Di Kotamu, Di Kota Kita

Rasanya jadi ingin ke kotamu, kota kita/mengantarmu pulang sore ini/jika sempat, kita melihat matahari menelusup rerimbunan pohon/sebelum menghilang ditelan malam/atau  malah gerimis? kalau pun datang, aku yakin kamu masih berdendang/tentang bulan merah jamu, atau tentang romansa saat menghabiskan waktu berdua di atas roda/jika kamu suka, ceritakan juga tentang belahan jiwa, dan melihat matamu berpendar/

ya, ku ingin pulang ke kotamu, kota kita/akan selalu mengingatkan pada senyummu/setumpuk tempe hangat yang kita sikat berdua, abai pada kerumunan yang bergumam tentang bosan/teh yang menghangatkan, tak menyisakan peduli pada kota yang makin riuh oleh angkuh/kota kita masih sama, ramah, menyimpan setampuk rindu yang pernah selalu kau pecahkan di ujung minggu

iya, aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/tak apa jika aku tak sempat menggengam hangat tanganmu atau memelukmu erat/tak lagi bisa menepuk-tepuk bahumu, dan menempelkan pipiku dan pipimu sama bulat/sekarang aku cuma ingin membisikkan/tidur, tidurlah yang nyenyak

aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/mengantarmu ke peraduan terakhirmu/tidak ada lagi yang membebanimu sahabatku/tidur, tidurlah yang nyenyak, dan bermimpilah tentang apapun/dan kotamu, kota kita, Yogyakarta akan selalu dengan senyum abadimu

Di Kotamu, Di Kota Kita

Dear Zus

aku tak pernah bosan bertanya soal rencanamu. dan kamu, selalu dengan renyah berbagi cerita, nggak peduli remeh temeh atau serius semua mengalir bersama, disisipi gojek kere jenaka. rencanamu selalu terdengar seru, tentang ngglundung dengan sepedamu ke bukit juminten atau tanjakan apalah itu, atau soal meramu buku, atau soal menulis ini itu, atau soal ehm.. lelakimu. hangat. celotehan seperti secangkir teh yang kita seruput. dan kita pun riuh menertawakan hidup. nggak pernah sekalipun kamu mengumpati hari celaka, seburuk apapun kamu melewatinya. itulah kamu, perempuan yang selalu tahu bagaimana mensyukuri hidup.

Dan kamu, selalu mensyukuri pertemanan. friends from heaven. begitu kamu selalu menyebut para sahabatmu dan membuat coretan di blogmu. Rutinitas jakarta yang kusebut celaka itu, ternyata sama sekali tidak menggilasmu. kamu selalu punya waktu untuk teman-temanmu, mengirimi gambar dan gojekan wagu lewat email,  ngeteh bareng, mengungkep dan menggoreng swiwi untuk malam malam, menyusuri gang kota tua sambil ngemil jajanan ra mbejaji, mengirimi kartu pos, membungkuskan barang remeh temeh tapi lutju. ah kamu selalu ribuan jurus untuk membuat teman-temanmu merasa berharga. terakhir, kamu membungkuskan kantong hijau untuk wadah abrak-abrakan selama bepergian. “iki nggo kowe ndah, ben bolpen, tiket, karo paspormu ora kececer. tak pilihke warna ijo senenganmu.”  yak, kamu selalu praktis dan taktis memilihkan barang fungsional. dan kalau perlu menciptakannya! yang kutahu, kamu sedang senang menjahit dan sudah tahu bagaimana membuat tanda pribadi dengan huruf F berwarna merah besar untuk barang-barang kreasimu. gimana, apa kamu sempat menjahit kantong abrak-abrakanmu untuk menaruh notes, bolpoin, recorder, biar nggak berserakan dalam ranselmu?

itulah kamu, Zus. selalu punya hal seru untuk teman-temanmu, dan tentu untuk dirimu. padahal, aku tahu hidupmu selalu diburu waktu, untuk tidak pernah berhenti membaca, dan …. selalu bekerja. artikel dan ipad yang selalu berada di atas kasurmu itu nunjukin kalau kamu memang tidak pernah berhenti memikirkan banyak hal. mungkin dalam mimpi pun kamu akan memikirkan panglima anu yang begitu, atau kenaikan harga saham dan minyak mentah akan membuat dunia menjadi begini, atau peledakan bom dengan tokoh-tokoh yang punya latar belakang begitu begini, atau tentang industri otomotif dan manufaktur yang meranggas karena begini begitu. tapi kamu tidak pernah kesasar dalam pikiranmu, sebaliknya, selalu punya kata-kata bernas membeberkan setiap detil kejadian. aku nggak pernah bosan mengikuti tuturan celotehanmu dan membaca bukumu. pabrik kata-kata tidak membuatmu lantas menjadi sekrup. kamu tetaplah kamu dengan ribuan, atau malah jutaan kata yang selalu menghambur bersama dengan ketukan jemarimu di atas papan ketik.

Dear Zus, akhirnya aku menerima semuanya. kamu pasti tersenyum ceria memamerkan gigi kelincimu saat berangkat dengan menumpang Sukhoi, rabu itu (9/5). pagi-pagi kamu pasti sudah rapi-rapi mengeblow rambut kriwilmu, menenteng tas ransel kecilmu memastikan nggak ada peralatan yang kececer. dan apa kamu juga memakai rok pagi itu? pasti terlihat manis. Lebih dari sepuluh hari aku menanti kabarmu, berharap kamu kembali ke rumah sewa mungilmu di Cidodol, dan mengurai riang di kartu pos gimana rasanya menumpang Sukhoi, pesawat yang udah lama kamu kejar-kejar itu. hingga hari ini aku membaca berita Polri mengumumkan daftar nama korban kecelakaan Sukhoi Superjet 100 dan ada namamu terselip di sana. rupanya kali ini Dia yang berkehendak, memilihkan jalan untuk keberangkatanmu. baiklah, selamat jalan Zus, selamat berkumpul dengan ayah dan ibumu. sampai bertemu di kehidupan yang lain … you are the friend from heaven.

Dear Zus