Oscar Ranupani

Kami menyebutnya Oscar, lelaki kemayu yang baru beberapa hari lalu meluruskan rambutnya di salon.

Malam itu, rambutnya yang dipotong di bawah telinga itu tampak hitam, lurus, tanpa cela. Rambutnya mengilat memantulkan api tungku yang tampak rakus menjilati kayu. Kami duduk di bangku sisi kiri tungku, sementara Oscar dan dua karibnya duduk di seberang kami. Ibu yang ramah memberi kami penganan dan minuman hangat. Dapur kayu milik keluarga Sobirin hangat melindungi kami dari terpaan angin dingin Ranupani.

Kami mengobrol riuh, seolah sudah lama akrab mengenal. Sembari bercerita ngalor ngidul, telapak tangan Oscar tidak henti-hentinya mengusapi rambutnya. Kakinya menyilang kenes sementara sesekali kerlingan matanya merayapi ujung rambut sampai ujung jempol seorang kawan yang duduk di sebelahku. Jelas, Oscar lebih tertarik pada Mamang di sampingku. Tapi aku lebih tertarik pada tiga karib Oscar yang tampak sama sekali tidak kenes dan kemayu. Satunya berjaket merah ala pendaki, satunya berjaket hitam dan terus mengepulkan asap rokok, dan seorang lagi Sobirin, yang sudah membantu kami mengangkuti barang selama perjalanan melintasi punggung Gunung Semeru. Empat karib ini sungguh akrab. Duduk bersebelahan, saling meledek, sembari saling melengkapi cerita. Akrab.

Kupikir ceritanya akan lain, kalau Oscar hidup tidak di Ranupani. Oscar sudah pasti akan di-bully oleh kawan-kawannya sendiri. Aku masih ingat kawanku Sonya di kampus yang disisihkan dari perkumpulan sosial. Geng cewek risih menerima Sonya karena dianggap tidak cukup feminin untuk memperbincangkan kerumitan perasaan tapi juga dinilai terlalu agresif menunjukkan pendiriannya.  Sementara itu, Sonya juga sering ditolak perkumpulan para cowok, karena dianggap terlalu lebay bersolek dan terlalu kenes bersikap. Sonya serba salah. Saat KKN tiba, problema Sonya makin rumit karena bersangkutan dengan urusan pembagian kamar tidur. Jelas, Sonya tidak punya banyak teman. Sonya tidak seberuntung Oscar yang terlihat baik dan akrab-akrab saja dengan kawan sepermainannya.

Tapi di Ranupani, selalu ada permakluman dan penerimaan. Bukan hanya untuk Oscar melainkan sepertinya untuk banyak hal, termasuk untuk urusan surgawi. Di dekat Ranu Regula ada Pura dengan pengeras suara yang jaraknya hanya beberapa meter dari sebuah langgar. Tak jauh dari situ, ada gereja kecil dengan tanda salib yang sangat besar di tembok depannya. Damai. Ya, mungkin semua cerita ini akan berjalan lain jika tidak di Ranupani. Di Ranupani, semua adalah Kita. tidak ada liyan, tidak ada mereka. Kebersamaan belum tersingkir.

Advertisements
Oscar Ranupani

Perfecte Krul

Iklan yang memasang wajah manis seorang mbak berambut warna cokelat keriting itu bikin penasaran. si mbak tampil begitu percaya diri. senyumnya mengembang, semegar rambutnya yang bak singa kruwil. di dekat mukanya terpajang beberapa botol perawatan rambut dengan keterangan menggoda: perfecte krul.

wow..!

itu memang iklan sebuah merek perawatan rambut, mulai dari sampo, conditioner, vitamin, dan krim pelembab. gara-gara iklan itu, aku bela-belain cari waktu senggang untuk ke Kruidvart, swalayan retail yang spesialisasinya menjual produk farmasi, perawatan kecantikan dan perawatan kesehatan. di sini cantik identik dengan sehat, jadi harap maklum kalau produk perawatan seperti itu nggak bakal ditemui di toko swalayan umumnya. mengayuh sepeda juga musti gesit. mencari sela di tengah padatnya jadwal kampus yang baru selesai jam lima sore. padahal, jam segitu pula toko-toko di sini mulai berkemas. dan teng jam enam malem, nggak ada lagi yang buka (gini nih negara maju? ckckckck)

