Bebek Jalanan

Aku suka makan bebek. Mau digoreng atau dibakar, daging unggas yang satu ini terasa begitu gurih sekaligus berlemak di langit-langit mulut. Nikmat.

Ada sejumlah warung bebek favorit di Bandung. Paling favorit di A Yayo. Tapi, muncul rasa penyesalan tiada tara setelah menandaskan sepiring nasi mengepul, sambel korek, lalapan, dan tentunya daging bebek gurih sekaligus berlemak. Rasa gurih sekaligus berlemak itu adalah a silent killer: meningkatkan kolesterol darah sekaligus mempertebal pundi-pundi lemak di lipatan tubuh Anda.

Demi melunasi rasa penyesalan itu, aku dan the girl next door sampai bikin semacam janji-kesepakata-komitmen-gentleman’s agreement tidak akan makan bebek tanpa gowes. Tapi jelas kami bukan gentleman, alhasil beberapa kali agreement ini pun dilanggar. Makan bebek tanpa gowes. wew ..

Tapi bebek yang kulihat kemarin siang sungguh jauh dari nikmat. Alih-alih laper, yang ada sedih.  Yang kulihat kemaren adalah pemandangan seorang bapak setengah baya membawa belasan bebek di bagian belakang motor bebeknya. Bebek-bebek itu dibawa dengan digantung begitu saja hingga kepalanya menjulur ke bawah.

Bagi bebek yang beruntung, kepalanya terjulur sambil toleh kanan kiri tidak kurang suatu apa. Tapi bebek yang tidak beruntung, kepalanya terantuk di atas knalpot yang panas. Dan bebek-bebek yang sangat tidak beruntung kepalanya tersangkut ruji motor sehingga berdarah dan nyaris putus … huhuhu. Kasihaaaan.

Saat itu juga aku kepikiran. Mana yang lebih membuat si bebek menderita ya, mati karena leher terlibas ruji atau dia mati terpotong dan terpanggang dan terlumat di perutku?

Advertisements
Bebek Jalanan

Balada Buah Pome

Uugh .. gemas betul rasanya lihat iklan tentang buah pome!

Masih ingat nggak, beberapa waktu lalu muncul iklan minuman jus botolan yang mengusung rasa buah pome. Mbak Titi Kamal dengan lenggak lenggoknya yang khas memperkenalkan minuman jus buah pome ini. Sehat dan segar gitu kira-kira pesannya. Waktu itu tetangga nanya, “Buah pome itu apa sih?”

Lha sekarang ini muncul iklan lain lagi. Sebuah iklan koran kira-kira tulisannya: buah Pomegranate, buah kaya manfaat dan riwayat … bla-bla, dijelasin kandungan dan gunanya bagi kesehatan, bla bla … dimanfaatkan  sejak zaman bangsa Himalaya dan Persia pada 3500 SM, Yunani pada 500 SM, Inggris 1500 M, dan bla bla bla .. jreeeng Indonesia pada 2010 muncul gambar si jus kemasan kotak.

Nggak lama setelah iklan cetak itu muncul, aku lihat versi iklan televisinya. Tentu dengan kemasan yang lebih dramatik, jus merah yang mengucur tampak segar diimbangi suara narator yang lembut meyakinkan. Narator bilang inilah buah pome bla bla baik untuk kesehatan dan kesegaran tubuh.

Pome ..  pome …  pome …..! kata itu mengetuk-ngetuk kepalaku.

Ini keterlaluan sekali! Kenapa sih nggak dibilang aja, itu buah pome adalah Delima yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ada di tanah air ini!

Delima adalah simbol tua kesuburan dan kemakmuran. Entah ya, keyakinan ini apa mungkin karena bijinya yang banyak dan warna merahnya (kalau matang di pohon) yang menggoda itu.  Bijinya ini kayaknya memang jadi daya tarik, sampe orang Prancis bilang delima adalah apel berbiji, pomegrenade (kasihan ya…  nggak punya kosakata yang banyak sih sampe delima dibilang pome eh apel).

Baiklah, contoh yang jelas lainnya. Delima adalah buah wajib untuk upacara kehamilan tujuh bulan di Pulau Jawa. Pada upacara itu, orang Jawa, Sunda, dan Betawi mencampurkan delima bersama enam buah lainnya dalam rujak.

