Ngirit tanpa Meja

sepulang mewawancara seorang birokrat, seorang kawan bercerita tentang floating desk. ceritanya membuat kami mahasiswa Indonesia takjub bin heran. kok bisa ya, kerja dua puluhan tahun tapi nggak punya ruangan sendiri.

laporannya, si bapak birokrat Landa ini punya perananan penting merumuskan kebijakan pendidikan di kota Rotterdam, menerjemahkan kebijakan pusat supaya sesuai dengan kebutuhan warga kota. desentralisasi mutrakhir membuat semua kebijakan yang menyangkut pelayanan publik diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan warga, termasuk gimana caranya cari duit untuk membiayai kebutuhan secara mandiri. untuk itu, dia musti aktif bekerja sama dengan birokrat kecamatan dan menggandeng LSM dan ormas. singkatnya, si bapak ini orang penting. makanya, heran waktu tau bahwa bapak ini tidak punya ruangan sendiri layaknya kepala-kepala penting di kantor pemerintahan di Indonesia.

rupanya, gaya berkantor semacam jamak dipakai oleh kantor pemerintah di sini. tuntutan kerja birkorat meningkat, nggak cuma jadi juru ketik di belakang meja semata, tapi harus lebih sering merapatkan barisan dengan berbagai pihak demi menggalang partisipasi publik. makanya para birkorat di sini lebih sering koordinasi dengan lokasi yang berpindah-pindah, tergantung agenda yang sedang ditangai. hari senin mungkin di sudut sana, selasa di sudut sananya lagi, trus jumat mungkin menyambangi gedung yang lain. meja jadi nggak penting, apalagi ruangan. mereka harus bisa kerja di mana saja, bisa bicara dengan siapa saja, bisa melakukan apa saja. kesannya dinamis.

tentu saja, alasan utamanya ngirit! pembuatan ruangan komplet dengan perabotannya dianggap pemborosan. apalagi jika si empunya ruangan sering nggak di ruangannya. kalau alasannya gimana caranya menaruh barang-barang pribadi, kantor-kantor itu mengatasinya dengan membuatkan lemari penyimpanan yang cukup besar untuk keperluan pribadi pegawai. tentu saja nggak bakalan cukup kalau untuk menumpuk barang hingga berhari-hari bahkan bertahun-tahun. ruangan juga dinilai nggak efektif karena membuat orang jadi terpaku pada tempat ketimbang kerjaannya. apalagi, birokrat namanya civil servant. jelas dia adalah pelayan masyarakat yang harus sigap tanggap beraksi mengatasi persoalan masyarakat. tentu nggak dari belakang meja.

kalo begini kan nggak perlu ada pengadaan barang dan jasa berlebihan hanya buat perabotan. dan nggak perlu juga itu Senayan ribut-ribut minta gedung baru. bukan karena nggak hormat, bukaan. alasannya memang cuma satu. ngirit.

Ngirit tanpa Meja

Perfecte Krul

Iklan yang memasang wajah manis seorang mbak berambut warna cokelat keriting itu bikin penasaran. si mbak tampil begitu percaya diri. senyumnya mengembang, semegar rambutnya yang bak singa kruwil. di dekat mukanya terpajang beberapa botol perawatan rambut dengan keterangan menggoda: perfecte krul.

wow..!

itu memang iklan sebuah merek perawatan rambut, mulai dari sampo, conditioner, vitamin, dan krim pelembab. gara-gara iklan itu, aku bela-belain cari waktu senggang untuk ke Kruidvart, swalayan retail yang spesialisasinya menjual produk farmasi, perawatan kecantikan dan perawatan kesehatan. di sini cantik identik dengan sehat, jadi harap maklum kalau produk perawatan seperti itu nggak bakal ditemui di toko swalayan umumnya. mengayuh sepeda juga musti gesit. mencari sela di tengah padatnya jadwal kampus yang baru selesai jam lima sore. padahal, jam segitu pula toko-toko di sini mulai berkemas. dan teng jam enam malem, nggak ada lagi yang buka (gini nih negara maju? ckckckck)

