Lelaki Tua Tertidur di Kursinya

Seorang lelaki tua duduk di kursinya. Tubuhnya mengerut tak menyisakan semangat masa mudanya. Terduduk dalam sepi bersandar pada angkuh kursinya. Kursi yang besar, tegak, hitam, tanpa senyum. Menelan tubuh lelaki tua yang kelelahan. Sedang apa kau pak tua?

Lelaki tua terduduk di kursinya. Menatap kosong penjuru ruang. Kenangannya berkelebat seperti hembusan asap rokok yang bergumulan di udara. Tak mau pergi. Harapannya masih tersisa di jendela, bersama titik-titik hujan yang tertinggal di jendela, abai dari sapuan kuas matahari sore. Memikirkan apa kau pak tua?

Lelaki tua terkulai di kursinya. Kuasanya kini seperti sehelai benang basah yang tak lagi mampu menopang tubuhnya yang renta. Kesedihan telah melumatkan mimpi senjanya. Lebur tak lagi terbaca, melesak dalam malam-malam yang tak kunjung jadi pagi. Ah pak tua pulanglah ke rumah. Siapa tau, masih ada semangkuk sup hangat dan ikan bakar pada meja makan malammu.

Lelaki tua tertidur di kursinya. Malam rupanya tak kunjung jadi pagi. Ia memilih bersandar pada angkuh kursinya. Besar, tegak, hitam, tak bersenyum. Kokoh menopang renta deritanya.

Pak tua memilih tidur di kursinya. Memeluk hangat mimpi masa mudanya. Pulas bersama semangat masa mudanya. Tengah malam ia terbangun … bertanya pada sepi: kapan mereka akan kembali?

Lelaki Tua Tertidur di Kursinya

Gang Delima

Kalau ada daftar tanaman yang menghilang dari pekarangan rumah, pohon delima musti dimasukkan ke daftar itu. Sekarang ini, mudah dihitung pake jari,siapa saja yang masih punya pohon delima di pekarangannya.

Dulu, delima kelihatannya jadi tanaman populer jadi peneduh pekarangan. Tapi sebetulnya, pohon ini lebih mirip semak tinggi ketimbang peneduh. Batangnya kecil-kecil tapi rimbun. Daunnya lebat. Sementara buahnya paling seukuran kepalan tangan menjuntai satu satu di sela-sela dedaunan. Bukan pohon yang cantik apalagi menarik.

Sangking populernya si delima ini, orang di kampung tempat tinggal Simbah di Purwokerto ramai menanam delima. Alhasil, waktu aku kecil, hampir setiap pekarangan di sepanjang gang punya pohon Delima. Buahnya kalau matang kelihatan ngawe-awe di atas pagar teh-tehan. Pantaslah kalau gang itu dinamai Gang Delima. Ya, karena memang banyak pohon delima. Tapi, biar begitu, aku nggak pernah kesengsem sama delima. Aseeeem.

Tapi itu dulu. Sekarang, 20 tahun berselang, gang itu masih disebut gang delima meski pohonnya udah jarang terlihat. Di pekarangan rumah Simbah aja udah lama tumbang kalah sama teras.

Tapi kayaknya aku berjodoh sama pohon delima. Ada pohonnya di rumah kosku sekarang. Bersisian dengan tanaman yang nggak kalah zadul, belimbing wuluh. Aku udah ngerasain hasilnya. Aseeem.

Tapi dasar si buah ini sekarang udah langka, akhirnya ada saja orang yang penasaran. Pernah ada satu tangkai buah disayang-sayang biar masak di pohon. Eh, baru setengah mateng, ada orang jahil yang nyolong. Ibu kos pun kecewa bukan kepalang.

Yah, gitu deh nasib si delima. Dibiarin ngilang, eh begitu langka dicari-cari. Jadi, pengen punya pekarangan njuk tanam delima. Sapa tau akhir tahun nanti nasibnya jadi kayak gelombang cinta .. yang perdaun bisa dihargai 50 ribu. Wah …

Gang Delima

Balada Buah Pome

Uugh .. gemas betul rasanya lihat iklan tentang buah pome!