sesampainya di Kruidvart, produk perawatan rambut ternyata memang beraneka. rak empat tingkat dipenuhi produk dengan berbagai merek, jenis dan harga. ada yang untuk rambut supaya bervolume sempurna, lurus sempurna, warna sempurna, njigrak sempurna. ini sempurnaaaa… sampai-sampai perlu sekitar 10 menit untuk menemukan yang aku cari. ah, akhirnya aku menemukan si kruwel sempurna. hampir salah ambil dengan bervolume sempurna karena kemasannya sama persis. masing-masing cuma dibedakan oleh tulisannya. aku mengambil satu pelembab bertuliskan krul control creme. setelah mencermati, ternyata itu bikinan unilever. hmm, rasa-rasanya makin tegas kalau aku memang generasi Indonesia yang tumbuh bersama unilever.

konsepnya ternyata sama. di negara asalnya, unilever dikenal sebagai produk ritual sehari-hari menyasar keluarga kebanyakan. tapi ada yang beda. kalau dipikir, negara kapitalis mutakhir sungguh mencengangkan. seperti nggak pernah kehabisan strategi menjaring pangsa pasar. dan strateginya kali ini jitu sekali. membuatku tiba-tiba merasa membutuhkan produk itu. kita-kira kalau produk itu masuk ke Indonesia bakal laku gak ya, mengingat iklan produk perawatan rambut di kita adanya cuma untuk rambut hitam lurus dan ketombean?

Perfecte Krul

Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Tania

Bad-Hair Day

Pagiku sering datang terlambat. Lebih lambat daripada kicauan rombongan anak sekolah yang lewat. Tepat bersama celotehan ibu-ibu tetangga pada mamang penjual sayur. Hari apa ini? Apakah masih penting?

Ibu-ibu datang di waktu yang sama, seperti hari kemarin, dan kemarinnya lagi. Mungkin besok, dan besoknya lagi. Reriungan kecil tentang segenggam cabe beureum dan bawang bodas. Tentang tahu sarebu, tempe sapotong, dan daging ayam satu ons. Beeeuuh… ibu-ibu selalu berhasil menghalau pagi yang datang terlambat. “Ayo cepat mang, saya mau masak sayur bayam!”

Baiklah, kusapa saja. Selamat siang, Pagi!

Aku pun beranjak melemparkan mimpi ke atas meja, tertumpuk bersama majalah kadaluwarsa dan buku yang berdebu. Tunggu dulu, mimpi apa ya aku semalam? Mungkin besok ada baiknya aku rawat mimpiku dan kupajang bersama foto-foto di dinding batako warna merah jambu.

Aih, aku tak punya waktu lagi, Pagi!

Kali ini aku harus benar-benar bergerak. Kuambil tas, dan kulongok isinya: dengan koran hari kemarin yang tergulung, bersama coretan kata dan serpihan ingatan yang juga berasal dari hari kemarin. Lalu ada di mana hari ini , dan besok, dan lusa, dan … ?? Aku harus mencarinya. Mungkin ada sepotong di lemari baju, secuil di rak buku, atau sesobek di bawah kursi? Coba, coba, kutengok cerminku, sapa tau pagi ini berubah menjadi cermin ajaib yang bisa menunjukkan tempatku di hari ini, dan besok, dan lusa, dan …

Owh, rambutku kusut … !

Rupanya cerminku masih cermin yang sama seperti di hari kemarin, dan kemarinnya lagi…

Bad-Hair Day

Fakta

Dapet kerjaan gak penting dari the girl next door. Dan inilah 10 remahan fakta tentangku.

1. Kruwil. Huehe.. kalau ini sih semua orang juga bakalan tahu begitu bertemu denganku. Yak. Rambutku berombak. Makanya, begitu aku memberi sentuhan dikiiit aja pada rambutku, sejurus kemudian menuai tanggapan. Emang sih, kalo abis creambath apalagi abis potong rambut, rambut kruwilku bakalan tampak jinak. Intinya, ketika potongan rambut cepak abis, kelihatan lurus. Agak panjangan dikit, ya beromba. Nah kalo panjang.. itu nguwel kruwel kruwel. Maka dari itu, aku nggak pernah nyolong waktu kerja buat nyalon … abis bakalan ketauan sih. Susah ngelesnya ..

2. Paling ngeri sama kodok. Mungkin nggak cuma aku yang mengalami ini. Tapi sumpaaah, kalo ngeliat kodok, rasanya kulitku ini langsung berkerut. Detak jantung 10 kali bertambah cepat hingga dada ini rasanya lupa menarik nafas. Otot leher meregang, dan bulu kuduk meremang. Huhuhuhu … aku nggak mau ketemu kodok. Tapi ngeri juga sih sama cicak dan tokek. Whatever… mereka menyeramkan!