sesampainya di Kruidvart, produk perawatan rambut ternyata memang beraneka. rak empat tingkat dipenuhi produk dengan berbagai merek, jenis dan harga. ada yang untuk rambut supaya bervolume sempurna, lurus sempurna, warna sempurna, njigrak sempurna. ini sempurnaaaa… sampai-sampai perlu sekitar 10 menit untuk menemukan yang aku cari. ah, akhirnya aku menemukan si kruwel sempurna. hampir salah ambil dengan bervolume sempurna karena kemasannya sama persis. masing-masing cuma dibedakan oleh tulisannya. aku mengambil satu pelembab bertuliskan krul control creme. setelah mencermati, ternyata itu bikinan unilever. hmm, rasa-rasanya makin tegas kalau aku memang generasi Indonesia yang tumbuh bersama unilever.

konsepnya ternyata sama. di negara asalnya, unilever dikenal sebagai produk ritual sehari-hari menyasar keluarga kebanyakan. tapi ada yang beda. kalau dipikir, negara kapitalis mutakhir sungguh mencengangkan. seperti nggak pernah kehabisan strategi menjaring pangsa pasar. dan strateginya kali ini jitu sekali. membuatku tiba-tiba merasa membutuhkan produk itu. kita-kira kalau produk itu masuk ke Indonesia bakal laku gak ya, mengingat iklan produk perawatan rambut di kita adanya cuma untuk rambut hitam lurus dan ketombean?

Perfecte Krul

Living

Ini kali pertama aku nonton film Rusia. Living salah satu nominasi dalam Festival Film Internasional Rotterdam. Sebuah film satir tentang kematian karya sineas muda Vasily Sigarev (1977). Perasaan kehilangan yang senyap dalam tiga jalinan kisah cinta tak lazim. Seluruhnya terjadi di tengah musim dingin Rusia yang menggigit.

Meski gila, ayah tetaplah seorang ayah. Seorang bocah tak mampu menerima kenyataan bahwa ayahnya yang tidak waras itu telah mati. si anak merasa selalu melihat ayahnya menuntun sepeda onthelnya di luar sana. celakanya, si ibu yang temperamen lebih kerap memaki dan menuduh si bocah mewarisi ketakwarasan si ayah. pacar baru si ibu, jelas tak bisa menggantikan sosok ayah. sementara si ibu lebih mirip psikopat. hamil tua tidak membuatnya kepayahan untuk terus merokok, memukul dan mencaci-maki. Keluarga ganjil yang seluruhnya terlihat tidak waras.

Kehilangan suami membuat seorang istri kehilangan kewarasannya. Ia memilih untuk mendem vodka sampai-sampai mengabaikan dua putri kembarnya. panti sosial mengambil alih si anak hingga si ibu ini dianggap cukup waras untuk kembali merawat. Malang, putri kembarnya justru kecelakaan ketika panti hendak memulangkan pada ibunya. tragedi pun dimulai. ibu kini benar-benar gila ini membongkar makam dan membawa dua putrinya pulang. Dalam pikirannya, dua putrinya pasti kedinginan. sesampai di rumah, ia memandikan dan memberinya dua putrinya makan. kegemparan tetangga berujung si ibu bunuh diri dengan meledakkan tabung gas.

Seorang perempuan mempertanyakan mengapa Tuhan menyemaikan cinta di hatinya kalau  kemudian harus merasai perih. perempuan nyentrik berambut gimbal dan bertindik di lidah itu serius bertanya pada seorang pendeta. hanya selang beberapa jam setelah pendeta itu menikahkannya, maut yang kejam justru memisahkan perempuan itu dengan kekasihnya. bukan HIV yang merenggut nyawa kekasihnya, tapi lima perampok brutal di kereta. masyarakat yang sakit membiarkan penganiayaan itu terjadi di depan mata. tak ada seorang pun yang peduli pada jerit pilu perempuan yang menyaksikan kekasihnya meregang nyawa. putus asa menggiring perempuan itu mengiris nadinya. Tapi ia menolak untuk mati. Semangatnya bangkit setelah tiba-tiba bayangan kekasihnya membuatnya tersadar harus mencari uang demi memakamkan dengan layak.