Keyakinan tradisional pada delima ternyata bukan gelembung kosong. Berdasarkan sejumlah penelitian, delima mengadung antioksidan jenis polyphenol dan tanin untuk melawan kanker. Konon, masih perlu penelitian lebih lanjut, kandungan antioksidan ini lebih tinggi daripada kandungan dalam teh hijau.

Walaaah.. mbok ya bilang aja kalau itu delima. Apa delima terdengar kalah lezat daripada pome?!

Balada Buah Pome

Kejujuran Lidah

Memang lidah nggak bisa bohong.

Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.

Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini itu. Seminggu terakhir ini, meja urusan logistik di tengah ruangan pun penuh makanan: makanan kemasan pabrikan, minuman kaleng, kue-kue kering dalam kemasan plastik yang cantik, dan kue-kue tart berdekorasi aduhai. Bingkisan makanan ini menlengkapi sajian makanan kecil yang sering tampil dari para simpatisan yang berbaik hati membagi menu berbukanya. Makanan kecil yang sering muncul dari para simpatisan ini seperti: agar-agar made in Nanik, gorengan tahu, tempe, cireng, yang sering dibeliin Nanik, Martabak telor atau lunpia favorit Luhur.

Nah, bak panggung aduan, ternyata makanan yang kerap muncul berbarengan ini beradu laris. Ternyata yang paling cepat tandas adalah gorengan! Gak peduli apa yang digoreng, entah martabak yang agak berkelas kaki lima mahalan dikit, tempe yang cokelat gelap karena memakai minyak 10 kali pakai, hingga cireng kenyal alot karena sudah dingin, lebih cepat laris manis tanjung kimpul. Sementara, bingkisan hotel yang cantik menik-menik itu ternyata lebih sering mengendap dulu di kulkas untuk disajikan lagi  besok sorenya.

Mungkin inilah yang disebut selera dan cita rasa. Bicara soal rasa, memang lidah nggak bisa bohong. Soal kelas dari mana asal muasal makanan dan bagaimana penyajiannya? Halaagh …

Kejujuran Lidah

Toko Kue Ibu-ibu

Aku masih mengantuk. Tapi, ini adalah pagi yang sibuk. Nggak peduli jam masih menunjukkan pukul 06.00, tapi aku sudah memaksa diriku untuk beringsut. Aku musti mempersiapkan diriku untuk menembus kerumunan ibu-ibu! Aaah, pagi-pagi dan ibu-ibu yang mengerumuni kue fresh from the oven, jelas bukan perpaduan kata favoritku. Apalagi dua hari menjelang liburan Lebaran seperti hari ini.

Bukan toko kue di Kota Bandung namanya kalau tidak dipadati ibu-ibu. Jangankan yang bangunannya magrong-magrong di pinggir jalan protokol, yang di gang sempit pun asal sudah punya nama pastilah ramai. Salah satunya ya toko kue di Jalan Kamuning ini.

Bronis panggangnya terkenal garing dengan cokelat legit yang manisnya pas. Sementara di etalasenya dipenuh dengan kue-kue basah mulai dari jajanan pasar hingga bolen, pastel, dan schootel ala negeri Belanda. Belum lagi kue kering dan camilan dalam kemasan-kemasan plastik yang cantik itu… Rasanya? Jelas boleh diadu.

Nggak heran, toko kue ini selalu jadi incaran ibu-ibu yang punya acara keluarga, ibu-ibu yang mau bikin arisan,  ibu-ibu yang suka ngemil, pelancong ibu-ibu yang berwisata kuliner ke Kota Bandung. Lha kok semua ibu-ibu? Ya memang kebanyakan yang dateng ibu-ibu. Kalau nggak percaya, datang saja ketika toko baru buka pukul 07 sampai mau tutup pukul 20!

Tapi berkat ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa inilah aku pun yakin bahwa toko kue yang satu ini memang masuk kategori highly recommeded. Dan pagi ini, kembali aku mempersiapkan diri untuk menembus kerumunan ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa itu.

Dengan tak kalah cekatan dengan para ibu itu, aku memasukkan ke dalam kerangjang belanja: satu bronis panggang rasa keju, dua cake pisang panggang, dan satu bolu ketan hitam pandan kukus. Plus satu plastik kue kering almond. Kubayar dan lantas kutata rapi dalam tas merah marun. Aku pun pulang dengan hati riang. Besok, penganan itu akan kujejer di meja makan di rumah. Kue-kue itu pesanan ibuku.

