Pantry dan Neraca Hujan

Aku heran, dari sekian banyak cerita yang meluncur, kenapa juga bagian ini yang kau ingat-ingat? Pantry dan neraca hujan, begitu katamu menyebutnya. Tidak mengapa, aku suka istilah itu. Terdengar asing di kuping tapi asik juga.

Jika ada ruang yang paling ramah di gedung ini, itu adalah pantry. Letaknya di sudut belakang, berukuran tak lebih dari 25 meter persegi. Cuma punya satu jendela yang langsung menghadap ke luar dan satu pintu. Tempat yang paling strategis untuk ngumpet,  sejenak menghindari kejaran kerjaan.

Pagi hari, pantry akan dipenuhi ocehan seputaran hidup yang lutju: tentang utang yang nggak kunjung lunas, anak sakit yang panasnya nggak turun-turun, ruwetnya lalu lintas jakarta celaka, atau bos yang kerap komplen bin marah, de es be, de es be. Siang hari menjelang sore saatnya para pengantuk dan pembosan melancarkan aksinya. Mulai merebus air demi membuat segelas kopi atau teh hangat nan nikmat. Ubo rampe itu lumayan manjur untuk kompromi dengan mata dan pikiran yang mulai susah diajak kerja sama. Sejumlah para wedanger ini juga ahli hisab yang akhirnya duduk-duduk menyesaki pantry. Mereka gak ambil pusing dengan tulisan yang tertempel di jendela: “Dilarang merokok di pantry” yang ditambahi embel-embel kutipan dari Pergub DKI no 88/2010 yang ngatur tentang gedung bebas asap rokok. Kalau diingatkan soal aturan wagu itu, mereka hanya menjawab pendek, “ini dapur bukan pantry!”

Bagiku, pantry nggak cuma buat membuat kopi atau teh hangat nan nikmat. Lewat jendela itu, aku bisa mengintip warna langit saat sore, apakah kelabu, biru, atau malah oranye. Aku juga bisa mengintip seberapa parah kepadatan lalu lintas di jalan samping itu. Dan benar katamu, di situ juga ada neraca hujan. Aku tinggal mengeluarkan tanganku untuk memastikan apakah hujan benar berhenti atau belum. Kalau mau, aku juga bisa menikmati sedikit gemerlap lampu kota dari ketinggian, melihat  lampu-lampu itu berpendar dan berbinar.

Pantry dan Neraca Hujan

Dampak erupsi, katanya?!

Rasanya gemas betul. Awan panas Merapi sudah berlalu setidaknya sebulan, tapi PT Pos tak kunjung membuka layanan pos ekspress Bandung-Yogykarta. Huh. Sebal! Benar-benar nggak mendukung kampanye Yogya Aman!

Padahal, mumpung masih di Bandung, aku ingin mengirim penganan khas ke orang-orang tersayang. Maklum, belum sempat pulang. Pos Ekspress itu semula kupikir bisa jadi andalan karena aku ingin mengirim kuweh panggang zadul yang daya tahannya paling cuma tiga hari.

Ya, aku sudah niat membungkuskan beberapa macam kuweh (memang begini tulisan aselinya). Ada yang berbumbu spekuk dengan aroma rempah, ada yang isian sarikaya, selai cokelat, pisang, jagung, dan ada yang berbumbu spekuk dimodifikasi dengan potongan keju. Seluruhnya selusin. Semua itu bungkus saat masih hangat. Meski semuanya dipanggang, tapi tidak seluruhnya menjadi kering kecokelatan. Membuat tekstur kuwehnya lembut dan kenyal. Hmm.. Sedap.