3. Pecandu soto. Kalau ada makanan yang nggak ada bosan-bosannya pengen kuseruput, itu pastilah soto. Apalgi nih, kalau soto itu berkuah bening berminyak dengan ayam kampung yang lembut beraroma menggoda. Ya, sebutlah Soto Kadipiro di Yogya, Soto Kudus yang di makan juga di Yogya. Atau kalau soto yang isinya rame pun aku suka, macam Soto Jalan Bank di Purwokerto. Waduh.. adanya cuma enak dan enak banget. Tapi eits, aku nggak terlalu suka soto daging sapi. Rasanya berat di lidah, yaa macam Soto Madura, Soto Sulung, Coto Makassar.

4. Pecinta senja. Banyak orang romantis yang bilang bahwa senja adalah simbol keredupan. Selalu bilang, usia senja. Atau seperti kata lagu Jikustik yang baru “Tetap Percaya”, senja akan berganti fajar. Tapi bagiku, sesuatu di keremangan senja itu sangatlah sentimentil. (aku nggak bisa bilang itu selalu indah.) Langit barat yang memerah jingga, bayangan gedung yang memanjang, matadewa yang tersangkut di ujung menara sana, atau melihat bayangan senja di sebuah lembah antah berantah melalui jendela kereta Lodaya Pagi. Wew… semua itu seperti memutar sebuah lagu di kepala. Kadang hati menjadi hangat kadang juga menjadi senyap .. duh.

 5. Peminum wortel. Iya, aku bilang peminum. Karena aku selalu berusaha memenuhi janjiku pada tubuhku untuk meminum sari wortel seminggu tiga kali. Warna oranyenya segar menerbitkan air liur, penuh beta karoten yang baik untuk mata. Mengandung antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Kandungan seratnya konon baik untuk kulit wajah karena mengurangi minyak. Hmm, sumpah kasiat yang terakhir ini kayaknya tidak terbukti. Aku bak selalu jadi remaja puber karena taburan jerawat di wajah. Begitu juga yang kedua, karena mataku tetap saja minus 1.5 dan silinder 0.5. Tidak mengapa. Jus wortel itu segar, apalagi jika dicampur sesendok madu bunga liar. Sruuulp.

6. Pantai. Pantai. Pantai. Iyak, itu tempat liburan favoritku. Rasanya menhirup udara laut yang asin dan bergaram, berenang di pantai sampai badan berbau matahari, rambut gimbal alami, itu menyenangkan! Pantai favorit?  Pantai Ngrenehan!!! (jawaban orang kurang pikinik sebetulnya) Teluk kecil di sebuah rongga pesisir selatan Gunung Kidul ini sungguh menyenangkan. Nggak terlalu jauh dari kota Yogya. Di sini, bisa melihat senja dan bola jingga, melihat bulan perlahan muncul dari balik bukit, mereka-reka rasi bintang, tidur dengan backsound deburan ombak, dan… paginya nyemplung berenang!!  

7. Penikmat teh. Bisa dibilang, ini minuman keluargaku. Waktu kecil, simbah sering bikin teh yang ditempatkan dalam teko porselen. Teh di teko ini rasanya selalu hangat karena tekonya ditaruh sedemikian rupa di dalam sebuah bantalan busa. Teh ini mereknya Tong Ji. Beranjak remaja, ibu selalu membagi segelas teh hangat. Kali ini, tidak ada lagi teko berbantalan busa. Cukup air hangat dalam termos. Kalau mau buat teh, ya tinggal seduh lagi. Teh yang ini mereknya Catut atau Tang. Ya ya, sampai sekarang kebiasaan itu masih berlaku di rumah. Nah, kebiasaan itu masih aku bawa sampai sekarang di tempat baruku. Merek tehnya sih nggak sefanatik zaman dua generasi di atasku. Aku suka teh rasa vanili berbungkus merah dari Malang, atau Walini dari Bandung, atau teh seduh dari gunung Dempo, atau Wonosobo. Malah baru-baru ini, aku diberi Teh Jawa yang marak di Gunung Kidul, dan Teh Prendjak yang kata si pemberi bisa bikin aku ngoceh. Ayo ayo.. ngeteh bareng.

