kopi

Beberapa hari lalu, aku dan seorang teman membuat perdebatan kecil tentang efek kopi. Teman ini mengeluhkan efek secangkir kopi yang baru saja dia minum. “Aku menjadi mellow, nggak stabil,” begitu katanya. Ya tentu saja, keluhannya itu membuatku ngakak.

“Nggak masuk akal.” Komentarku itu pun bikin dia makin ngotot menjelaskan bahwa kopi membuat sistem syaraf tubuhnya menjadi buyar, tidak stabil, dan menggiringnya untuk memikirkan hal-hal yang sentimentil. Perasaan tidak nyaman itu bercokol hingga dua hari lamanya. (Ah, itu sih dasar kamu aja yang melankolis!)

Tapi pembicaraan kami itu ternyata menghasilkan satu kesimpulan penting. Efek kopi ternyata bisa di luar dugaan.  Kalau bagiku menenangkan, maka bagi yang lain bisa berarti mengacaukan pertahanan tubuh. Paling tidak, membuat seseorang menjadi rileks meski sedang membongkar hatinya, dan mengurai kembali jahitan-jahitan luka hatinya.  

Ini terbukti pada dua teman yang lain, di waktu yang lain lagi. Dengan kopi, dua orang teman yang sedang mengidap luka cinta pun berbagi cerita. Satunya, seorang lelaki yang muram. Ia bilang bahwa sudah empat kali perempuan yang dikasihinya mengkhianatinya. Dan kedua, perempuan yang mengaku sudah memberikan seluruh hatinya pada seorang lelaki, hingga ia pun rela membagi lelakinya itu dengan perempuan lain.

Entah berapa tahun keduanya bertahan dengan perasaan mereka. Perasaan yang entah. Hanya satu yang aku tahu pasti, ada luka yang masih basah di situ. Dan akan selalu basah jika bukan mereka sendiri yang mengeringkannya.

Karena kopi yang kami hirup, atau mungkin juga karena udara pekat persahabatan, kami pun merasa dekat. Berbagi cerita yang tidak pernah kami bagi sebelumnya. Berharap, bisa berbagi hangat untuk membangunkan kembali semangat.  

Ya.. ya.. hati kami benar menjadi hangat. Cerita di warung kopi pun berlanjut. Kami pun melanjutkan obrolan kami di pantai berharap bisa menyapa matahari.

Tiba-tiba ada sebuah lagu di kepalaku.

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan.Tapi kita juga pernah duduk bermahkota. Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata. Dicumbui harumnya putik-putik bunga. Putik impian yang membawa kita lupa …. (Pas Band)

PS: My dear friends.. ayo kita cari lagi pucuk-pucuk mimpi kita!

kopi

Aroma

Ia menyebut dirinya dengan sebutan papa. Setiap kali bercerita, tak pernah sekalipun ia menyebut dirinya dengan kata ganti saya. Entahlah, mungkin untuk mendekatkan orang padanya, atau ia jsutru terlalu baik dan menganggap setiap orang adalah anaknya.

Papa orang yang senang bercerita. Ia tidak pelit membagi pengetahuannya. Umurnya kutaksir sudah lebih dari setengah abad. Dan itu membuatnya menjadi orang yang paham betul tentang kehidupan. Satu topik yang paling disenanginya, kopi.

Pengetahuannya tentang kopi sungguh luar biasa.

Ia tahu betul bagaimana memilih biji kopi yang baik. Ia datangkan berkarung-karung biji kopi dari penjuru perkebunan kopi di nusantara, mulai Aceh, Jawa, Bali, hingga Toraja. Mana yang arabika, mana yang robusta, hanya dengan meraba dan mengendus, ia tahu bagaimana membedakannya.

Ia memperlakukan biji kopi dengan istimewa. Disimpannya berkarung-karung biji kopi itu di gudang tokonya. Itulah gudang hartanya. Lihatlah tumpukan debu dan pintalan sarang laba-laba yang berjuntai-juntai di permukaan karung. Ratusan karung itu memang sebagian besar sudah hampir delapan tahun ditimbun. Ya harus benar-benar delapan tahun. “Supaya aroma dan rasanya keluar,” begitu alasannya.Ia hanya akan mengolah biji kopi yang sudah berumur delapan tahun untuk dijadikan bubuk kopi nan harum.

