Merdeka

Ini tidak ada hubungannya dengan hari kemerdekaan. Tapi sungguh, tanggal 17 Agustus ini aku merasa merdeka. Pemilik rumah nomor 8 sedang pergi keluar kota.. yippie!

Ya, hampir 3 tahun ini aku tinggal di rumah nomor 8. Temboknya berwarna merah jambu dengan pintu dan kusen jendela yang berkelir cokelat. Sementara plafonnya bercat putih bersih. Serasi. Di halaman depan, ada pohon delima dan belimbing wuluh yang ribun. Ada juga sebatang pohon yang aku nggak tahu namanya, kalau berbunga wanginya harus ke mana-mana. (Bukan bukan kantil atau kenanga. Kalau itu sih aku tahu. Sepupunya itulah, karena wangi bunganya sama-sama mengingatkan pada aroma kembang mistis) Ya, ya.. pendeknya, rumah nomor 8 ini berpenampilan cantik.

Kamarku nggak kalah cantik. (Kata bahasa iklan, rumah ini cantik di luar cantik di dalam!) kamarku di lantai dua. Punya balkon, meski tidak bisa dipakai untuk kongkow. Aku selalu bilang pada siapapun yang datang berkunjung bahwa kamarku punya pemandangan menarik yang terbaik: dari jendela kamarku, selalu bisa melihat kunang-kunang yang terbang di bukit dago pakar!

Satu lagi poin plus plus rumah nomor 8 ini adalah tempat mencuci baju. Diletakkan khusus. Ada di lantai teratas. Tempat cuci itu setengah tebuka. Sambil mencuci bisa melamun, rambut berkibar ditiup angin semilir dan bikin pikiran menerawang melayang layang sampai Manglayang. Aku suka sekali mencuci di sini meski tanpa mesin cuci, cuma dengan dibantu detergen yang konon katanya bekekuatan 12 tangan. Kegiatan mencuci jadi menyenangkan di rumah nomor 8 ini.

Ah, ya tentu saja, semuanya tidak sesempurna kelihatannya. Harus bayar mahal untuk mendapatkan semua ini. Bukan bukan. Bukan bayaran kos yang mahal, tapi perasaanku yang harus membayar kenyamanan itu jauh lebih mahal…

Ibu pemilik rumah nomor 8 ini sungguh penuh aturan. Aturan di rumah ini mirip dalam buku dongeng seri “tentukan petualanganmu sendiri!” Di setiap lipatan rumah pun ada instruksi. Di pagar masuk: buka tutup pintu harap pelan-pelan. Di pintu masuk ruang induk:sandal yang dipakai di luar tidak boleh di bawa masuk. Di jendela ruang tamu: sandal basah tidak boleh masuk ruangan. Di atas keran cuci piring:jangan jorok!dst.. dst (bagian ini terpanjang, karena sampai ada 3 halaman kwarto!). Di pintu kamar mandi:saklar kiri untuk mengidupkan lampu kamar mandi kiri. Lengkap dengan jargon “orang pintar tidak akan salah tekan”. Dan di balik pintu kamarku pun ada: menerima tamu menginap dua kali dalam sebulan. Dan keterangan di bawahnya ditulis dengan sipdol hitam tebal: pembayaran kos setiap tanggal 20.

Ya, sederet instruksi… Kalau dilanggar, jelas akan terkena pasal perbuatan tidak menyenangkan. Nggak diomelin sih, cuma bakal diomongin pada tetangga kamar yang lain. Huff.. beban perasaan lebih berat.

Tapi tanggal 17 Agustus kali ini, ibu pemilik rumah nomor 8 sedang ke luar kota. Aku pun dengan perasaan ringan menginapkan seorang teman selama dua malam yang tentu sedikit cekikikan malam-malam, memasak cumi asin yang baunya tentu menyengat, menyetel musik kesukaanku menjadi lebih keras, mencuci berlama-lama dengan bersiul ramai. Merdeka sodara-sodara!

Merdeka

Kreatip

Kreatip. Ditulis dengan huruf untuk mengganti lafal /ef/. Ya, inilah kreativitas ala Bandung.  Cerah, meriah, berwarna warni. Kalau ada kota berbudaya kreatif yang mengagumkan plus menghasilkan, itu pastilah Bandung.

Etalase kota yang kreatip ini ada di Lapangan Gasibu akhir minggu lalu. Selama tiga hari, ada hajatannya komunitas clothing dan distibution outlet bertajuk Kickfest 2008. Ini udah kali kedua mereka melaksanakan event itu.

Seperti tajuknya, acara ini ternyata nge-kick betul! Ada 120 unit clothing yang terlibat. Nggak cuma dari Bandung tapi ada juga beberapa yang dari kota-kota lain. Semuanya menjual beragam produk: topi, gelang, tas, sepatu, aksesori dan entah apa lagi. (aku nggak masukis emua stand) Tapi tentu saja namanya juga usaha clothing, ya produknya kebanyakan adalah baju: kaos, celana, kemeja. Semuanya dengan beragam bentuk, warna, dan desain.

Bukan pula Bandung namanya kalo desainnya biasa-biasa saja. Kota ini sudah terlanjur dikenal sebagai Parisj van Java, kiblat fashion tanah air, atau apapun lah itu sebutan sanjungannya. Yang jelas, desainnya memang khas anak muda pop perkotaan. Warna cerah bak taman bunga di bawah langit biru hingga gelap malam mendung yang paling sendu ada dalam desainnya. Potongan bajunya jangan ditanya.. wuih macem-macem pulak.. Ada yang manis imut berkerut merut, sampai yang digemari punk lady pun ada. Pendeknya, tinggal mau cari yang kayak gimana.

Tapi.. eits, jangan keburu antusias. Masuk ke arena Kicfest 2008, apalagi di waktu sore hingga malam, adalah uji kesabaran. Harus rela berdesakan, dan harus mau antre. Semua stand dipenuhi pengunjung. Bahkan, sejumlah stand dengan merek yang sudah dikenal sampai menetapkan pintu masukd an keluar yang berbeda, dan ada jam buka tutup stand. Wew.. Dan hebatnya lagi, keriuhan ini kalau diperhatikan dengan saksama wajah-wajahnya, hampir seluruhnya anak muda usia belasan sampai paling 30an. Yang  terlihat tua dan lelah ya para ortu yang mengantar anak remajanya. Nggak heran, dengan segala biang keriuhan yang ada, transaksi belanja orang-orang yang tumplek-blek itu sampai Rp 15 miliar!

Nah, itulah Bandung. Gerak putar uang itu ditenagai oleh apa? Semata kreativitas dan daya cipta yang amat sangat produktif, atau lebih pada minat orang muda Bandung yang gemar berdandan? Ah, mungkin itu nggak penting. Yang paling penting adalah semua orang pun bangga mematut diri dengan produk-produk lokal ini. Sebut saja 347/eat, Ouval, Rattle, Screamous, Invictus. Memakai merek-merek itu akan terlihat sama kerennya dengan memperlihatkan tulisan Polo, Calvin Klein, atau Ripcurl di kerah baju.

Bandung emang kreatip!

Kreatip