Rumah Hijau

Akhirnya aku tertampung di rumah berteras hijau. Di sudut halaman milik Bapak dan Ibu Ro.

aku lebih suka menyebutnya rumah hijau. seluruh dinding rumah ini memang bercat hijau, termasuk rangka jendela dan tulang atap, semua semuanya hijau. mungkin biar berkesan adem. satu pot tanaman menjuntai tergantung di sudut teras dekat talang air menambah kesan adem. betul, ini adem. apalagi kalau bandingannya jalanan ibu kota yang selalu panas kemrungsung.

rumah hijau punya ruangan yang cukup lega. aku bisa menumpuk kardus di ruang depan. ruang yang semestinya jadi ruang tamu dan duduk-duduk ini akhirnya dipaksa menjadi tempat penyimpanan, ruang jemuran dan garasi. hebat toh? tapi ada yang kurang.. aku kelangan meja seperti milik keluarga rabel dulu. selain itu, hijau-hijau tapi ya tetap sumuk. satu kipas penyedot udara di ruang tengah nggak pernah kumatikan jika aku berada di dalam. begitu juga dengan kipas angin yang sengaja kutaruh dekat pintu supaya mendorong angin hilir mudik di ruangan.

tapi nggak apa. yang terpenting adalah kasurku. kasur yang nyaman dan merepotkan itu akhirnya bisa membuatku tidur pulass. awalnya, sudah berencana menjual kasur yang merepotkan itu karena kamar kos di ibu kota yang sak tupil tupil kecilnya itu nggak akan bisa memuatnya. tapi batal jual berkat Mbak Nur.

Makasih lho Mbak Nur yang sudah dengan rela hati berbagi kontrakan ūüôā

Rumah Hijau

Cerita Jakarta #3: Awas Rayuan Makelar!

Semalam Nik mengunggah iklan rumah kontrakan lawas kami di fesbuk. Rumah rabel yang sebetulnya masih menjadi hak kami ternyata sudah diiklankan lagi oleh makelar. ini seperti membangkitkan kembali amarah lama yang terpendam. saatnya menyiapkan amunisi mengusik kalau perlu membalas ulah para makelar semprul ini.

Berhati-hatilah bagi Anda, atau siapapun yang tertarik dengan iklan tawaran rumah ini. kami (aku dan dua sahabat), pernah mengontrak rumah ini pada periode 2011-2012. seharusnya, bulan ini pun kami masih berhak tinggal di rumah tersebut karena memang sudah mebayar PENUH untuk dua tahun. tapi dengan alasan rumah ini dalam sengketa, kami dipaksa meninggalkan rumah itu tanpa si pengelola ataupun si makelar rumah mengembalikan apa yang menjadi hak kami.

hati-hati karena rumah ini memang penuh masalah. rumah ini masih dalam sengketa yang tidak jelas kepemilikannya. ada Bapak Ahmad Sugiono, pengelola pertama yang sudah bertransaksi dengan kami pada bulan Januari 2011.  Dan kami sudah membayar penuh kontrak rumah untuk dua tahun (2011-2012). Pada waktu itu, kami membayar dengan bukti transaksi kwitansi dan tanda tangan di atas materai. artinya transaksi itu sah dan bermuatan hukum. pada waktu itu Bapak Ahmad Sugiono menyatakan bahwa dirinya adalah pengelola yang bertanggung jawab atas rumah itu. kami pun tinggal nyaman selama kurang lebih delapan bulan, hingga akhirnya muncul pihak mengatasnamakan Ibu Ika.

Tidak jelas betul siapa Ibu Ika ini. konon kabarnya sangat sibuk karena bekerja di sebuah kementerian dan memiliki posisi di sana. karena itulah, dalam berhubungan dengan kami, dia selalu mengutus si mbak makelar cantik bernama Ibu Sinta dan temannya .. (ah lupa). pada suatu malam Ibu Sinta ini pernah membawa-bawa orang berseragam polisi ke rumah rabel (begitu aku menyebut rumah ini). dia megklaim bahwa rumah itu adalah milik Ibu Ika, dan pihak Bapak Ahmad Sugiono  tidak berhak mengelola rumah itu lagi.

