Pasar Bubrah

Pasar Guyub Makaryo mau dibubrah. Kabar itu bikin geger.

“Bener itu Yu, pasar kita mau dibubrah?” tanya Mbok Rin dengan nafas sengal-sengal. Badannya masih gobyos keringat. Dia baru saja ngepit dari rumah. Buru-buru nyelehke onthel, tanpa minum dan menghela nafas, langsung njujug ke lapak Yu Nik.

“Iya, dibubrah. Tapi trus katanya di pindah ke belakang kantor kawedanan.” kata Yu Nik sambil tetep sibuk mbungkusi klepon.

“Kok dipindah segala tho? Aku kalo mau beli-beli jadi ngepit jauh!”  Mbok Rin ngungun. Rambutnya mawut, jariknya kisut. Mukanya juga berkerut-merut mrengut. Mbok Rin sudah lama jadi langganan penganan dan kletikan bikinan Yu Nik. Biasanya Mbok Rin kulakan banyak-banyak untuk dijual lagi di warungnya di desa sebelah. Warta pasar bubrah bikin dia resah.

Kalau pasar benar mau dipindah ke pusat kawedanan, jelas bikin gelo warga Desa Guyub Rukun. Pasar Guyub Makaryo adalah pasar paling besar dan paling komplet di desa itu. Tapi gelo itu bukan soal transaksi dagang semata.

Pedagangnya semanak ramah-ramah, pembelinya juga juga sumedulur menganggap semua orang pasar adalah saudaranya, mulai dari bakul, tukang angkut, tukang kredit, tukang parkir, tukang sapu, sampe tukang ngupasi krambil dan ngirisi brambang.

Pasar Guyub Makaryo sudah jadi tempat ngopi dan ngobrol. Tempat curhat. Segala info beredar di situ, mulai dari harga tomat mutu ABC, kentang mutu sedang dan bawang gondol, sampai kabar kabur macam si anu mau nikah lagi atau si tea punya srimbitan anyar.

Tapi warta yang beredar juga sesekali bisa ikut menentukan nasib seluruh warga desa. Misalnya, orang-orang penting yang mau nyalon jadi kades, pasti menggilir datang ke pasar. Sengaja giliran biar ekslusip, nggak perlu antre buat nanya-nanya. Padahal, pertanyaannya mirip-mirip, gak  jauh-jauh dari pasokan beras lancar atau nggak ke Lik Di juragan beras, bangunan pasar ada kerusakan apa nggak ke Den Cokro petugas retribusi, atau harga sayur murah atau mahal ke Mbak Wi bakul sayur partai besar.

Makanya, kabar pasar mau dibubrah jelas nggriseni. Semua warga desa sudah membahas kabar itu di mana-mana.

“Woo lah, beneran itu, Pak Rik, kalau pasar kita mau dipindah?” tanya hansip desa pada Pak Carik.

“Ya begitu kabarnya, pak. Saya juga belum tahu pasti.” jawab Pak Carik ramah.

“Lha alasane opo?” sela Yu Jum bakul jamu gak sabaran.

Kang No tukang jagal ikutan nimbrung, “Kalau dipindah kami dibikinin tempat lagi nggak?”

Sore itu, warga desa sengaja mencegat Pak Carik di dekat pengkolan pasar. Biasanya, pasar jam segini juga udah sepi. Tinggal warung kelontong di muka pasar saja yang buka. Tapi, sore ini jelas luar biasa. Warga desa memilih duduk kelekaran di depan warung Mbak Nah yang persis berdiri di pinggir jalan untuk nunggu Pak Carik yang selalu lewat di jalan itu jam empat sore.

“Sabar sodara-sodara. Wacana itu memang ada. Tapi kepastiannya masih nunggu keputusan.”

“Nunggu apa? Saya jadi ragu-ragu mau nambah dagangan lagi.” kata Kang No.

“Sapa yang mutusin? Apa kalau pada rapat dicatetin apa nggak sih?” seru yang lain

“Kok kemaren pak Kades nggak nyinggung-nyinggung ya pas kerja bakti,” kata yang lainnya lagi.

“Katanya nanti di sana nggak dibikinken warung lagi ya? sanggah yang lain manas-manasi.

Orang-orang mulai sahut menyahut ribut seperti kawanan meri rebutan pakan. Pak Carik mulai panik. Untunglah, suara merdu Mardomo takmir masjid sudah melantunkan adzan maghrib. Pak Carik merasa terselamatkan.

“Monggo, itu sudah magrib. Saya harus pulang dulu. Sodara-sodara kan ya juga capek to? Monggo besok dilanjutkan lagi ngobrol-ngobrolnya.”

Ajaib. Ajakan itu bikin orang-orang manut. Seperti ayam pulang kandang, warga yang tadi ribut berangsur sepi. Mereka membubarkan diri bergegas pulang ke rumah masing-masing. Hari memang mulai surup. Matahari yang tadi menyengat kini sudah angslup.

Nggak apa kalau hari ini blum ada kepastian. Toh, besok juga bisa ditanyakan lagi, begitu pikiran orang-orang senja hari itu.

Advertisements
Pasar Bubrah

Bandung Itu Lutju #2: Balada Caheum-Ledeng

Angkot yang paling banyak mengunci ingatanku adalah jurusan Cicaheum-Ledeng. Sejumlah teman yang datang ke Bandung hampir selalu nanyain di mana Cicaheum dan Ledeng.

Memang sih ada dua kemungkinan. Kemungkinan satu, nama Cicaheum-Ledeng itu memang terdengar lutju di telinga pendatang sepertiku. Apalagi kalau punya lidah kaku medok Jawa, bakalan susah meliukkan cengkok eu eu eu .. mesti wagu.

