Tak Ada Waktu Untukmu

Dia memang cantik. Bentuk wajah serupa hati dengan dagu meruncing. ada gurat halus di dagu saat dia tersenyum. Ya, senyumnya sungguh menawan apalagi dengan lesung di pipinya. Sepintas, mirip Tante Desi Ratnasari.

Penampilannya pun menarik. Stelan bajunya serasi dengan tas dan sepatunya. Kalau blazernya cokelat tua, untuk dalamannya ia memakai blus putih berkerah kerut merut ala gothik. Sebagai padanannya, celana berbahan drill warna cokelat muda yang dipadukan dengan tas dan sepatu warna senada. Elegan. Meyakinkan. Perempuan itu mengaku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan daerah milik Provinsi Jabar.

Tadi pagi, dia kembali datang dengan senyum mengembang. Bergaya kasual dengan celana jeans 3/4 dan atasan blus kotak yang longgar. Tetap cantik dan menarik. Menyapaku dengan caranya yang khas: menggenggam tangan, menggamit lengan, dan mencium pipi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, ia masih saja gemar mengumbar cerita yang tak benar.

Maaf, kali ini aku tidak punya waktu ngobrol panjang lebar denganmu. Aku sudah tahu tentangmu, suamimu, dan tanggungan hutang-hutangmu! Sudah cukup kamu mempermainkanku.

Tak Ada Waktu Untukmu

Cerita tentang Mbak Cantik

Gaduh saat masak? Atau bersenandung riang kala mencuci baju? Atau terlalu tergesa menutup pintu pagar hingga menimbulkan suara berisik? Atau cekikikan saat terima late night phone call? Kalau kamu penghuni rumah kos nomor 8, jangan coba-coba melakukan hal seperti itu! Dijamin, kamu bakal kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.

Sudah kondang seantero gang, rumah kos nomor 8 ini seperti rekaman adegan film rekaan “membaca di perpustakaan”. Sungguh toto titi tentrem adem ayem. Tak ada gejolak harga minyak apalagi huru hara. Tulisan berukuran besar yang nempel di kaca jendela ruang tamu menegaskan kondisi ini: Kos putri baik-baik.

Memang awalnya nggak mudah menerjemahkan kata “baik-baik”. Tapi dari aturan yang diterapkan, kriteria baik-baik adalah tidak berbicara keras-keras, tidak berisik saat nyuci baju, tidak sok bersenandung merdu saat nyuci baju, tidak gaduh saat memasak, tidak memasak makanan berbau tajam, selalu rajin beberes kamar, tidak lupa mematikan lampu kamar mandi, tidak boros air, kalau nyimpen makanan di lemari nggak sampe basi busuk, kalau jalan berjingkat-jingkat, tidak malas menjejer rapi sepatu dan sandal di rak yang sudah disediakan.

Banyak? Ah, itu relatif. Itu baru sedikit bagian dari deret ukur kebaikan ala rumah kos nomor 8. Apakah aku masuk kriteria baik-baik? Ya, sudah pasti! Aku sudah bertahan tiga tahun lebih di rumah itu. (untuk prestasi yang satu ini aku sendiri juga heran, hehehe)

Ah, tapi itu cerita lalu. Saat ini, sepertinya angin perubahan sedang berhembus lewat ventilasi. Semilir, menyejukkan, memberi harapan. Sang pemilik rumah kini lebih toleran.

Toleran?? Iya, toleran. Seminggu ini warga rumah kos nomor 8 sungguh riang. Sedikit canda tawa jam 4 subuh sungguh tak mengapa. Tetangga malah ada yang pacaran di pagar rumah saat sudah lewat jam malam. Ada juga yang teledor menjatuhkan panci pas nyuci jam 10 malam tanpa kena teguran.Ada lagi yang dengan sengaja menaruh begitu saja tumpukan sayur mayur bercampur panci dan piring kotor.

Bukan, bukan karena berkah Ramadhan atau hal-hal religius lainnya. Tapi dugaanku yang ngawur dan serampangan mengatakan ini adalah perubahan kecil yang dibawa oleh si mbak cantik nan gemar berbohong.Si mbak cantik berpenampilan menarik ini jadi warga rumah kos nomor 8 terhitung pada Februari lalu.

Tapi kemunculan si mbak cantik ini seolah mengguncang tatanan kebaikan. Si mbak berpenampilan baik dan berjemari lentik ini ternyata kelakuannya nggak baik: tukang ngutang dan ngemplang. Ia menghilang setelah ketahuan mangkir bayar kos selama 3 bulan, ngutang uang pulsa beberapa ratus ribu, dan sok belaga lupa harus bayar utang ke tetangga-tetangganya. Si mbak cantik ini sudah tidak kelihatan jemari lentiknya selama enam bulan terakhir. Paraaaaaah!

Nah, mungkin karena awalnya si mbak cantik ini penampilannya dan unggah ungguhnya masuk kriteria baik-baik, maka ia dapat puja puji dari sang pemilik rumah kos nomor 8. Tapi, lama-lama ya keliatan belangnya. Sekarang sang pemilik keliatannya mulai hilang sabar buat nungguin si mbak cantik balik ke kos buat ngelunasin semua utangnya. Dan mungkin karena itu juga, sang pemilik mulai berpikir ulang dengan deret ukur kebaikan yang sudah diterapkan.

Yang jelas, kendornya ukuran kebaikan ini bikin warga bernafas sedikit lega. Udara ruangan terasa lebih segar, ceria, ringan, dan gembira. Hayo… tebaak, bertahan berapa lama seperti begini?

Cerita tentang Mbak Cantik