Homo Jakartaensis

Sabtu siang pada sebuah halte bus di kawasan semanggi. Dua orang lelaki yang duduk bersisian tengah terlibat pembicaraan seru. Yang satu bertubuh tambun dan seorang lainnya berperawakan sedang.

“Jadi, lu kapan mulainya?” kata si tambun dengan logat jawa yang kuentel seperti teh poci. Tangannya ditekuk, diselehke tepat di atas perut tambunnya. Seragam satpam yang dipakainya tampak sesak. Berani taruhan, dengan tubuh seperti itu satpam satu ini pasti bakal ngos-ngosan ngejar copet ibu kota.

Si perawakan sedang bilang, “Belum tau, mas. Masih nunggu. Moga-moga nggak ada yang bikin sulit,” dengan nada datar dan lempeng. Kupikir dia office boy atau petugas cleaning service yang sedang mengaso.

“Ya yang sabar. Kita sebagai pendatang musti bisa pinter-pinter..” balas si tambun. Kepalanya mengangguk-angguk,entah tanda simpati untuk si sedang atau sebetulnya sedang menjejalkan pemikirannya untuk hatinya sendiri.

Mendengar obrolan itu, layar imajinasi Seno Gumira Ajidarma pun terkembang di kepalaku: Obrolan tentang Jakarta ala Homo Jakartaensis. Bagi spesies ini, Jakarta adalah sebuah kota tempat melekatkan citra modern hidup sukses dengan segala uborampenya: pekerjaan nyaman, gaji aman, keluarga mapan, syukur-syukur punya rumah sendiri, mobil, laptop, ipad, ipod … makin panjang piranti top yang dipunyai, makin gilang gemilang hidup yang dimiliki.

Homo jakartaensis memang eksis. Mungkin benar, di tengah pilihan dan perhitungannya yang rumit dan njimet, spesies yang satu itu terbukti tangguh, mampu bertahan hidup di belantara Jakarta raya. Berminat mengikuti jejaknya?

Homo Jakartaensis

Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!

Aku pernah bilang, rasanya bilang berulang-ulang: Yogya terlihat lebih indah di waktu malam di bawah binar temaram lampu merkuri kekuningan. Ah, entah kamu mengingatnya atau tidak.

Tapi aku akan selalu mengingat, bagaimana cara menangkap pijar lampu-lampu itu. “Lihat, dengan begini lampu kekuningan itu bisa terlihat seperti bintang.” katamu menerangkan sambil memutar-mutar lensa kamera. Sesaat mengerjap dan sebelah matamu terpicing, kupikir aku juga melihat bintang di situ. Wah wah.. aku mulai nggombal.

Tapi aku tidak salah. Matamu benar temaram ketika menggenggam tangannya di pelaminan. Ehm, atau mungkin bukan temaram tapi redup seperti lampu petromak kurang gas.

Ya, pijar matamu meredup saat kamu mengatupkan tanganmu pada tangan perempuan yang menjadi kekasihmu empat tahun ini. Saat kamu membisikkan sepotong doa kebahagiaan untuknya dan suaminya. Ah, tidakkah kamu punya selarik luka?

“Aku akan baik-baik saja,” begitu katamu. Ya, semoga akan selalu begitu. Aku masih ingin melihat bintang yang pernah kamu bidik itu muncul lagi, di matamu. Nggak, aku nggak sedang nggombal. Betul, aku pernah melihatnya.

Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!