Masih ingat nggak, beberapa waktu lalu muncul iklan minuman jus botolan yang mengusung rasa buah pome. Mbak Titi Kamal dengan lenggak lenggoknya yang khas memperkenalkan minuman jus buah pome ini. Sehat dan segar gitu kira-kira pesannya. Waktu itu tetangga nanya, “Buah pome itu apa sih?”

Lha sekarang ini muncul iklan lain lagi. Sebuah iklan koran kira-kira tulisannya: buah Pomegranate, buah kaya manfaat dan riwayat … bla-bla, dijelasin kandungan dan gunanya bagi kesehatan, bla bla … dimanfaatkan  sejak zaman bangsa Himalaya dan Persia pada 3500 SM, Yunani pada 500 SM, Inggris 1500 M, dan bla bla bla .. jreeeng Indonesia pada 2010 muncul gambar si jus kemasan kotak.

Nggak lama setelah iklan cetak itu muncul, aku lihat versi iklan televisinya. Tentu dengan kemasan yang lebih dramatik, jus merah yang mengucur tampak segar diimbangi suara narator yang lembut meyakinkan. Narator bilang inilah buah pome bla bla baik untuk kesehatan dan kesegaran tubuh.

Pome ..  pome …  pome …..! kata itu mengetuk-ngetuk kepalaku.

Ini keterlaluan sekali! Kenapa sih nggak dibilang aja, itu buah pome adalah Delima yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ada di tanah air ini!

Delima adalah simbol tua kesuburan dan kemakmuran. Entah ya, keyakinan ini apa mungkin karena bijinya yang banyak dan warna merahnya (kalau matang di pohon) yang menggoda itu.  Bijinya ini kayaknya memang jadi daya tarik, sampe orang Prancis bilang delima adalah apel berbiji, pomegrenade (kasihan ya…  nggak punya kosakata yang banyak sih sampe delima dibilang pome eh apel).

Baiklah, contoh yang jelas lainnya. Delima adalah buah wajib untuk upacara kehamilan tujuh bulan di Pulau Jawa. Pada upacara itu, orang Jawa, Sunda, dan Betawi mencampurkan delima bersama enam buah lainnya dalam rujak.

Keyakinan tradisional pada delima ternyata bukan gelembung kosong. Berdasarkan sejumlah penelitian, delima mengadung antioksidan jenis polyphenol dan tanin untuk melawan kanker. Konon, masih perlu penelitian lebih lanjut, kandungan antioksidan ini lebih tinggi daripada kandungan dalam teh hijau.

Walaaah.. mbok ya bilang aja kalau itu delima. Apa delima terdengar kalah lezat daripada pome?!

Balada Buah Pome

The Last Mumu

Dan kami pun tergelak saat aku memanggilnya Om Mumu, sementara dia lebih suka menyebut dirinya sebagai tetangga desa. Cerita kami lincah meluncur bersama gelombang suara sejam lamanya.

Sudah lama sekali kami tidak bertukar cerita. Dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, kami suka mengumbar obrolan nggak mutu: tentang teman sekelas kami yg juga lucu tur wagu, tentang guru kami yang mengenalkan pada Auguste Comte, atau tentang Mumu kucingnya. Aku menyebut kucingnya Mumu karena kucing itu memang hasil nemu .. entah dimana aku lupa.

Dan Mumu pun menjadi The Last Mumu. Dia ternyata nggak punya kucing lagi sejak Mumu pergi. Sejak dia kemudian jadi amat sangat sibuk dengan kelas barunya, dengan pikirannya, dengan urusan hatinya. Dan sejak itu pula kami pun tak pernah lagi bertukar obrolan nggak mutu. Kami tidak lagi pernah bertemu, pun merambatkan suara atau saling berkirim pesan.

