Kubikel Baru Warna Biru

Put mengirim pesan singkat lewat jejaring elektronik. ia mengirim foto kubikel terletak di sudut dengan jendela yang gelap. terlalu gelap sampai aku nggak bisa melihat ada apa di baliknya. tapi Put meyakinkan bahwa itu adalah bakal kursi dan mejaku. menghadap langit dan riuhnya Jakarta, begitu katanya. dan yang akan menjadi tetanggaku adalah tentu Yoh, si politikus negara gagal (makasih lho, pasti kamu sudah banyak nanggung dan njawab selama ini .. :P)

Nyess. di saat aku sedang memikirkan belantara Jakarta yang sebentar lagi bakal kusambangi lagi, jelas sapaan itu bikin adem sekaligus ngikik geli. ya, aku kangen kalian. inilah model keramahan Jakarta yang lain. sekarang aku harus membiasakan untuk bilang bahwa Jakarta adalah kota kita. suka nggak suka, ke situ juga aku akan kembaliii (lagu lawas tiba-tiba muter di kepala)

ya, Put cerita kalau ruangan kami sudah dibongkar dan dirombak. kubikel kini berwana biru langit. dan aku kebagian di satu sudut berjendela. perfecto! aku suka sudut, apalagi dengan jendela. tinggal aku tempatkan rentengan padi Cianjur aseli dan angklung kecil lawas (semoga masih ada) lengkap dengan perlengkapan simpel wedangan. sudut yang sempurna. termasuk bagi tetangga, Jek, yang hobi warungan pagi sore tapi nggak modal. ya, ya, aku siap bilang bahwa Jakarta kota kita, makarya bersama di pabrik kata-kata. tapi tunggu tunggu.  tidak terlalu cepat.. aku selesaikan dulu ribuan kata yang sedang kususun sekarang. menyambangi sebentar negeri-negeri yang jauh. dan tentu, ke Jakarta aku akan kembali. sungguh lagu lawas itu kali ini tidak terdengar sumbang.

Kubikel Baru Warna Biru

Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Tania

Pantry dan Neraca Hujan

Aku heran, dari sekian banyak cerita yang meluncur, kenapa juga bagian ini yang kau ingat-ingat? Pantry dan neraca hujan, begitu katamu menyebutnya. Tidak mengapa, aku suka istilah itu. Terdengar asing di kuping tapi asik juga.

Jika ada ruang yang paling ramah di gedung ini, itu adalah pantry. Letaknya di sudut belakang, berukuran tak lebih dari 25 meter persegi. Cuma punya satu jendela yang langsung menghadap ke luar dan satu pintu. Tempat yang paling strategis untuk ngumpet,  sejenak menghindari kejaran kerjaan.

Pagi hari, pantry akan dipenuhi ocehan seputaran hidup yang lutju: tentang utang yang nggak kunjung lunas, anak sakit yang panasnya nggak turun-turun, ruwetnya lalu lintas jakarta celaka, atau bos yang kerap komplen bin marah, de es be, de es be. Siang hari menjelang sore saatnya para pengantuk dan pembosan melancarkan aksinya. Mulai merebus air demi membuat segelas kopi atau teh hangat nan nikmat. Ubo rampe itu lumayan manjur untuk kompromi dengan mata dan pikiran yang mulai susah diajak kerja sama. Sejumlah para wedanger ini juga ahli hisab yang akhirnya duduk-duduk menyesaki pantry. Mereka gak ambil pusing dengan tulisan yang tertempel di jendela: “Dilarang merokok di pantry” yang ditambahi embel-embel kutipan dari Pergub DKI no 88/2010 yang ngatur tentang gedung bebas asap rokok. Kalau diingatkan soal aturan wagu itu, mereka hanya menjawab pendek, “ini dapur bukan pantry!”

Bagiku, pantry nggak cuma buat membuat kopi atau teh hangat nan nikmat. Lewat jendela itu, aku bisa mengintip warna langit saat sore, apakah kelabu, biru, atau malah oranye. Aku juga bisa mengintip seberapa parah kepadatan lalu lintas di jalan samping itu. Dan benar katamu, di situ juga ada neraca hujan. Aku tinggal mengeluarkan tanganku untuk memastikan apakah hujan benar berhenti atau belum. Kalau mau, aku juga bisa menikmati sedikit gemerlap lampu kota dari ketinggian, melihat  lampu-lampu itu berpendar dan berbinar.

Pantry dan Neraca Hujan

Legenda

Namanya Nancy. Pembicaraan kami malam itu dimulai dari cerita seputar dirinya. Sepotong cerita yang berusia jauuuh lebih tua daripada umurnya.

Perempuan itu selalu tampak menunggu, termangu di ambang jendela. Pandangannya kosong. Menembus pepohonan di Insulindepark, melayang hingga merambahi pucuk Gunung Manglayang. Ia selalu menunggu entah. Kekasihnya atau kebenaran. Ia tak tahu mana yang akan lebih dulu menemuinya. Ternyata, maut yang menjemputnya dulu. Ya, ialah Nancy perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melemparkan diri dari ujung tangga. Namun, penantiannya menjadi tak berujung. Menurut cerita, ia akan selalu tampak menunggu. Iya, menunggu di ambang jendela itu. Tepat di lantai teratas bangunan SMA 5 Bandung. Ia sudah menunggu … mungkin selama 86 tahun. Bagi yang kebetulan melihatnya di jendela itu, sapalah.. namanya Nancy.

Obrolan kami malam itu membahas penyebab ia bunuh diri. Satu potong cerita bilang, ia memilih bunuh diri karena patah hati. Kekasihnya meninggalkannya, mungkin tewas di Perang Jawa, mungkin tenggelam di Semenanjung Pengharapan, atau malah mungkin kawin dengan perempuan lain. Namun potongan cerita yang lain menyebutkan, ia memilih mati karena diperkosa.

Cerita Nancy mengingatkanku pada sepotong kisah lain yang dituturkan oleh seorang teman, tentang seorang pejuang bangsa Afrika. Pejuang ini tertangkap oleh penguasa rezim apartheid. Sang penguasa pun menjatuhkan hukuman pada si pejuang atas dakwaan telah melanggar peraturan dan mengganggu ketentraman umum. Ada dua pilihan, disiksa dalam penjara atau mati. Dan si pejuang memilih mati. Sama seperti Nancy, kisah si pejuang selalu diceritakan berulang-ulang.

Mungkin benar. Adakalanya kematian menjadi pilihan. Bukan, bukan mati untuk mengakhiri hidup, namun mati untuk hidup kembali. Adakalanya, kematian yang justru menghidupkan nama hingga berpuluh-puluh tahun, beratus tahun, atau bahkan berabad, kemudian. Kematian yang membuat sepotong nama menjadi legenda. Dan orang-orang seperti aku – selalu penasaran dengan cerita-cerita legenda  – yang bikin legenda itu terus hidup. Paling nggak, legenda akan terus dihidup-hidupkan dalam obrolan yang nggak penting macam tulisan kayak begini. 😀

Legenda