Cerita Jakarta #4: Akhirnya, Penasaran Itu Pecah

Kami merekam betul, bagaimana Ibu Ika selalu mangkir dari pertemuan yang sudah dirancang. Kalau saja kami terlambat lima menit saja, mungkin kami akan terus dihantui rasa penasaran. Pagi itu kami datang untuk melunasi rasa penasaran kami.

Sungguh, kami sudah terlalu lelah untuk menagih niat baiknya menyelesaikan perkara kami. Kami sudah melunasi rasa dongkol dengan menelan perkara itu sebagai pelajaran hidup yang …. kemripik garingnya. Tapi, ternyata yang paling sulit adalah menumbangkan rasa penasaran. Rasa itu mengganjal ganjil menantang harga diri. Selama ini kami tidak pernah tahu rupa orang yang sudah mengusir kami. Ibu Ika, sosok sibuk yang mengaku si pemilik rumah, hanya mengirimkan juru bibir (jubir) untuk mengusir kami.

Minggu lalu, berbekal sepotong alamat dari seteru lama, nik dan aku bertekad bulat mencari rumahnya di bilangan Bambu Apus, Jakarta Timur. Awalnya ragu, karena selain jauh jarak, wilayah itu juga jauh dari bayangan. Pilihan cuma ada dua, selamanya penasaran, atau kerepotan beberapa jam tapi melunasi seluruh keingintahuan.

Singkat cerita, Legenda membelah Jakarta. Hampir sejam lamanya di seputaran pintu Tol Bambu Apus untuk bertanya kanan kiri dan nyasar sana sini. Tekad kami bulat: merapat ke Jalan Gebang Sari no 83. Untunglah, kami tiba tepat pada waktunya. Tidak terlambat dan tidak terlalu cepat. Kami datang tepat ketika si Ibu Ika sedang berdiri di depan garasi bersiap pergi. Mesin mobil CRV sedang dipanasi dan bersiap meluncur.

Dari dandanannya kami tahu si Ibu hendak njagong. Rambutnya sudah rapi kaku dicatok. Wajahnya dipulas senada dengan warna kebaya hijau daun yang dikenakannya. Dia menggenggam clotch hitam merling-merling, dan sekotak parfum eternity warna salem. Agak kurang serasi sebetulnya, tapi ya siapa yang peduli.

“Saya ada undangan, kalian tahu jam berapa?” katanya tinggi.

Walah ya mana kami tahu.  Nggak perlu terlalu lama bicara, kami sudah tahu berhadapan dengan sosok yang tidak ramah. Tanpa basa-basi, dia langsung tegangan tinggi begitu tahu kami adalah keluarga Rabel.

“Ya wajar dong kalau saya suruh kalian pergi, itu kan rumah saya!” katanya makin tinggi.

Rasanya seperti nonton sinetron produksi klan Punjabi, dengan adegan utama ibu tiri marah-marah yang mimik mukanya seperti seng kejatuhan buah mangga. Tajam dan berisik.

“Sudah sana kalian urusan saja sama … bla bla bla..!

Dan selebihnya kuping kami berdenging. CRV Hitam bergerak meninggalkan wajah kami yang melongo takjub. Mental kami pun diuji. Kami merasa menang. Ibu boleh mengusir kami dan merenggut kenyamanan kami, tapi nggak membuat kami kehilangan kewarasan dan rasa humor. Dan yang terpenting rasa penasaran kami pecah sudah.

Cerita Jakarta #4: Akhirnya, Penasaran Itu Pecah

Sebundel Stik Keju

Minggu ini aku belajar soal property dan tanah. bidang baru yang nggak pernah kepikiran untuk belajar ini sebelumnya.

profesor tamu datang dari negeri yang jauh, Wisconsin, negara bagian AS yang berbatasan dengan Canada. sudah berumur, tapi suaranya masih cukup lantang untuk membuyarkan setiap lamunan yang lewat di otak mahasiswa pada jam-jam kritis. selain rajin bertanya, profesor ini punya metode mengajar yang unik di kelas.