Segera aku pulang dan menaruhnya dalam wadah makanan plastik. Tapi bungkus asli kuweh sengaja tidak kubuka. Kubiarkan, karena memang ini merupakan ciri khas kuweh zadul ini. Terbuat dari plastik tidak transparan dengan cap bergaya desain dan fohn nggak kalah zadul, memampang nama toko roti dan kuweh2 Sidodadi, Jalan Ottto Iskandardinata 255, Bandung. Di bawah tulisan itu, ada gambar perempuan berdandan ala nonie Belanda yang rambutnya kruwel-kruwel sedang menangkat nampan berisi roti tawar yang tebal. Di depan si nonie ada etalase lawas yang penuh memajang aneka kuweh. Tagline di bawahnya sungguh di luar dugaan nggak ada hubungannya dengan roti dan kuweh: Jadilah peserta KB lestari. Sesudah rapi kubungkus kertas coklat dan kububuhi alamat tujuan, dua paket itu pun kubawa ke kantor pos.

Tapi informasi si mbak pengawai pengiriman barang bikin aku sebal. Ya itu tadi, ternyata pos ekspres ke Yogyakarta masih ditutup untuk waktu yang belum ditentukan. “Dari pusat kebijakannya seperti itu,” kata si mbak yakin. Tapi buatku itu tidak meyakinkan. Aku langsung ngeluyur pergi ke kantor pos pusat di Jalan Asia Afrika. Ternyata, jawaban si mbak di kantor pos pusat sama. Ia bahkan menambah infromasi wagu gaya sok tahu bahwa situasi Yogya sampai saat ini belum memungkinkan pengiriman paket ekspress karena terkena dampak erupsi Merapi.

Owh! Aku nggak bisa nahan mangkel lebih lama lagi. Aku ngeyel dan bilang bahwa Yogya sudah aman dan bilang dengan sengit dan muka kecut, “ini rumah saya, di Sleman, cuma berjarak 10 km dari kota, nggak kenapa-kenapa!” Eh si mbak dengan makin judesnya bilang, “ya dari pusat begitu. Belum ada surat sampai kapan. Kalau mau, kirim paket saja yang biasa. Lima hari pasti sampai.”

Sebal. Dengan bersungut-sungut aku pun beringsut. Tanpa mengucapkan terima kasih, menyambar paketku. Batal kukirimkan. Akhirnya paket itu berakhir di tangan teman lawas yang datang ke Bandung akhir minggu ini. Ya sudahlah … Niat pamer khazanah kuliner zadul Bandung sudah kesampaian, meski salah sasaran.

Tunggu ya, paket kuweh itu akan kubungkus dan kusampaikan sendiri.

Dampak erupsi, katanya?!

kopi

Beberapa hari lalu, aku dan seorang teman membuat perdebatan kecil tentang efek kopi. Teman ini mengeluhkan efek secangkir kopi yang baru saja dia minum. “Aku menjadi mellow, nggak stabil,” begitu katanya. Ya tentu saja, keluhannya itu membuatku ngakak.

“Nggak masuk akal.” Komentarku itu pun bikin dia makin ngotot menjelaskan bahwa kopi membuat sistem syaraf tubuhnya menjadi buyar, tidak stabil, dan menggiringnya untuk memikirkan hal-hal yang sentimentil. Perasaan tidak nyaman itu bercokol hingga dua hari lamanya. (Ah, itu sih dasar kamu aja yang melankolis!)

Tapi pembicaraan kami itu ternyata menghasilkan satu kesimpulan penting. Efek kopi ternyata bisa di luar dugaan.  Kalau bagiku menenangkan, maka bagi yang lain bisa berarti mengacaukan pertahanan tubuh. Paling tidak, membuat seseorang menjadi rileks meski sedang membongkar hatinya, dan mengurai kembali jahitan-jahitan luka hatinya.  

Ini terbukti pada dua teman yang lain, di waktu yang lain lagi. Dengan kopi, dua orang teman yang sedang mengidap luka cinta pun berbagi cerita. Satunya, seorang lelaki yang muram. Ia bilang bahwa sudah empat kali perempuan yang dikasihinya mengkhianatinya. Dan kedua, perempuan yang mengaku sudah memberikan seluruh hatinya pada seorang lelaki, hingga ia pun rela membagi lelakinya itu dengan perempuan lain.