Kemarin, setelah sekiaaaaaaan lama, tiba-tiba kami kembali tergelak dengan obrolan nggak mutu. Dia masih mengingat baik The Last Mumu, sama baik seperti aku mengingat senyum bocahnya dari kelas sebelah pada satu masa. Senyum bocah yang kuharap dia masih memilikinya meski itu sudah 15 tahun berlalu.

Hei, bisakah kamu tersenyum seperti itu lagi, untukku? …. Wah, nggak bisa ya? Hatimu sudah terlanjur beku rupanya …

The Last Mumu

Ada Sesuatu di Parkiran Sepeda

Ada yang baru di parkiran sepeda di kantor. Perubahan mencolok: tiga palang besi warna merah hijau dan kuning untuk menggantung dua puluhan sepeda yang parkir di situ. Sepeda-sepeda itu memang sengaja diparkir dengan cara digantung pada bagian sadelnya. Selain terlihat jauh lebih rapi daripada diparkir berdiri, sepeda-sepeda itu terlihat lebih gaya. Detil motif ban, lekukan stang, bentuk sadel, lebih jelas terlihat. Tapi … bagiku, gantungan sepeda-sepeda itu lebih mirip rentengan ingkung ayam di gerobak penjual bakmi Jawa. Duh.. jadi laper.

Aku sih senang ya, ada parkiran sepeda yang baik di kantor. Nggak seperti di mal atau tempat keramaian di Bandung, yang susaaaah bener mo cari parkiran sepeda. Penunggang sepeda biasanya terpaksa harus cari tiang listrik, tiang pager, atau tiang apa lah buat merantai sepedanya di situ biar nggak jalan sendiri. Setahuku, tidak ada parkiran sepeda di mal-mal itu yang sama bagusnya dengan di kantor …

Parkiran sepeda di kantor ini memang jadi lebih menarik perhatian. Setidaknya dalam empat bulan terakhir. Selalu, selalu ada seseorang yang selalu tampak sibuk mengatur sepeda-sepeda itu. Kalau aku lewat parkiran itu sehari tiga kali, ya sering kulihat orang yang selalu tampak sibuk itu ada di situ, mengatur sepeda. Parkiran sepeda ini memang tengah mendapatkan perlakuan khusus.

Parkiran sepeda ini memang baru dibuat. Sekitar empat bulan lalu, sejak sejumlah orang di kantor ini keranjingan sepeda. Eh, atau lebih tepatnya setelah sebuah toko distributor sepeda sukses menjaring dua puluhan konsumen di kantorku. Distributor itu sukses menampilkan citra bersepeda menjadi olahraga yang menyehatkan sekaligus gaya.

Gayanya …  ya lihat saja dari parkiran sepeda itu. Kebanyakan yang tergantung memang sepeda gunung dengan spesifikasi mulai dari untuk tanjakan jalan mulus hingga jalanan liar alam pegunungan. Tergantung setiap hari di situ. Musim hujan begini, ya masih saja banyak yang mulus dengan sedikit noda. Aku jadi heran, sebetulnya sepeda ini bener-bener untuk menerjang alam liar pegunungan atau nggak ya?

Awalnya, parkiran sepeda ini ada di belakang kantor. Dari luar nggak kelihatan. Dan itupun bukan lahan khusus, tapi harus berbagi tempat sama motor. (Nah kalo motor-motor ini luar biasa buthek dan kotornya!) Dulu, kuhitung cuma ada lima atau enam sepeda yang aktif keluar masuk. Tapi semenjak orang-orang kena virus naik sepeda dan punya sepeda baru, jumlah sepeda di parkiran pun nambah. Akhirnya, perlu tempat yang lebih lega. Motor pun diusir supaya diparkir di depan.

Tapi perkembangan selanjutnya, sepeda-sepeda inilah yang sekarang ini dipajang eh dipindah ke depan. Entah biar lebih lega atau biar lebih kelihatan, tak jelas benar alasannya. Yang jelas, sekarang ada tiga palang besi untuk menggantung sepeda. Setiap hari aku lewat, selalu, selalu ada seseorang yang selalu tampak sibuk mengatur sepeda-sepeda itu.

Ada Sesuatu di Parkiran Sepeda