“property right is a bundle of rights !” serunya di awal perjumpaan kami.

profesor ini mengajarkan hak property seperti sebundel stik keju, yang ikatannya bisa dibongkar pasang, stiknya dikurangi atau ditambah, bahkan dipotong-potong untuk dipindahtangankan. sebagai ilustrasi, dia membagikan seluruh stik keju dalam kantong. siang itu, aku mendapat sepotong hak tanaman. yang lainnya ada yang mendapat hak tanah, hak air, hak mineral, hak udara, hak binatang, hak menggunakan, hak menjual, hak menyewa, dan hak mewariskan.

“o o … please, don’t eat your property now!” serunya jenaka saat semua mahasiswa sudah memegang masing-masing satu stik keju. wah, prof tau aja sih? stik keju ini baunya harum sekali. aku sudah ingin melumatnya.

oh tidak, mungkin lebih tepat ingin meremukkannya. tiba-tiba pikiranku melayang ke kota yang sama jauhnya dari kelas .. Jakarta! aku ingat kalau masih memegang sepotong hak menyewa, tapi makelar-makelar itu akan merebutnya!

tiba-tiba profesor membuyarkan lamunanku. dia bertanya padaku, hak apa yang kugenggam. saat itu aku tidak ingin bilang kalau sedang memegang hak atas tanaman. woaaa .. rasanya aku ingin berteriak padanya seraya mengangkat tangan kiri yang mengepal, “yes prof, I still have right to use!”  (hei, makelar, gentar nggak kalian?&*@#$!)

# jeritankontraktorjakartadisiangbolong

Sebundel Stik Keju

Cerita Jakarta #2: Memang Semprul!@%!*?

Rumah Rabel ternyata bermasalah. Rumah sumuk itu jadi perebutan sebuah keluarga besar yang tak akur.

Dasar makelar! ternyata kami membayar pada orang yang tidak tepat. Dari awal kami tahunya ya si bapak A yang mengurusi rumah kami. tambah hakul yakin 110 persen bahwa si bapak A yang bertanggung jawab setelah dia dengan gagah berani mengurusi waterfall yang nggerojok nyaris meruntuhkan langit-langit rumah.

Lha tiba-tiba muncul si ibu I dengan utusannya mbakyu S yang konon kabarnya cantik seperti pesohor tante Desi Ratnasari. dua orang ini mengaku sebagai pihak sah pemilik rumah rabel. Dan mbakyu S inilah yang paling sering nongol ke rumah rabel. dia menyampaikan pesan bahwa kami harus segera angkat kaki dengan alasan yang kontrak setahun yang sudah kami bayar di muka ke bapak A dianggap tidak ada. dasar makelar! mbakyu yang ramah tamak ini maunya kami membayar sewa lagi padanya. cantik-cantik kok maruk.

silang sengkarut, karut marut, berkerut-kerut. perang urat sarap belum juga berakhir sampai saat ini padahal sudah meluntjur menjelang akhir tahun 2011. bapak A sok menjamin kami tidak harus pindah karena sudah bayar. sebaliknya mbakyu S ingin supaya kami segera pergi, kecuali kami membayar sewa lagi. mbakyu S ternyata bawel tapi nggak mau repot. dia lebih suka mengutus pacarnya mas D untuk meningkatkan tensi, nyuruh kami berkemas dalam dua minggu! sarap! nggak cuma dengan kata, tetangga mengabarkan mereka juga menebar rapalan rajah dengan air bertuah di halaman rumah. entah supaya rumah kosong di sebelah segera laku terisi, atau mungkin sebaliknya supaya keluarga rabel nggak betah dan segera angkat kaki. sekarang ini, dari lima rumah sengketa di situ, hanya satu terisi, yaitu rumah nomor 2A yang ditinggali keluarga rabel.

Jakarta memang semprul!