Perasaan kehilangan sulit diungkapkan. Kata-kata tak pernah cukup. Tapi, ekspresi datar dan dingin orang-orang Rusia dalam film itu lebih dari cukup. hatiku terjungkir. sepi yang senyap datang menyergap. tiba-tiba saja aku teringat seperti apa rasanya kehilangan.

Living

Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Tania

Rasanya Seperti di Bandung

Apa yang membedakan Bandung dan Rotterdam? Rasa-rasanya kok nggak ada. Sebulan jadi urbaner Rotterdam, menandai sejumlah sudut kota. Kalau pun beda, itu pasti cuaca bulan november yang mulai tajam menusuki kulit.

Tapi sungguh terasa sama. Bersepeda melewati toko-toko kecil dengan etalase besar di Kralingen, sepintas seperti menyusuri jalanan Braga yang sempit dengan deretan toko-toko mungil berjendela lebar. Taman dengan jejeran pepohonan besar meneduhi kanal kecil di seputaran Heemraadssingeld itu mirip sekali dengan Taman Cilaki. Lengkap dengan bangku taman dan lampu taman yang bulat. Berjalan di kawasan komersial Beursplein, rasanya mirip seperti sedang berkeliaran di seputaran BIP.

Sengaja atau tidak, bentuk jembatan landskap kota pun mirip. Erasmusbrug punya tiang utama dan riang-tiang penyangga yang mirip dengan Pasupati. Bedanya hanya soal ukuran dan pemandangan di bawahnya. Pasupati melintasi Sungai Cikapundung pemandangan atap kemiskinan di tepian Cikapundung. Sementara Erasmusbrug tampak lebih jenjang dan megah melintang di atas Rhine Maas, sungai besar yang membelah Rotterdam menjadi utara dan selatan. Saking besar, lebar, dan bersihnyanya sungai ini, kapal pesiar Spido bisa menawarkan paket wisata sungai. Sungai ini mirip seperti jalan raya dengan lalu lalang kapal dan perahu berbagai ukuran. Nggak salah kalau Rotterdam pun mengusung slogan sebagai World Port World City. Meski nggak lagi cukup besar untuk menyaingi pelabuhan Shanghai.

Betul-betul kebetulan kalau dua kota ini juga sama-sama punya sejarah naas. Bandung pernah menjadi lautan api lantaran sejumlah gedung dan fasilitas kumpeni sengaja dibakar milisi tentara Indonesia tanggal 24 Maret 1946. Selang enam tahun sebelumnya, sejarah mencatatkan 14 Mei 1940 sebagai hari naas Rotterdam. Jurus perang kilat “blitzkrieg” Jerman membombardir pangkalan udara Waalhaven di selatan Rotterdam. Malang, bom Nazi membabat tanpa ampun meluluh lantakkan hampir seluruh Rotterdam.

Rotterdam sekarang adalah kota yang dibangun dari puing perang dunia kedua. Kota ini pun nggak terlalu terasa “Ducth”. Bangunan kuno cagar budaya yang tersisa bisa dihitung jari, seperti balai kota, gereja tua Laurenkerk, dan Witte Huis (1898) yang dulu pada masa jayanya sempat menjadi bangunan tertinggi di Belanda. Wajah kota sekarang dipenuhi bangunan modern karya eksperimental arsitek. Kantor pusat Unilever misalnya, mirip seperti balok kaca raksasa yang numpang di tonggak beton. Megah berdiri di tepian Nieuw Maas. Bangunan WTC Rotterdam di Beursplein juga nggak kalah modern bin megah menyerupai silinder kaca raksasa yang dipenggal seperempat. Saking megahnya, bangunan ini jadi ikon neoliberal sasaran demonstrasi “Occupy”, gerakan romantik yang merebak di Eropa memprotes sistem finansial dan politik kontemporer.

Satu lagi persamaannya, aku bisa melihat kunang-kunang dari jendela kamarku di Rotterdam. saat malam tiba, rasanya seperti melihat taburan lampu di bukit Dago Pakar. Ah tidak.. di Rotterdam tidak ada bukit!

Rasanya Seperti di Bandung