Tak hanya memamerkan gudang harta, papa juga membanggakan pabrik kecilnya yang sesak. Tumpukan kayu bakar berjejeran dengan belasan drum berisi bubuk kopi. Tak jauh dari situ, terdapat tungku besar untuk menyangrai biji kopi. Terdapat pahatan angka 1936 di dinding tungku besar itu, menandakan awal mula tungku itu beroperasi.

Di parbik kecilnya itu, papa menghabiskan waktu sepanjang hari. Memeriksa tumpukan biji kopi di gudang, mengeluarkannya sedikit demi sedikit, menyangrai biji kopi dalam tungku bermesin khusus dan kemudian menggilingnya menjadi bubuk kopi yang beraroma harum.

Ia sudah melakukan itu seperti yang ayahnya dulu lakukan. Sebuah sepeda tua tergantung di atas pabrik kecilnya. Sebuah sepeda kuno yang dulu sering ia pakai bersama ayahnya. Ya, papa adalah generasi kedua keluarga kopi itu. Di tangannya, tungku di pabrik kecil di sudut Jalan Banceuy itu terus menyala dan menghasilkan bubuk kopi yang beraroma.

Aroma

Imajinasi

Katanya, pertama kali yang harus dicari dari sebuah kota adalah senja. Begitu kamu bisa menikmati senja, maka segera kamu akan mencintai kota itu. Aku sudah menemukan senja itu, dan rasanya aku bisa mulai mencintai kota ini. Yang kubutuhkan adalah imajinasi …

Sabtu sore. Aku dan beberapa teman memang sengaja berburu senja di Jakarta. Kami berhasil menemukannya di ujung utara kota: di antara jejalan kios pasar, di sela-sela jejeran perahu. Kami menemukan matahari oranye tersangkut di atap-atap seng permukiman padat Penjaringan, Jakarta Utara. Ya, senja itu kami tangkap di teluk Jakarta, tepat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa. Baiklah, katakan kalau imajinasiku terlalu berlebihan. Tapi mungkin inilah ujung kota yang menggetarkan. Lupakan jalanan Jakarta yang padat menyebalkan. Dan lupakan wajah-wajah tak ramah yang dipojokkan nasib di sudut kota. Turun dari bus transjakarta di depan Stasiun Kota, nikmati saja sajian pesona kota lama Jakarta lengkap dengan gurat-gurat ketuaannya.

Yang perlu dilakukan adalah berimajinasi. Dan sudut terbaik untuk itu ada di Sunda Kelapa. Pelabuhan yang sudah kesohor sejak abad ke-12 di masa Kerajaan Sunda ini pastilah dulu sangat indah. Harum rempah-rempah, cengkih, kopi, pala, lada duluuu.. pastilah menguar di udara. Duluuu.. di kanan kiri jalan pastilah orang dari berbagai bangsa sibuk berdagang keramik-keramik cantik, sutera lembut bertumpuk-tumpuk, anggur, kuda… Dan begitu kesohornya hingga pastilah sudah beribu prajurit mati berebut teluk ini, Demak, Cirebon, Portugis, Belanda.

Ya, Belanda. Sungguh lama bangsa satu ini menguasai Sunda Kelapa, lebih dari 300 tahun. Nggak heran, peradabannya hingga kini masih terjejak meski tidak lagi sempurna. Benteng, gudang VOC, bengkel dan galangan kapal, kanal Kali Besar, jembatan merah, balai kota, adalah sejumlah napak tilas peradaban sekaligus monumen ketamakan. Abad 17 adalah puncak keemasan Sunda Kelapa, sebelum akhirnya pelabuhan ini menjadi terlalu dangkal dan sebelum akhirnya pelabuhan ini digantikan Tanjung Priok.

Berburulah senja di Sunda Kelapa. Sediakan waktu untuk hinggap di atas menara Syahbandar di dekat pasar ikan. Menara setinggi 50 meteran ini dibangun tahun 1839, berlokasi di sudut benteng. Ketika itu, pelabuhan sudah mutlak dikuasai Belanda, sehingga berbagai macam bea keluar masuk kapal dan bongkar muat barang dilakukan di bangunan ini. Dari ketinggian, percaya deh, imaji kota lama akan terbentuk sempurna! Perkara yang tercium bukan lagi rempah namun aroma sampah, itu sih abaikan sajah! 

Imajinasi