Makelar-makelar tamak itu bikin balada kontraktor makin panjang. lakon keluarga rabel seperti drama dengan jumlah babak yang tidak tertebak. beruntung, Nik the girl next door tangguh menghadapi perang urat sarap. dengan mental baja dia menghadapi kebawelan duo mawut mbakyu S dan pacarnya mas D. bertekad mendudukkan keluarga tak akur satu meja bersama pak RT yang baik budi. namun, Nik akhirnya urung duduk bersama di meja itu. kisah duka menyelusup membuat Nik pun mengambil jeda (aku ikut berduka, Nik). untunglah ada Put yang rela mengambil alih peran. maafkan aku, nggak ada dalam lakon saat kalian butuh pemeran pengganti …

Cerita Jakarta #2: Memang Semprul!@%!*?

Dua Buah Genting di Kamar Mandi

Malam yang mencurigakan. Suara gemeletak di dapur membuat Nik tak bisa tidur. Setelah diperiksa tak seksama, yakinlah kami bahwa suara gaduh itu ulah tikus. Seekor tikus hitam yang gemuk meloncat panik saat kami turun ke dapur. Aku lebih suka menyebutnya malwinas, si tikus gempal bertelinga bulat.

Malam itu malwinas berulah. Dia menumpahkan minyak goreng, menggigiti seplastik ikan asin, membongkar bumbon. Tumpukan wadah plastik yang rapi disusun Put pun gak luput, berantakan! Ada yang nyemplung ke ember sampah. Uwh..masih terlalu larut untuk membetulkan semuanya. Satu hal yang pasti, kami harus menutup akses masuk Malwinas.

Ketemu! Malwinas cerdik sekali. Ternyata tutup plastik lubang air di kamar mandi berlobang lebar gara-gara dia. Malwinas menyikat ram ram plastik hingga putus, mebentuk lobang bulat sempurna untuk tubuh gempalnya. Lobang pembuangan air jadi seperti pintu ke mana saja. Tutup plastik di atas ram itu pun bisa digesernya.

Waduh, malwinas kamu tidak diinginkan. Put segera beraksi. Jurus-jurus mengatasi tikus Surabaya segera ia praktekkan untuk malwinas, si tikus ibu kota. Ciaat! Jadilah dua buah gentng menindih tutup plastik, menutup sempurna jalur pembuangan air. Teknologi yang merepotkan memang. Setiap kami pakai kamar mandi, kami menggeser genting itu supaya air bisa lewat. Kalau sudah selesai, dipastikan genting kembali menindih tutup lubang. Tentu supaya malwinas, si tikus gempal bertelinga bulat tidak lagi lewat!

Dua Buah Genting di Kamar Mandi

Meja Makan Keluarga Rabel

Inilah keluarga rabel. Sebuah keluarga yang ganjil terdiri dari tiga perempuan. The girls next door, para sahabat untuk berbagi: dari atap, celoteh, hingga nasi dalam magic com.

Satu bernama Put, inilah miss telaten dalam rumah. Paling rajin memindahkan peralatan yang numpuk di rak piring ke tempat penyimpanan. Kami semua rajin mencuci peralatan, tapi tidak cukup rajin mengelap dan menata apa yang sudah dicuci dan menyimpannya supaya kembali rapi. Nah, Mbak Put inilah yang paling rajin mengelap garpu sendok, termasuk wadah-wadah plastik yang kalau numpuk gitu saja tampak lebih mirip plastik siap daur ulang daripada wadah makanan.