Toko Kue Ibu-ibu

Manis, tapi Jual Mahal

Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.

Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.

Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!

Tapi, ono rego ono rupo. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran – ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan – harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.

Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.

+ Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu!

Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak. (dengan rayuan semanis mangga tentu saja)

Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?

Manis, tapi Jual Mahal

Fakta

Dapet kerjaan gak penting dari the girl next door. Dan inilah 10 remahan fakta tentangku.

1. Kruwil. Huehe.. kalau ini sih semua orang juga bakalan tahu begitu bertemu denganku. Yak. Rambutku berombak. Makanya, begitu aku memberi sentuhan dikiiit aja pada rambutku, sejurus kemudian menuai tanggapan. Emang sih, kalo abis creambath apalagi abis potong rambut, rambut kruwilku bakalan tampak jinak. Intinya, ketika potongan rambut cepak abis, kelihatan lurus. Agak panjangan dikit, ya beromba. Nah kalo panjang.. itu nguwel kruwel kruwel. Maka dari itu, aku nggak pernah nyolong waktu kerja buat nyalon … abis bakalan ketauan sih. Susah ngelesnya ..

2. Paling ngeri sama kodok. Mungkin nggak cuma aku yang mengalami ini. Tapi sumpaaah, kalo ngeliat kodok, rasanya kulitku ini langsung berkerut. Detak jantung 10 kali bertambah cepat hingga dada ini rasanya lupa menarik nafas. Otot leher meregang, dan bulu kuduk meremang. Huhuhuhu … aku nggak mau ketemu kodok. Tapi ngeri juga sih sama cicak dan tokek. Whatever… mereka menyeramkan!

3. Pecandu soto. Kalau ada makanan yang nggak ada bosan-bosannya pengen kuseruput, itu pastilah soto. Apalgi nih, kalau soto itu berkuah bening berminyak dengan ayam kampung yang lembut beraroma menggoda. Ya, sebutlah Soto Kadipiro di Yogya, Soto Kudus yang di makan juga di Yogya. Atau kalau soto yang isinya rame pun aku suka, macam Soto Jalan Bank di Purwokerto. Waduh.. adanya cuma enak dan enak banget. Tapi eits, aku nggak terlalu suka soto daging sapi. Rasanya berat di lidah, yaa macam Soto Madura, Soto Sulung, Coto Makassar.

4. Pecinta senja. Banyak orang romantis yang bilang bahwa senja adalah simbol keredupan. Selalu bilang, usia senja. Atau seperti kata lagu Jikustik yang baru “Tetap Percaya”, senja akan berganti fajar. Tapi bagiku, sesuatu di keremangan senja itu sangatlah sentimentil. (aku nggak bisa bilang itu selalu indah.) Langit barat yang memerah jingga, bayangan gedung yang memanjang, matadewa yang tersangkut di ujung menara sana, atau melihat bayangan senja di sebuah lembah antah berantah melalui jendela kereta Lodaya Pagi. Wew… semua itu seperti memutar sebuah lagu di kepala. Kadang hati menjadi hangat kadang juga menjadi senyap .. duh.

 5. Peminum wortel. Iya, aku bilang peminum. Karena aku selalu berusaha memenuhi janjiku pada tubuhku untuk meminum sari wortel seminggu tiga kali. Warna oranyenya segar menerbitkan air liur, penuh beta karoten yang baik untuk mata. Mengandung antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Kandungan seratnya konon baik untuk kulit wajah karena mengurangi minyak. Hmm, sumpah kasiat yang terakhir ini kayaknya tidak terbukti. Aku bak selalu jadi remaja puber karena taburan jerawat di wajah. Begitu juga yang kedua, karena mataku tetap saja minus 1.5 dan silinder 0.5. Tidak mengapa. Jus wortel itu segar, apalagi jika dicampur sesendok madu bunga liar. Sruuulp.

6. Pantai. Pantai. Pantai. Iyak, itu tempat liburan favoritku. Rasanya menhirup udara laut yang asin dan bergaram, berenang di pantai sampai badan berbau matahari, rambut gimbal alami, itu menyenangkan! Pantai favorit?  Pantai Ngrenehan!!! (jawaban orang kurang pikinik sebetulnya) Teluk kecil di sebuah rongga pesisir selatan Gunung Kidul ini sungguh menyenangkan. Nggak terlalu jauh dari kota Yogya. Di sini, bisa melihat senja dan bola jingga, melihat bulan perlahan muncul dari balik bukit, mereka-reka rasi bintang, tidur dengan backsound deburan ombak, dan… paginya nyemplung berenang!!  