Singkat cerita, tiga orang inilah yang lantas menjadi lakon dalam babak rumah rabel. sebetulnya tidak pernah jelas, siapa yang memiliki rumah ini, karena tidak ada satu pun pihak yang BISA menunjukkan BUKTI kepemilikan rumah. dan hingga saat ini, aku menganggap bahwa ketiga orang sialan ini memang makelar. tapi sial bagi kami, saat itu aku dan dua sahabat sedang dalam urusan masing-masing sehingga tidak solid dan mudah tercerai berai. Put sedang tensi tinggi dengan pekerjaannya, Nik dalam suasana berkabung, dan aku sendiri sedang sekolah di Rotterdam. kami pun dengan mudah dipatahkan oleh mereka. tapi sungguh, hingga saat ini aku tidak pernah terima ulah para makelar yang berani mengusir kami dari rumah kontrakan tanpa pernah mengembalikan apa yang menjadi hak kami. persoalan kami dengan para makelar ini belum selesai tetapi mereka secara ngawur dan serampangan sudah mengiklankan rumah ini. terlalu.

Para pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, silakan hubungi aku. aku tidak takut dengan gertakan kalian para makelar semprul. dan bagi Anda atau siapapun yang tertarik dengan iklan ini, jangan keburu jatuh hati. Cek lagi bukti-bukti kepemilikannya supaya tidak bernasib sial seperti kami. tapi sesial apapun, ada pelajaran yang sangat berharga sebagai bekal hidup di Jakarta: Jangan mudah terbujuk rayuan makelar!

Cerita Jakarta #3: Awas Rayuan Makelar!

Tot Zien!

Rasanya seperti baru kemarin, menikmati bangku sekolah yang kalau diduduki dalam kelas intesif sehari penuh selalu bikin sakit punggung, melongok perpustakaan dengan rak berwarna-warni, dan tentu saja kerja kelompok yang bisa menaikkan tensi darah dua atau tiga level. dan aku selalu menikmati duduk di meja belajar warna kuning di kamar, meja yang sengaja kuhadapkan pada pemandangan rel kereta yang menjelujur ke mana-mana, membiarkan pikiran mengelana bebas ke mana-mana, kadang tersesat di belantara serat optik yang berisi centang perentang jurnal-jurnal yang bertebaran. kadang pikiran juga nyangkut di jeruji sepeda yang membawaku keliling kota, menikmati dermaga tua dengan kapal-kapal kayu maupun besi yang berlalu lalang. memori pun berhamburan, terselip di belantara Rotterdam, mungkin puncak Erasmusbrug, mampir di museum, kadang tercebur di kanal, atau bahkan nyemplung sungai Maas.

betul, setahun rasanya terlalu singkat. pepohonan yang merontokkan daunnya pernah membuat hatiku pun rontok. untung saja otak dan mental nggak ikut rontok menghadapi musim ujian. musim dingin bersalju dengan kristal air yang menempel di ujung ranting juga pernah membuatku tenggelam dalam muram winter blues. untunglah, musim semi segera datang menumbuhkan tunas-tunas hijau penuh harapan. hati pun menghangat dengan senyum sahabat dan pertemanan antar benua. hingga musim panas yang terik datang dan membuat aku tenggelam dalam proyek tesis yang rasanya nggak akan pernah selesai.

dan ternyata selesai juga! selesai sudah babak hidup menjadi Rotterdamer selama setahun. sekarang saatnya melipat kenangan dan memasukkannya dalam koper. hup.

Tot zien allemaal! sampai jumpa lagi!

Tot Zien!

Kubikel Baru Warna Biru

Put mengirim pesan singkat lewat jejaring elektronik. ia mengirim foto kubikel terletak di sudut dengan jendela yang gelap. terlalu gelap sampai aku nggak bisa melihat ada apa di baliknya. tapi Put meyakinkan bahwa itu adalah bakal kursi dan mejaku. menghadap langit dan riuhnya Jakarta, begitu katanya. dan yang akan menjadi tetanggaku adalah tentu Yoh, si politikus negara gagal (makasih lho, pasti kamu sudah banyak nanggung dan njawab selama ini .. :P)

