Rumah Hijau

Akhirnya aku tertampung di rumah berteras hijau. Di sudut halaman milik Bapak dan Ibu Ro.

aku lebih suka menyebutnya rumah hijau. seluruh dinding rumah ini memang bercat hijau, termasuk rangka jendela dan tulang atap, semua semuanya hijau. mungkin biar berkesan adem. satu pot tanaman menjuntai tergantung di sudut teras dekat talang air menambah kesan adem. betul, ini adem. apalagi kalau bandingannya jalanan ibu kota yang selalu panas kemrungsung.

rumah hijau punya ruangan yang cukup lega. aku bisa menumpuk kardus di ruang depan. ruang yang semestinya jadi ruang tamu dan duduk-duduk ini akhirnya dipaksa menjadi tempat penyimpanan, ruang jemuran dan garasi. hebat toh? tapi ada yang kurang.. aku kelangan meja seperti milik keluarga rabel dulu. selain itu, hijau-hijau tapi ya tetap sumuk. satu kipas penyedot udara di ruang tengah nggak pernah kumatikan jika aku berada di dalam. begitu juga dengan kipas angin yang sengaja kutaruh dekat pintu supaya mendorong angin hilir mudik di ruangan.

tapi nggak apa. yang terpenting adalah kasurku. kasur yang nyaman dan merepotkan itu akhirnya bisa membuatku tidur pulass. awalnya, sudah berencana menjual kasur yang merepotkan itu karena kamar kos di ibu kota yang sak tupil tupil kecilnya itu nggak akan bisa memuatnya. tapi batal jual berkat Mbak Nur.

Makasih lho Mbak Nur yang sudah dengan rela hati berbagi kontrakan 🙂

Advertisements
Rumah Hijau