan singkat atau menelepon kerabat dan sahabat yang tinggal jauh di sana. Sehabis kata pamungkas “pokoknya” itu terlontar, aku agak menyesal karena membuat Pak Tam terpaksa mengenal tanda pagar. Ia jadi mengenal cara berkomunikasi yang ganjil dan wagu: mengirim pesan mekanik kepada barang, kepada sistem, kepada dunia yang maya, kepada entah. Tanda pagar bagi Pak Tam bukan revolusi berkomunikasi tapi justru memagari inti komunikasi sejati, yang seharusnya berbicara dengan sentuhan personal yang menyapa, pada kerabat, pada sahabat.

Setuju sama Njenengan, Pak! … tanda pagar itu apa??

Pagar Generasi Pra-Twitter

Magelang Siesta!

Seorang kawan bilang, bahwa paling enak punya toko kelontong di Magelang. Kerja tidak ngoyo dan bisa siesta, tidur-tidur siang sebentar setelah makan siang. Buka toko lagi sore harinya dan tak lama kemudian tutup lagi ketika hari belum terlalu larut. Nyaman.

Mungkin benar kata kawan itu. Jalan Jenderal Sudirman yang banyak toko kelontong, toko oleh-oleh dan warung makan jadul itu sering terlihat lengang. Padahal, aku lewat juga nggak sore-sore amat, sekitar jam lima sore. Di seputaran Akmil yang masih rungkut dengan pepohonan juga begitu. Entah karena orang sungkan bawa kendaraan ngebut di wilayah militer, atau memang nggak banyak yang melintas. Agak ramai ya hanya di sekitar alun-alun dan pertokoan di jalan Tidar dan Jalan Pemuda. Selebihnya, senyap.

Tiga hari di Magelang, rasanya seperti sudah seminggu. Bukan karena bosan, tapi memang sehari di sini serasa 28 jam, panjang. Hidup tidak diburu waktu, dan orang tidak akan babak belur dihajar rutinitas. Apalagi, hujan turun hampir setiap hari, membuat udara kota di kaki Gunung Tidar ini sungguh nyaman untuk .. siesta, ngeteh di rumah, atau apapun asalkan tidak berkeliaran di jalan.

Makanya, agak ganjil rasanya melihat kota dengan ritme alon-alon ini punya mal yang besar dan gemerlap seperti Artos. Awalnya, aku pikir nama itu dari bahasa Jawa yang berarti uang. Penamaan sederhana seperti pada toko-toko jadul, semacam arto moro atau sudi mampir. Ternyata Artos itu adalah Armada Town Square. Cool. Mal berusia dua tahun ini bersisian dengan hotel bintang 4 plus dari jaringan Aerowisata yang baru dibuka akhir tahun 2012. Keseluruhan kompleks Artos ini berukuran jumbo untuk kota yang hanya seluas 18,12 km2. Luas kota ini hanya sekitar separuh dari luas tetangganya, Kota Yogyakarta, yang juga dikenal kecil itu.

Suka tidak suka, kompleks Artos memang mengubah wajah Magelang siesta yang ngantukan. Mau bagaimana lagi. Sebuah kota akan mau siesta berlama-lama kalau toh resep belanja sampai gempor di mal yang gemerlap diyakini mampu melecut transaksi ekonomi yang jauh lebih pesat. Tidak penting lagi apakah tata kota menjadi agak wagu dengan mal yang beradu besar dengan Gunung “mungil” Tidar di seberangnya.

Dan aku ternyata menikmatinya. Di hari ketiga, aku menukar tempat menginap, dari hotel senyap di lembah Progo ke hotel riuh di mal. Tidak tahan, berlama-lama di tempat yang terlalu sunyi sendirian. Apalagi, ketika kabut turun dan yang didengar hanya arus deras sungai sepanjang malam. Akhirnya, aku memilih bergabung dalam keriuhan di pinggir Kota Magelang. Tapi lain waktu, aku pasti menikmati siesta yang sebenarnya di Magelang.

Magelang Siesta!