Nyess. di saat aku sedang memikirkan belantara Jakarta yang sebentar lagi bakal kusambangi lagi, jelas sapaan itu bikin adem sekaligus ngikik geli. ya, aku kangen kalian. inilah model keramahan Jakarta yang lain. sekarang aku harus membiasakan untuk bilang bahwa Jakarta adalah kota kita. suka nggak suka, ke situ juga aku akan kembaliii (lagu lawas tiba-tiba muter di kepala)

ya, Put cerita kalau ruangan kami sudah dibongkar dan dirombak. kubikel kini berwana biru langit. dan aku kebagian di satu sudut berjendela. perfecto! aku suka sudut, apalagi dengan jendela. tinggal aku tempatkan rentengan padi Cianjur aseli dan angklung kecil lawas (semoga masih ada) lengkap dengan perlengkapan simpel wedangan. sudut yang sempurna. termasuk bagi tetangga, Jek, yang hobi warungan pagi sore tapi nggak modal. ya, ya, aku siap bilang bahwa Jakarta kota kita, makarya bersama di pabrik kata-kata. tapi tunggu tunggu.  tidak terlalu cepat.. aku selesaikan dulu ribuan kata yang sedang kususun sekarang. menyambangi sebentar negeri-negeri yang jauh. dan tentu, ke Jakarta aku akan kembali. sungguh lagu lawas itu kali ini tidak terdengar sumbang.

Kubikel Baru Warna Biru

Usul, Jadi Pengelola Saja!

kawan sekelas yang kebanyakan dari pemerintahan setidaknya bikin aku mikir, betul nggak mudah jadi pemerintah. apalagi kalau harus ngatasi persoalan yang mbundet, nggak ketahuan mana ujung dan mana pangkalnya. tapi rasanya juga gemas. lha kok, kita nggak kunjung bisa ya bikin pemerintahan yang baik dengan aturan yang benar untuk kepentingan warga? katanya negara demokrasi, katanya desentralisasi, katanya ekonomi makro sudah stabil, mana .. manaaa… ? wew

jangan-jangan persoalannya sebetulnya sederhana. itu gara-gara kita biasa menyebut lembaga negara itu sebagai ‘pemerintah’. mari diutak atik awalan dan akhiran. ¬†itu kan berarti orang yang memerintah. artinya, ya memang bisanya memerintah. harus begini, mari kita begitu, bersama kita begini, dan bisanya ternyata cuma segitu.

mungkin baik juga ya kalau ada usulan ke lembaga bahasa Indonesia supaya sebutan untuk institusi itu diganti kayak jaman dulu. pamong praja misalnya. tapi nanti dikira Jawanisasi. pemomong, juga sepertinya kurang tepat karena berarti menganggap masyarakat nggak pernah dewasa dan maunya di-emong saja (lha kok Jawa lagi). atau mungkin baiknya pengabdi? kesannya menghamba banget, nanti ada yang nggak terima. susah juga, karena aku memang bukan ahli bahasa yang baik dan benar. nggak tahu gimana caranya dapat kata yang biasa-biasa saja, tidak menyepelekan, tapi juga tidak menyanjung berlebihan.

tapi nggak apa, aku usul saja gimana kalau jadi sebutannya netral. ‘pengelola’.¬†memang sih, kesannya jadi nggak berwibawa. terlalu datar, karena kita sudah terbiasa menybut kata ‘pengelola’ untuk orang yang mengelola gedung misalnya. dan memang kata itu terkesan rentan kritik. gedung rusak tinggal komplen ke pengelola. saluran macet, komplen lagi. atap bocor, komplen lagi. kurang itu ini ya komplen lagi. kalau nggak bener-bener juga, besok lagi nggak pakai pengelola yang sama. kesannya memang jadi biasa-biasa saja. nggak berlebihan. mungkin sebagai pengelola juga sikapnya jadi nggak berlebihan. nggak perlu terlalu tampil lebay kalau ternyata kinerjanya biasa-biasa aja. ya, ya, gimana kalau disebut pengelola saja? toh sebetulnya kan kerjaannya sama cuma ukurannya yang beda. satunya pengelola gedung, satunya pengelola negara. yang satu kerjaanya skala kecil, yang satunya cakupannya seluasss Sabang sampai Merauke. ya toch?

Usul, Jadi Pengelola Saja!