8. Pemerhati kucing. Kalau ada binatang yang bisa membuatku bercerita banyak, itu pasti kucing. Ya, tentu cerita yang menyenangkan. Aku pernah bilang pada the girl next door, bahwa si kucing berwajah gembil berbaju kuning, bertubuh gempal yang selalu berseliweran di muka kosan kami adalah raja preman. Entah dia percaya atau tidak. Atau aku pun bilang bahwa, si Melly kucing ibu kos kami ingin masuk ke dalam rumah. Waktu itu dia tampaknya terpaksa percaya, karena si Melly langsung membututi kami begitu kami masuk. Di rumah, ibuku punya sembilan ekor kucing. Semua ada namanya, tapi aku tidak hafal. Satu yang aku ingat adalah Tam. Dia selalu malu-malu kucing. Waktu aku pulang ke rumah 2 minggu lalu, dia menitipkan salam. Untuk lelaki bersuara semilir angin katanya.

9. Katakan TIDAK pada film horor! Katakan YA pada honor. Eh, nggak nyambung. Aku suka berbagai jenis film, mau nonton film seaneh apapun, asal bukan film horor. Gimana ya? Melihat posternya saja sudah ngeri, lha kok mau coba-coba lihat filmnya. Apalagi kalau judulnya sudah berbau-bau kamboja macam Sarang Kuntilanak, Tusuk Jalangkung, Pulau Setan. Aiiiiy … Tapi, jangan salah, dulu aku suka nonton filmnya Tante Suzanna, macam Beranak dalam kubur, atau Malam Jumat Kliwon, Sundel Bolong. Nggak tahu ya, kayaknya dulu itu dia begitu menjiwai sampai bikin aku penasaran ma film-film itu. Kayaknya dia juga yang akhirnya mematok pakem bahwa hantu harus selalu berbaju putih, berambut panjang awut-awutan, mata menghitam, muka memucat, dan muncul malem hari di tempat sepi banyak pohon gede.

10. Cinta Lansia. Maksudku di sini, aku cinta pada Taman Lansia. Ituuu, taman di Cilaki yang cuman berjarak 10 menit jalan kaki dari kosanku. Nyaman banget berjalan-jalan di situ. Mo joging nyusuri trek yang tersedia juga bersemangat. Janjinya pada tubuhku sih, dua kali seminggu. Biasanya aku olahraga sekitar 30 menit di situ. Namanya juga janji, kadang ya kuingkari. Apalagi kalu bukan karena alasan malas bangun pagi ..

Nah, itu remahan fakta gak penting tentangku. Dan karena ini pesan berantai, maka aku rantaikan lagi ke 10 tetangga berikut ini: Warung Yenti, Kaki Kecil Rani, Ken Terate, Negeri Kata Alex, Munggur, Sari, Dunia Sophie, Rumah Domie, Adidassler, Marput.  

Cara ngerjain PR-nya sebagai berikut:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Fakta

Percaya

Apa yang terlihat di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Aku percaya itu.

Aku bertemu dengannya beberapa kali. Lelaki berumur 28 tahun ini mirip dengan gambaran orang tentang pemuda Bandung. Ramping berkulit bening. Rambutnya cepak modis dengan potongan acak asimetris. Ya, mirip-mirip dengan penyanyi band ngetop masa kinilah, semisal Republik atau Juliet (sumpah, aku bukan penggemar band ini). Ia mengenakan kaos T warna pastel yang ngepas badan lengkap dengan celana jeans yang juga body fit. Intinya adalah modis. Sesuai dengan bidang keahliannya memotong rambut. Aku bertemu dengannya di salon langgananku. Sebuah salon yang konon kabarnya menjadi ampiran anak muda Bandung yang ingin mengikuti trend gaya rambut masa kini. (Aku suka ke sini tapi lebih karena aku cocok dengan hasil karya si Aa satu ini. Beberapa bulan terakhir aku suka mempertahankan gaya rambut cepak)

Tatkala bertemu, ia selalu membuka dengan salah satu pertanyaan standar tukang salon “Mau dipotong berapa centi?” Dan kujawab dengan tak kalah standarnya, “Dirapiin aja.” Karena kami sudah beberapa kali bertemu, aku bisa menambahkan frase standar lainnya, “Kayak biasanya.” Entahlah. Mungkin itu kata pembuka yang mujarab. Dan setelah itu, obrolan pun mengalir ringan. Seperti siang tadi.

