Kereta Dari Bandung

Kereta Turangga singgah lepas jam sembilan malam. Aku menunggunya pada sebuah stasiun kecil di kota para menak. Deru roda besi beradu besi memecah sunyi. Selebihnya lengang. Aku mencoba tenang, meninggalkan kota dengan kenangan yang mengambang.

Kereta Turangga singgah saat kota hampir lelap. Wajah lelah menggulung orang-orang di stasiun. Peron yang berjelaga, masinis yang terjaga, dan lonceng yang selalu siaga. Aku terselip dalam gerbong yang selalu bergoyang. Kenangan mengambang di udara, ekornya tersangkut di tiang listrik tepian rel.

Kereta Turangga bergerak perlahan. Sesaat, lampu-lampu di kota berkejaran. Selebihnya malam rapat membungkus mimpi para menak, untuk dibuka kembali menjadi ceritera esok hari. Aku terduduk di tengah kursi-kursi rapi, memeluk mimpi siang tadi. Kenangan terus mengambang, menempel di jendela.

Kereta Turangga singgah lepas jam sembilan malam. Datang dari Bandung, tiba di kota para menak, untukku, untuk mereka. Tapi rasanya hanya khusus menjemputku. Datang dari Bandung. Ah, aku terlalu rindu Bandung …

Kereta Dari Bandung

Stasiun

Ya, benar katamu. Perjalanan yang diawali pun diakhiri pada sebuah stasiun lebih mengesankan. Aku masih ingat, bagaimana kamu merawat ingatan tentang stasiun-stasiun kecil yang sudah ditinggalkan.

“Lihat, itu bekas stasiun,” katamu pada sepenggal ruas jalan. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku memastikan. Dan, ingatanmu pun menjulur dalam ruang kepalaku. “Bentuknya kotak memanjang, di situ bekas ruang tunggu, dan kita menginjak bekas relnya.” Ah, aku lebih suka mengingatmu ketimbang stasiun-stasiun itu.

Tapi aku setuju denganmu. Selalu ada potongan-potongan ingatan yang tercecer di stasiun. Dan sepotong itu adalah kamu. Mungkin benar, ratusan tahun lagi stasiun yang pernah kita kagumi itu hanya berupa tumpukan batu, yang kemudian kita buru, hanya untuk merawat ingatan tentang masa lalu. Stasiun itu adalah kamu, yang berdiri pada sejumlah simpul perjalanan, kadang keretaku berhenti, namun sering keretaku laju tak mampir padamu.

Ya sudahlah. Kataku, tak penting apakah kita akan berjumpa pada sebuah stasiun, lagi, kelak, suatu ketika pada kota yang sama atau berbeda. Tanpa kau meminta, sepotong ingatan sudah kulipat dan kuselipkan dalam ranselku. Tapi aku memintamu, merawat kain biru milikku, seperti aku merawat ingatan tentangmu …

Stasiun

Liburan

Aku baru saja liburan. Hmm.. ini sebetulnya obrolan yang terlambat. Sementara anak-anak di bangku sekolah sedang merancang liburan mereka di bulan Juni, aku sudah mengambil liburanku di bulan Mei lalu. Membebaskan diri dari rutinitas selama seminggu, dan bahkan sudah kembali tenggelam dalam rutinitas dalam dua minggu ini. Ya, ya.. yang penting aku sudah liburan!

Liburan buatku adalah minum teh hangat sembari mengobrol bersama ibu di belakang rumah. Itu yang kulakukan kemarin. Liburan juga berarti mendengarkan celoteh riang kemayu ala gadis cilik berusia lima tahun. Kemarin keponakan kecil ini bercerita dengan sangat bangga bahwa ia sudah bisa naik sepeda kecil merah jambu barunya. Ia tidak peduli, meski wara-wiri naik sepeda di dalam rumah.

Liburan yang cukup panjang kemarin juga berarti mendengarkan cerita kegilaan seorang adik. Adik sepupu yang hitam manis, yang betul-betul manis lima tahun lalu, kini ternyata tidak lagi manis. Rambut di dahi tergerai menutupi sebelah matanya sementara ujung-ujung rambut di kepalanya berdiri menjulang. Sama menjulang seperti badannya yang jangkung. Celana pensil kotak-kotak yang dipadukan kaos hitam yang tak kalah sempit melengkapi penampilannya. Kukunya pun dicatnya warna hitam, menghitam persis seperti baru kena jepit pintu. Tapi serasi sih, dengan kulitnya yang hitam. Ia kini bukan lagi bocah yang mengidolakan power ranges seperti yang kukenal lima thaun lalu. Ia kini lebih suka membesut gitar elektrik sembari menjajal vokal seraknya. Ya, ia sering bernyanyi. Aku sendiri belum pernah mendengarnya, tapi kupikir sama nyaring dengan nyanyian sang ibu yang tiap hari dibuat senewen oleh polahnya itu.

Liburan juga berarti bertukar cerita berlama-lama bersama teman-teman lama. Ya, kami mengobrol melewatkan malam di pantai favorit kami: Ngrenehan. Dari yang awalnya ke pantai itu bersama rombongan dalam belasan anak, kemarin kami kembali ke pantai itu hanya dalam rombongan tujuh anak. Tidak apa. Rasanya masih tetap sama. Kami berenang di pantai keesokan harinya. Niat liburan untuk bermain di pantai sampai kulit terbakar dan rambut asin bergaram berbau matahari pun kesampaian.

Dan, liburan pun kuakhiri di Stasiun Tugu. Bepergian lewat stasiun selalu terasa sendu. Entah karena apa, mungkin karena kereta, mungkin karena bangunan stasiun yang tua. Atau, mungkin karena tatapan mata teduh yang mengiringi kepergianku kali itu. Ya, ya sebuah sajak lama menderu di kepala … “Kita ini seperti sepasang rel yang menjulur beriringan namun tak pernah bertemu …” (hapalan serampangan sajak milik Eka Budianta yang kuingat di kepala)

Liburan