Kemungkinan dua, jalur Cicaheum-Ledeng itu memang lewat di depan jalan menuju rumah kos nomor 8. Jadi, teman-teman yang menemuiku di situ-situ itu, pasti bakal melihat deretan angkot ngetem di seberang mulut jalan.

Perkenalan awal dengan Bandung, memaksaku ikut mengenal angkot. Angkot itu singkatan dari angkutan kota. (hhmm.. next time aku musti cerita kalau urang Bandung juga suka nyingkat nama). Biasanya angkot pakai mobil kijang kotak atau suzuki carry.

Sopir angkot adalah manusia super multi tasking. Pelayanan hanya mengandalkan sopir, tanpa kondektur. Si sopir musti memecah konsentrasi: mengemudi sering tak hati-hati sekaligus lirik kanan kiri cari-cari penumpang. Selain teriak, biasanya sopir akan mencet-mencet klakson dengan riuhnya demi menarik perhatian calon penumpang. Stereotipnya, si sopir angkot ini kebanyakan pendatang Batak. Coba dengerin baik-baik saat sopir teriak-teriak cari penumpang, lidah memang gak bisa bohong, dia teriak lédeng atau lédéng .. 😀

Menghafal jalur angkot Bandung sama seperti menghafal rumus kimia.. puyeng! Masing-masing rute cuma dibedakan dengan strip di body angkot. Atau kalau bagi jeli dan hafal rute, di kaca depan dan belakang tertempel rute antar-terminal, seperti Cicaheum-Ledeng, St Hall-Sd Serang, atau Dago-Kalapa. Hampir seluruh angkot dicat hijau tua, kecuali sejumlah jalur yang jarak tempunya juwawuh seperti Cisaranten warna pink, Ciwastra warna coklat, dan Riung warna putih.

Masih dalam bahasa lebay, angkot Bandung itu ibarat kendaraan tuhan. Berjalan penuh misteri dan kejutan. Cuma tuhan yang tahu ke mana arah kemudi angkot bakal berjalan. Lenggang lenggok semaunya, maju mundur seenaknya. Belum lagi berhenti tanpa permisi di tengah jalan. Jelas, bagi pengendara pengguna jalan lainnya, angkot bikin emosi.

Tapi bagi angkoters sejati, angkot adalah ajian andalan. Keistimewaan angkot Bandung adalah melayani rute yang nggak kebayang sama sekali, blusukan masuk perumahan atau pemukiman padat yang jalannya kecil-kecil itu. Dan waktunya juga sepertinya nggak terbatas. Sejumlah angkot yang lewat jalan protokol beroperasi sampai dini hari. Takjub? Jelas..! Di kotaku layanan angkot cuma sampai jam 6 sore.

Edun lah! Angkot ini memang salah satu ikonnya Bandung. Sebuah perusahaan kreatif bahkan sampai mengabadikan jalur angkot Bandung dalam desain kaos.

Bandung Itu Lutju #2: Balada Caheum-Ledeng

Bandung itu Lutju #1: Atas Bawah Tunjuk Arah

Orang di tiap daerah punya cara khas untuk menunjukkan arah. Urang Bandung ternyata suka menjelaskan lokasi berdasarkan ketinggian, di atas atau di bawah. Masalahnya, patokannya gak selalu jelas. Perlu mata setajam mata elang untuk bisa membedakan ketinggian permukaan jalan.

Di awal kedatanganku di kota ini, jelas penjelasan macam itu gak menjamin aku sampai tujuan dengan lancar tanpa nyasar. Misalnya nih, pernah aku tanya di mana jalan Laswi pada seorang bapak di pinggir jalan. Jawabannya bikin aku melongo …

“Oh, itu neng, Laswi mah dari Jalan Riau ini teruuus aja ke bawah.”

Lha, kemiringan Jalan Riau ini kalau sepintas gak begitu keliatan. Beda ma Jalan Dago, Jalas Setiabudi, atau Jalan Sukajadi yang jelas-jelas kelihatan mana yang nanjak dan mana yang turun.

Ow ow .. ternyata orang Bandung ini sama semena-mena dengan orang Yogya yang suka nunjukin arah pakai mata angin: ngalor ngidul ngetan balik ngulon. Coba aja nanya alamat di kotaku itu, pasti jawabannya kira-kira gini, “Mbak ke utara dikit, lalu belokan pertama ngetan …” Ditanggung para pendatang itu mbundet.

Usut punya usut, orientasi ruang Urang Bandung yang berpatokan atas bawah itu memang terkait kontur jalan yang naik turun. Nenek moyang orang Sunda di Bandung ini gemar tinggal di tepi-tepi sungai dan sumber air. Ke mana air mengalir, itulah yang disebut bawah. Bawah itu berarti wilayah tengah sampai selatan kota. Sebaliknya, kalau ke atas, berarti ke tempat sumber-sumber air berada di Bandung utara seperti Punclut dan Dago.

Jalanan kuno yang dibikin Belanda mengikuti kontur ini. Ngutip dari penjelasan para peneliti cekungan Bandung, ruas-ruas jalan di kota ini mirip dengan rangka kipas. Bagian yang melebar ada di wilayah selatan, sementara merapat di bagian utara.

Persoalan arah atas bawah ini, tampaknya tetangga sudah khatam. Siang kemarin waktu kami jalan memasuki gang menuju rumah kos nomor 8, tiba-tiba dia berseru, “Wah, di bawah lagi ada hajatan tuh!”

Hhhm… kupikir dia sudah seperempat jadi urang Bandung.

Bandung itu Lutju #1: Atas Bawah Tunjuk Arah