Nah, kalau yang satu lagi adalah Nik, si problem solver sejati. Ia benar-benar tetangga sebelah kamar dalam arti yang sebenarnya. Enam tahun belakangan kami berbagi atap sejak dari Bandung. Dan episode glundungan terus berlanjut sampai sekarang di ibukota ini. Daya pemecahan Nik bisa bikin takjub. Misalnya nih, dia tak ragu untuk berbelanja onlen, cara jitu berbelanja tanpa macet tanpa repot di Jakarta. Nggak cuma wadah-wadah plastik tapi juga baju. Hmm.. itu kayaknya dia memang nggak punya masalah dengan ukuran dan warna baju. Sementara aku, baju musti dipegang, dijajal, baru dibungkus. Daya jelajah onlennya itu juga yang buatku bisa mirip katalog toko (makanan terutama). Dalam hitungan detik dia bisa kasih saran buat ngelongok ice cream cake enak di mana, kue kering garing di mana, apa lagi ya.. ? banyak lah. Belum lagi urusan pemecahan masalah ewuh pakewuh yang melibatkan tata kebiasaan. Nah, nik ini bisa kasih solusi jitu soal kepatutan dan kepantasan misalnya dalam hal ngasih kado lahiran, membawa buah tangan, nge-treat ibu bawel warung (kalau dulu nge-trick ibu kos :D).

Pada dasarnya kami ini keluarga yang hangat. Ngudoroso, sehangat obrolan dan teh hangat yang sesekali kami bikin bersama. Tapi ternyata gampang-gampang susah (catat: banyak gampangnya daripada susahnya!) buat hidup bareng satu rumah di Jakarta. Ini soal membangun jagongan efektif dan berkualitas. Memang tinggal satu atap, tapi ketemunya bisa kayak orang main petak umpet. Satu datang yang dua tidur, dua berangkat yang satu tidur. Kapan mo nggosip cobaa?

Hal yang menggelinding normal adalah urusan lidah, makan memakan. Lauk yang kami masak itulah penyambung rasa, tali jiwo bahasa rumangtisnya. Si pemasak pagi akan menyimpankan lauk bagi si pemakan siang. Seterusnya, si pemasak siang pasti akan ninggalin makanan buat si pemakan pagi. Makanan itu biasanya ditaruh dalam wadah yang ditempatkan di atas “meja makan”. Ya, kami punya “meja makan” yang selalu padat oleh toples berisi cemilan. Sebetulnya itu adalah container plastik yang berisi perkakas. Di taruh di sudut ruang bersama supaya bisa juga merangkap sebagai meja. Nah, di situlah kami berbagi perhatian kecil. Jika memasak, pasti ada rantang tertutup atau piring bertangkup piring di atasnya. Melihat benda-benda itu, kami langsung tahu bahwa ada aksi dapur di hari itu. Saatnya berbagi protein dan kalori!

Inilah keluarga rabel. Ganjil namun hangat … Luv ya, gals!

Meja Makan Keluarga Rabel

Menunggu Pak Sholeh

Ini sudah hari kelima Pak Sholeh tidak datang. Padahal, biasanya dua hari sekali dia muncul di pintu pagar. Mengadu gembok ke besi pagar. Klang .. klang, menandakan kedatangannya.

Pak Sholeh, tukang pengambil sampah di blok Rawa Belong. Umurnya kutaksir baru sekitar 30-an. Perawakan kurang cocok dengan pekerjaannya. Kalau saja dia pakai batik atau baju safari warna gelap, mungkin lebih ada potongan jadi sekuriti. Dan parasnya lumayan bersih kalau saja peluh dan topi bututnya itu tidak menutupi kulit bersihnya.

Pak Sholeh berkampung di Banten. Biasanya, kalau akan lama tidak datang, dia bilang mau pulang kampung. Mungkin di Rangkasbitung, Serang, apa di Cilegon. Aku lupa. Pokokya yang kuingat dia pernah bilang berkampung di Banten. Kalau dipikir dia datang memang tidak pernah sama waktunya. Kadang jam 7 pagi, sering lewat jam 8, tapi pernah juga hampir jam 12. Mungkin itu tergantung ke mana dia muter sehari itu. Rawa Belong saja sudah luas. Apalagi kalau dia juga mengangkuti sampah di kampung tetangga dan tetangganya lagi. Memang, tidak semua rumah di gang ini memanfaatkan jasanya. Tapi tetap saja, klien Pak Sholeh banyak. Itu gampang dilihat dari isi gerobaknya yang bisa macam-macam. Kalau datang, Pak Sholeh akan memarkirkan gerobaknya di depan pintu pagar. Besar sekali. Dengan gerobak itu, dia bisa mengangkut apa saja. Dari sampah, sampai bongkaran rumah. Kalau dia mau, sampah masyarakat juga dia bisa angkut. Dengan cekatan, dia akan memasukkan dua buntelan plastik berisi sampah ke gerobaknya itu. Sigap. Dia mungkin hanya perlu sekitar 10 menitan untuk mengambil sampah di tiga rumah cluster rabel. Setelah semua beres, dia akan pamit.