Entah berapa tahun keduanya bertahan dengan perasaan mereka. Perasaan yang entah. Hanya satu yang aku tahu pasti, ada luka yang masih basah di situ. Dan akan selalu basah jika bukan mereka sendiri yang mengeringkannya.

Karena kopi yang kami hirup, atau mungkin juga karena udara pekat persahabatan, kami pun merasa dekat. Berbagi cerita yang tidak pernah kami bagi sebelumnya. Berharap, bisa berbagi hangat untuk membangunkan kembali semangat.  

Ya.. ya.. hati kami benar menjadi hangat. Cerita di warung kopi pun berlanjut. Kami pun melanjutkan obrolan kami di pantai berharap bisa menyapa matahari.

Tiba-tiba ada sebuah lagu di kepalaku.

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan.Tapi kita juga pernah duduk bermahkota. Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata. Dicumbui harumnya putik-putik bunga. Putik impian yang membawa kita lupa …. (Pas Band)

PS: My dear friends.. ayo kita cari lagi pucuk-pucuk mimpi kita!

kopi

Aroma

Ia menyebut dirinya dengan sebutan papa. Setiap kali bercerita, tak pernah sekalipun ia menyebut dirinya dengan kata ganti saya. Entahlah, mungkin untuk mendekatkan orang padanya, atau ia jsutru terlalu baik dan menganggap setiap orang adalah anaknya.

Papa orang yang senang bercerita. Ia tidak pelit membagi pengetahuannya. Umurnya kutaksir sudah lebih dari setengah abad. Dan itu membuatnya menjadi orang yang paham betul tentang kehidupan. Satu topik yang paling disenanginya, kopi.

Pengetahuannya tentang kopi sungguh luar biasa.

Ia tahu betul bagaimana memilih biji kopi yang baik. Ia datangkan berkarung-karung biji kopi dari penjuru perkebunan kopi di nusantara, mulai Aceh, Jawa, Bali, hingga Toraja. Mana yang arabika, mana yang robusta, hanya dengan meraba dan mengendus, ia tahu bagaimana membedakannya.

Ia memperlakukan biji kopi dengan istimewa. Disimpannya berkarung-karung biji kopi itu di gudang tokonya. Itulah gudang hartanya. Lihatlah tumpukan debu dan pintalan sarang laba-laba yang berjuntai-juntai di permukaan karung. Ratusan karung itu memang sebagian besar sudah hampir delapan tahun ditimbun. Ya harus benar-benar delapan tahun. “Supaya aroma dan rasanya keluar,” begitu alasannya.Ia hanya akan mengolah biji kopi yang sudah berumur delapan tahun untuk dijadikan bubuk kopi nan harum.

Tak hanya memamerkan gudang harta, papa juga membanggakan pabrik kecilnya yang sesak. Tumpukan kayu bakar berjejeran dengan belasan drum berisi bubuk kopi. Tak jauh dari situ, terdapat tungku besar untuk menyangrai biji kopi. Terdapat pahatan angka 1936 di dinding tungku besar itu, menandakan awal mula tungku itu beroperasi.

Di parbik kecilnya itu, papa menghabiskan waktu sepanjang hari. Memeriksa tumpukan biji kopi di gudang, mengeluarkannya sedikit demi sedikit, menyangrai biji kopi dalam tungku bermesin khusus dan kemudian menggilingnya menjadi bubuk kopi yang beraroma harum.

Ia sudah melakukan itu seperti yang ayahnya dulu lakukan. Sebuah sepeda tua tergantung di atas pabrik kecilnya. Sebuah sepeda kuno yang dulu sering ia pakai bersama ayahnya. Ya, papa adalah generasi kedua keluarga kopi itu. Di tangannya, tungku di pabrik kecil di sudut Jalan Banceuy itu terus menyala dan menghasilkan bubuk kopi yang beraroma.

Aroma