7. Penikmat teh. Bisa dibilang, ini minuman keluargaku. Waktu kecil, simbah sering bikin teh yang ditempatkan dalam teko porselen. Teh di teko ini rasanya selalu hangat karena tekonya ditaruh sedemikian rupa di dalam sebuah bantalan busa. Teh ini mereknya Tong Ji. Beranjak remaja, ibu selalu membagi segelas teh hangat. Kali ini, tidak ada lagi teko berbantalan busa. Cukup air hangat dalam termos. Kalau mau buat teh, ya tinggal seduh lagi. Teh yang ini mereknya Catut atau Tang. Ya ya, sampai sekarang kebiasaan itu masih berlaku di rumah. Nah, kebiasaan itu masih aku bawa sampai sekarang di tempat baruku. Merek tehnya sih nggak sefanatik zaman dua generasi di atasku. Aku suka teh rasa vanili berbungkus merah dari Malang, atau Walini dari Bandung, atau teh seduh dari gunung Dempo, atau Wonosobo. Malah baru-baru ini, aku diberi Teh Jawa yang marak di Gunung Kidul, dan Teh Prendjak yang kata si pemberi bisa bikin aku ngoceh. Ayo ayo.. ngeteh bareng.

8. Pemerhati kucing. Kalau ada binatang yang bisa membuatku bercerita banyak, itu pasti kucing. Ya, tentu cerita yang menyenangkan. Aku pernah bilang pada the girl next door, bahwa si kucing berwajah gembil berbaju kuning, bertubuh gempal yang selalu berseliweran di muka kosan kami adalah raja preman. Entah dia percaya atau tidak. Atau aku pun bilang bahwa, si Melly kucing ibu kos kami ingin masuk ke dalam rumah. Waktu itu dia tampaknya terpaksa percaya, karena si Melly langsung membututi kami begitu kami masuk. Di rumah, ibuku punya sembilan ekor kucing. Semua ada namanya, tapi aku tidak hafal. Satu yang aku ingat adalah Tam. Dia selalu malu-malu kucing. Waktu aku pulang ke rumah 2 minggu lalu, dia menitipkan salam. Untuk lelaki bersuara semilir angin katanya.

9. Katakan TIDAK pada film horor! Katakan YA pada honor. Eh, nggak nyambung. Aku suka berbagai jenis film, mau nonton film seaneh apapun, asal bukan film horor. Gimana ya? Melihat posternya saja sudah ngeri, lha kok mau coba-coba lihat filmnya. Apalagi kalau judulnya sudah berbau-bau kamboja macam Sarang Kuntilanak, Tusuk Jalangkung, Pulau Setan. Aiiiiy … Tapi, jangan salah, dulu aku suka nonton filmnya Tante Suzanna, macam Beranak dalam kubur, atau Malam Jumat Kliwon, Sundel Bolong. Nggak tahu ya, kayaknya dulu itu dia begitu menjiwai sampai bikin aku penasaran ma film-film itu. Kayaknya dia juga yang akhirnya mematok pakem bahwa hantu harus selalu berbaju putih, berambut panjang awut-awutan, mata menghitam, muka memucat, dan muncul malem hari di tempat sepi banyak pohon gede.

10. Cinta Lansia. Maksudku di sini, aku cinta pada Taman Lansia. Ituuu, taman di Cilaki yang cuman berjarak 10 menit jalan kaki dari kosanku. Nyaman banget berjalan-jalan di situ. Mo joging nyusuri trek yang tersedia juga bersemangat. Janjinya pada tubuhku sih, dua kali seminggu. Biasanya aku olahraga sekitar 30 menit di situ. Namanya juga janji, kadang ya kuingkari. Apalagi kalu bukan karena alasan malas bangun pagi ..

Nah, itu remahan fakta gak penting tentangku. Dan karena ini pesan berantai, maka aku rantaikan lagi ke 10 tetangga berikut ini: Warung Yenti, Kaki Kecil Rani, Ken Terate, Negeri Kata Alex, Munggur, Sari, Dunia Sophie, Rumah Domie, Adidassler, Marput.  

Cara ngerjain PR-nya sebagai berikut:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Fakta