Dia tidak banyak bicara, kecuali pernah bilang supaya kantong sampah lebih baik ditaruh di dekat pintu, jangan di dekat pagar supaya tidak diambil orang lain. Itu saja. Berbeda dengan rivalnya yang bersuara keras, Pak Sholeh jauh lebih santun. Dia tidak pernah kedapatan sedang mengintip isi rumah lewat celah pintu yang terbuka. Dan kalau datang, dia selalu meneriakkan password dengan alunan suara yang khas, “sampah!”. kata kunci ini penting supaya penghuni rumah tidak dibuat parno dengan suara Klang.. Klang yang dibuatnya. Dia juga jujur cerita kalau pernah melompati pagar terkunci untuk mengambil sampah di halaman saat tidak ada satu pun penghuni cluster rabel. Pendeknya, soal kebersihan, Pak Sholeh juaranya. Sama seperti banyak urbaner lainnya, kami ini tidak sanggup mengatasi sampah yang kami bikin sendiri. Untung ada Pak Sholeh yang sigap mengangkut. Untuk jasanya itu, dia menagih Rp 15.000 per bulan.

Tapi kali ini, hampir seminggu Pak Sholeh tidak muncul. Menumpuk sampah, artinya menumpuk persoalan. Sampah basah mulai memanggil rombongan koloni semut yang pagi tadi saja sudah berbaris teratur merambati lantai. Dan sampah kering benar-benar jadi rongsokan di sudut ruangan. Botol plastik berbaur dengan kaleng bekas sardencis yang mulai beraroma tidak sedap.

Duh, Pak Sholeh … enjing dateng kan?

Menunggu Pak Sholeh

Waterfall

Di Jakarta, hujan tak lagi syahdu. Hujan adalah keruwetan yang njelehi. Sungguh celaka Jakarta. Membuatku tidak lagi menyukai hujan.

Hujan sejam itu artinya kerepotan berjam-jam. Banjir akhirnya mampir juga ke cluster rabel (ehm, ini panggilan mesra untuk my home sweat home aka hunian rawabelong :D). Tidak lewat pintu tapi anjlok dari atap rumah sewa nomor 6. Inilah banjir lokal di lantai atas yang bikin huruhara di dua rumah sekaligus.

Gara-gara talang mampet, air mencari jalannya sendiri. Terjun bebas. Mengalir sesukanya lewat langit-langit. Luasnya nggak tanggung-tanggung, ya seluas rumah itulah. Di kamarku, air menggenang bikin kaki adem namun hati panas. Dongkol ingat kasur pegas yang basah, tumpukan baju yang harus cepat-cepat dicuci, tebaran kertas yang lengket berbau, bantal duduk warna kuning yang semula cerah jadi suram. Runyam. Belum lagi tembok yang mendadak bermotif waterfall, rasa was-was eternit ambrol dan listrik konslet karena dudukan lampu basah kuyup. Air mengalir sampai jauh merambah kamar tetangga dan lantai bawah. Keluh. Kerusuhan ini tidak sebanding dengan hal ikhwalnya yang sepele: tukang tetangga yang ngawur dan serampangan buang sampah di atap orang.

Ah, Jakarta sungguh celaka! Membuatku tidak lagi menyukai hujan. Mendadak berharap ada panas menyengat sehari saja untuk mengeringkan langit-langit yang kini kuyub. Berharap pemilik rumah sewa sigap membuat semuanya menjadi betul: atap, talang, dan juga tukang tetangga.

Waterfall