15 Jam

Hidup sungguh berbaik hati padaku. Mencicipi perjalanan selama 15 jam melintasi benua, ini mimpi yang terlalu sempurna. Tapi aku tidak lagi bermimpi saat menggenggam tiket yang dicetak dengan kertas seadanya. Tertulis: 3 Oct 2011, Jakarta 18.55, Amsterdam 05.55, 1 day. Thanks God. You make this really happen: belajar hingga ke negeri Belanda selama satu tahun.

Reriungan kecil mengantarku ke Bandara, terdiri dari kumpulan keluarga dan para sahabat yang hangat. Senin sore yang hangat dengan gelak tawa dan celotehan-celotehan wagu di tempat tunggu. Menimbun memori dengan menjepretkan foto di sana sini. Semua tersenyum gembira.

Tapi senang dan sedih itu seperti dua sisi keping mata uang. Waktu setahun bisa jadi terasa lama bagi keluarga dan sahabat yang ditinggal. Memang, teori dari orang yang tidak bijak bilang kalau meninggalkan akan selalu terasa lebih ringan daripada yang ditinggalkan.  Beberapa orang yang kupamiti justru mbrebes mili. Ini bertolak belakang dengan kegembiraanku yang tengah surplus melimpah ruah meluap-luap. Waktu setahun pun menjadi relatif. Setahun tentu terlalu singkat bagi mahasiswa dengan kecepatan berpikir pas-pasan namun dihadapkan pada materi kuliah yang bertumpuk setinggi timbunan sampah Citarum.

Sejurus, orang-orang yang mbrebes mili pun ikut bikin hatiku kemrenyes. Mataku pun akhirnya mbrambangi, memerah, berkaca-kaca menyimpan haru. Tunggu ya, aku pasti pulang.

Advertisements
15 Jam