Curiga

Rasanya otak ini begitu sibuk. Membongkar, menimbun, membongkar dan kembali menimbun sesuatu yang selalu saja muncul. Iya, pikiran itu selalu saja melintas seenaknya memotong konsentrasi. Pikiran itu juga tega sekali menaut-tautkan kepingan-kepingan rasa ingin tahu yang melesak-lesak. Semena-mena bikin otakku ini selalu berdenyut-denyut. Duh …

Rasanya otak ini begitu sibuk. Merekam kejadian demi kejadian. Melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang semuanya tidak bisa pula kujawab. Pikiran melayang-layang, mendarat, melayang lagi, lalu mendarat lagi demi merambati lipatan-lipatan otak untuk mencari jawaban. Tapi nihil, tidak ketemu juga.

Otakku ini pun makin sibuk. Menelisik akhir yang pasti untuk sebuah pertanyaan … ah, jangan-jangan …

Advertisements
Curiga

Pohon

Hari ini aku belajar tentang pohon. Aku suka pohon. Pepohonan yang reriungan itu selalu membisikkan cerita yang menenangkan.

Ki Hujan (Samanea saman). Pohon yang satu ini selalu bikin aku jatuh hati. Sosoknya tinggi besar berdaun lebat. Tapi tidak terlalu lebat untuk menghalangi sinar matahari yang hangat. daunnya yang kecil lebat ini dapat mengiris hujan selebat apapun menjadi serinai air embun. Halus. Pertama kali aku mengenalinya di belakang Gedung Sate. Berdiri di sana, seperti tubuh penari kesatrian dengan tangan yang terjulur ke atas. Anggun dan gagah.

Lain lagi dengan Pohon Sosis (Kigelia aethiopica). Ya. Seperti sebutannya, dari kejauhan, pohon ini seperti digelantungi puluhan sosis besar berwarna cokelat. Tapi kalu didekati, mirip seperti pohon keberuntungan dengan gantungan puluhan angpau tebal yang selalu dipajang di mal-mal tiap kali imlek. Aku selalu ingat sosoknya yang unik sedang duduk-duduk di Taman Hutan Raya Juanda di Bukit Dago Pakar. Entah ya, sudah berapa ratus tahun dia berlama-lama memandangi Kota Bandung dari ketinggian sana.

Nah, kalau pohon yang satu ini aku belum tahu namanya. Sama-sama tinggi besar berdaun rimbun. Teduh. Hanya saja, setiap kali bulan Agustus atau September di penghujung kemarau, pohon ini selalu mengeluarkan bau yang khas. Mirip cengkeh bercampur kayu manis beraroma seperti kue bumbu spekuk, on bien kuk. Hmmm… Ketika berbau harum begini, pohon ini juga merontokkan dedaunan kecil berwarna kuning. Buanyaaak sekali. sampai-sampai pak penyapu jalan pasti kewalahan, karena jalanan Citarum, Serayu, dan sekitarnya jadi bertaburan daun kecil kekuningan. Aku sudah memerhatikannya hampir tiga tahun ini. Dan itu artinya, musim hujan akan segera tiba. Hei, kamu … siapa sih namamu?

Pohon

Cokelat

Secangkir cokelat hangat baru saja datang. Ditemani segelas jus mangga masam. Duduk gelisah ditingkahi musik yang resah

Lukisan berbingkai merah di sana menyeringai. Melumatkan wajah letih melunglai

Apa yang kupikirkan                                                                                                                           Tidak ada

Cuma kamu

Bandung, 14/9/08                                                                                                                                PS: Terima kasih sudah menemani

Cokelat

Baru

Katanya nih, segala sesuatu yang baru itu menyenangkan. Sederet hal baru yang menyenangkan ketika usia SD apalagi kalau baju baru, sepatu baru, buku baru, tas baru. Dulu, aku selalu pengen menempelkan idung ini berlama-lama di benda-benda itu untuk mengendus kebaruannya.

Meningkat lagi. Ketika usia sekolah menengah, SMP ato SMA, hal baru yang menyenangkan hati sudah beralih. Yang kalo dulu ketika SD dipuja puji setengah mati, di bangku SMA tentu sudah nggak memesona lagi. Trus apa yang menarik dari hal baru? Apalagi kalau bukan teman baru, motor baru, hape baru, pacar baru .. (Hmmm, keknya kalau yang terakhir itu sampai tua pun kayaknya selalu bikin hati berbunga-bungan ya?)

Kalau kuliah, nah ini susahnya. Mungkin bukan wujud fisik lagi yang dicari. Seperti pikirannya yang mulai abstrak (mungkin terlalu banyak menyantap misteri angka, menimbun pemikiran Sartre, atau malah meyakini nihilisme). Kupikir, anak kuliahan mungkin lebih tertarik pada pengalaman baru, ilmu baru, ketrampilan baru..

Ah, aku kok jadi sok tau begini ya? Tentu saja, itu penggolongan usia dan ketertarikan atas kebaruan yang sangat ngawur dan serampangan. Aku cuma mau bercerita bahwa ternyata nggak semua hal baru itu menyenangkan. Seseorang yang lama tapi ingin diperlakukan seperti teman baru bagiku sangat menyebalkan. Tiba-tiba muncul setelah lima tahun nggak bertukar kabar.  Dan munculnya pun tengah malam, seperti pocong, dan ingin diperlakukan seperti teman baru pulak. Huh!

Maaf, persoalannya bukan lagi lama atau baru. Tapi semua itu sudah kuanggap hilang!

Baru