Ngirit tanpa Meja

sepulang mewawancara seorang birokrat, seorang kawan bercerita tentang floating desk. ceritanya membuat kami mahasiswa Indonesia takjub bin heran. kok bisa ya, kerja dua puluhan tahun tapi nggak punya ruangan sendiri.

laporannya, si bapak birokrat Landa ini punya perananan penting merumuskan kebijakan pendidikan di kota Rotterdam, menerjemahkan kebijakan pusat supaya sesuai dengan kebutuhan warga kota. desentralisasi mutrakhir membuat semua kebijakan yang menyangkut pelayanan publik diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan warga, termasuk gimana caranya cari duit untuk membiayai kebutuhan secara mandiri. untuk itu, dia musti aktif bekerja sama dengan birokrat kecamatan dan menggandeng LSM dan ormas. singkatnya, si bapak ini orang penting. makanya, heran waktu tau bahwa bapak ini tidak punya ruangan sendiri layaknya kepala-kepala penting di kantor pemerintahan di Indonesia.

rupanya, gaya berkantor semacam jamak dipakai oleh kantor pemerintah di sini. tuntutan kerja birkorat meningkat, nggak cuma jadi juru ketik di belakang meja semata, tapi harus lebih sering merapatkan barisan dengan berbagai pihak demi menggalang partisipasi publik. makanya para birkorat di sini lebih sering koordinasi dengan lokasi yang berpindah-pindah, tergantung agenda yang sedang ditangai. hari senin mungkin di sudut sana, selasa di sudut sananya lagi, trus jumat mungkin menyambangi gedung yang lain. meja jadi nggak penting, apalagi ruangan. mereka harus bisa kerja di mana saja, bisa bicara dengan siapa saja, bisa melakukan apa saja. kesannya dinamis.

tentu saja, alasan utamanya ngirit! pembuatan ruangan komplet dengan perabotannya dianggap pemborosan. apalagi jika si empunya ruangan sering nggak di ruangannya. kalau alasannya gimana caranya menaruh barang-barang pribadi, kantor-kantor itu mengatasinya dengan membuatkan lemari penyimpanan yang cukup besar untuk keperluan pribadi pegawai. tentu saja nggak bakalan cukup kalau untuk menumpuk barang hingga berhari-hari bahkan bertahun-tahun. ruangan juga dinilai nggak efektif karena membuat orang jadi terpaku pada tempat ketimbang kerjaannya. apalagi, birokrat namanya civil servant. jelas dia adalah pelayan masyarakat yang harus sigap tanggap beraksi mengatasi persoalan masyarakat. tentu nggak dari belakang meja.

kalo begini kan nggak perlu ada pengadaan barang dan jasa berlebihan hanya buat perabotan. dan nggak perlu juga itu Senayan ribut-ribut minta gedung baru. bukan karena nggak hormat, bukaan. alasannya memang cuma satu. ngirit.

Ngirit tanpa Meja

Di Kotamu, Di Kota Kita

Rasanya jadi ingin ke kotamu, kota kita/mengantarmu pulang sore ini/jika sempat, kita melihat matahari menelusup rerimbunan pohon/sebelum menghilang ditelan malam/atau  malah gerimis? kalau pun datang, aku yakin kamu masih berdendang/tentang bulan merah jamu, atau tentang romansa saat menghabiskan waktu berdua di atas roda/jika kamu suka, ceritakan juga tentang belahan jiwa, dan melihat matamu berpendar/

ya, ku ingin pulang ke kotamu, kota kita/akan selalu mengingatkan pada senyummu/setumpuk tempe hangat yang kita sikat berdua, abai pada kerumunan yang bergumam tentang bosan/teh yang menghangatkan, tak menyisakan peduli pada kota yang makin riuh oleh angkuh/kota kita masih sama, ramah, menyimpan setampuk rindu yang pernah selalu kau pecahkan di ujung minggu

iya, aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/tak apa jika aku tak sempat menggengam hangat tanganmu atau memelukmu erat/tak lagi bisa menepuk-tepuk bahumu, dan menempelkan pipiku dan pipimu sama bulat/sekarang aku cuma ingin membisikkan/tidur, tidurlah yang nyenyak

aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/mengantarmu ke peraduan terakhirmu/tidak ada lagi yang membebanimu sahabatku/tidur, tidurlah yang nyenyak, dan bermimpilah tentang apapun/dan kotamu, kota kita, Yogyakarta akan selalu dengan senyum abadimu

Di Kotamu, Di Kota Kita