Kali ini ia memilih topik spiritual. Nggak tahu juga bagaimana juntrungannya mengapa kami akhirnya membicarakan tentang topik ini. Tiba-tiba saja ia sudah nyerocos menceritakan Sunan Kalijaga yang menurutnya tiga kali berganti raga dalam tiga masa yang berbeda. Dan di masa kini, ia meyakini Sang Sunan ada di tubuh seorang guru spiritual di Sumedang. Ciri-cirinya, sang guru punya cap kewalian di dahi dan paha kanannya. Cap yang menurutnya tidak akan hilang meski Sang Wali sudah berganti raga. Cap kewalian itu merupakan tanda lahir yang mirip dengan tulisan asma Tuhan. Dia juga bercerita bahwa ia pernah mengikuti ritual permandian di malam Jumat Kliwon saat sang guru memandikan para muridnya. Hmm… hanya beberapa detik, obrolan pun jatuh ke jurang mistik.

Mau tak mau aku pun membenturkan penampilannya yang modis dengan pemikirannya yang menurutku tak logis. Seorang Sunan, yang sudah meninggal sekitar 400 tahun lalu, bisa hidup lagi di tubuh orang yang berbeda … Tak apalah, aku pun tak boleh menyanggah. Aku kadung percaya bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Ia sudah percaya padaku dengan bercerita dan dengan begitu aku harus menghargainya. Meski ia modis, meski ia lelaki muda yang berprofesi harus mengikuti perkembangan trend anak muda masa kini, meski trend dan kepercayaan tak ada hubungannya, aku harus menerima kenyataan bahwa apa yang tampak di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Ya, ya .. Aa’ jangan keras-keras ceritanya, ntar nggak enak di denger FPI, malah nanti bisa jadi psst… pstt .. bla bla bla…

Percaya

Momentum

Seorang teman berambut gondrong sebahu tiba-tiba memutuskan untuk memangkas rambutnya. Kemarin, ia muncul dengan model rambut baru. Lebih pendek yang kalau dilihat sepintas mirip-mirip rambut Ariel Peterpan. Hanya saja kalau rambut si Ariel tersibak sempurna dengan sentuhan layer di ujung-ujungnya, model rambut temanku ini justru tidak berbelahan. Meski layernya juga tampak di ujung-ujung, tidak membuat rambutnya terlihat ikal atau bervolume. Rambutnya tetap jatuh, lurus, lempeng. Selempeng orangnya yang berkarakter melankolis nggak neko-neko.  

Ada yang malu-malu memuji, namun banyak yang mengolok-ngolok bikin malu. Temanku yang biasanya cenderung tidak menarik perhatian karena saking kalemnya itu mendadak menjadi magnet perhatian. Perubahan drastis rambut temanku itu pun menuai komentar. Dibalik komentar yang bertubi-tubi tertsirat satu pertanyaan … “Kenapa, sih, kamu potong rambut?” 

Seandainya temanku memangkas rambutnya tepat tanggal 31 Desember, mungkin hujan komentar tidak akan sederas itu. Kupikir hanya akan muncul satu komentar, seperti “Tahun baru, rambut baru!” Titik. Sudah. Tidak pakai bertanya “kenapa”, orang akan lebih mudah menerima perubahan sebesar apapun.

Entahlah. Mungkin sudah menjadi mantera bahwa perubahan harus punya momentum. Dan tahun baru adalah momentum yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru, juga mengubah sesuatu yang dianggap basi.

Semua bertanya, “Apa resolusimu?” Seolah semua beranggapan sama bahwa tahun baru harus punya rencana baru untuk memulai sesuatu yang baru. Namun jarang yang menanyakan, “Bagaimana tahunmu yang sudah lewat kemarin?” Seolah semua beranggapan bahwa yang sudah lewat ya biarlah lewat.

Padahal, kalau dipikir lagi, apa bedanya tanggal 1 Januari dengan tanggal 1 Juli? Kupikir hanya kebetulan yang 1 Januari itu mengiringi pergantian tahun, sementara yang 1 Juli berganti bulan.

Ya ya.. Tapi harus kuakui, merencanakan sesuatu di tanggal 1 Januari itu memiliki efek menggugah yang lebih besar dibandingkan bila aku merencanakan di tanggal 1 Maret. Aku pun termasuk orang yang mudah bersemangat karena menghirup aura tahun baru yang membius. Huff, aku termasuk orang yang malas.  Aku memerlukan momentum bahkan untuk mengubah hal-hal kecil dalam diriku sendiri.

Selamat Tahun Baru… Dan selamat membuat resolusi!

Momentum