Manis, tapi Jual Mahal

Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.

Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.

Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!

Tapi, ono rego ono rupo. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran – ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan – harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.

Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.

+ Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu!

Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak. (dengan rayuan semanis mangga tentu saja)

Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?

Manis, tapi Jual Mahal

Anak Naga

“Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas.”

Itulah tulisan terakhir Ryunosuke kepada sahabatnya. Dalam cengkeraman kegelisahan yang begitu kuat, Ryunosuke akhirnya memilih mati dengan menelan berbutir-butir pil penenang pada 24 Juli 1927. Si anak naga peletak dasar penulisan cerpen dan novelet Jepang ini mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.

Ryunosuke lahir dari pasangan Toshizo Niihara dan Fuku pada tanggal 1 Maret 1892 di Tokyo. Dalam kalender Jepang, tanggal lahirnya bertepatan dengan hari Naga Air dan tahun Naga Air. Karena itu ia dipanggil Ryunosuke yang berarti anak naga. Ketika usianya tujuh tahun, Fuku ibunya menderita sakit jiwa. Peristiwa ini begitu membekas bagi Ryunosuke hingga persoalan kejiwaan tergambar jelas pada sejumlah karyanya di kemudian hari.

Karirnya sebagai penulis cerpen dimulai dengan “Ronen” (1914). Ryunosuke menerbitkan cerpen itu pada majalah sastra yang didirikannya bersama dua teman kuliahnya di jurusan Sastra Inggris Universitas Kekaisaran Tokyo. Tapi, namanya mulai dikenal ketika ia menulis “Rashomon” (1915). Pada cerpen itu, ia mulai memakai nama Akutagawa Ryunosuke.

Sejak itu, tak kurang ada 30 cerpen dan novelet lahir dari penanya selama 12 tahun karir menulisnya. Gayanya mengawinkan realis dan surealis. Gaya bertuturnya pelan, detil, dan sering mengundang nuansa asing yang senyap. Tokoh cerita acap kali tenggelam dalam konflik batin yang pekat.

Kegelisahan tergurat dalam sejumlah cerpennya. Dalam “Rashomon” atau pintu gerbang, ia melukiskan pikiran seorang Genin, samurai kelas rendah saat dihadapkan pada kehancuran Kota Kyoto. Di antara mayat-mayat bergelimpangan, Genin ini muak dengan seorang nenek yang hidup dengan menjual rambut para mayat untuk dibuat cemara. Tapi ia pun tak berdaya menahan perutnya yang lapar. Pada akhir cerita, Genin ini malah merenggut baju si nenek untuk dijual.

Lain lagi dengan “Hana” atau hidung (1916) yang bertutur tentang seorang pendeta dengan hidung sepanjang 16 cm. Hidung itu sungguh merepotkan karena bergelayut mulai dari atas bibir hingga melewati dagu. Dengan perlahan dan detil, diceritakan bagaimana perang batin sang pendeta yang ingin memendekkan hidungnya. Namun, ketika hidungnya memendek, ia justru tak bahagia dan ingin hidung panjangnya kembali.

Ryunosuke sempat bekerja sebagai wartawan dan ditugaskan ke China pada tahun 1921. Namun sepulang dari daratan Tiongkok, ia menderita schizophrenia. Ia jadi sering berhalusinasi. Meski demikian ia masih menulis. Salah satu tulisannya yang imajinatif adalah Kappa (1927) yang disebut-sebut sebagai kritik sosial atas masyarakat urban Jepang pada massa itu. Dalam ceritanya, Kappa adalah hewan imajiner dengan kehidupan mirip seperti manusia.

Kegelisahan demi kegelisahan terus menghantuinya. Ia takut menjadi gila. Seiring dengan penyakitnya yang makin parah, Ryunosuke mengalami masalah keuangan. Akhirnya ia kelelahan dan memilih mati. Tahun 1935, namanya diabadikan sebagai penghargaan sastra bergengsi bagi para penulis baru.

Anak Naga

Imogayu

Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.

Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  Akutagawa Ryunosuke. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi mahal. Makanan ini biasa disajikan pada hari-hari perayaan di rumah para bangsawan atau kerajaan.

Nah, tersebutlah seorang goi, samurai kelas rendah yang sangat menyukai bubur ubi. Goi ini digambarkan sangat lugu hingga cenderung bodoh. Kerap dicaci dan dihina, tapi ia tak pernah marah. Bukannya dia penyabar, tapi memang dia tidak sadar bahwa dirinya sedang direndahkan. Ia bertubuh pendek ceking, berpenampilan lusuh, dan sebilah pedang yang kusam. Pendeknya, ia tak layak berperang. Sepanjang hidupnya, goi berusia 40-an tahun ini selalu mendambakan bisa makan bubur ubi sepuasnya.

Hingga suatu hari tibalah hari gembira itu. Ia dijamu makan oleh seorang bangsawan filantropis kaya raya. Bangsawan itu masih kerabat keluarga yang mempekerjakan si goi. Di rumah bangsawan itu, ia bisa menyaksikan bagaimana para pembantu menyiapkan bubur ubi untuknya. Para pembantu itu tak mengupas  sebuah ubi, tapi puluhan. Ya, puluhan ubi yang mirip talas berukuran betis orang dewasa itu menggunung di dapur, menunggu untuk dikupas dan dicemplungkan ke kuali perak berukuran besar.

Melihat proses itu, si goi mulai kehilangan selera. Begitu kuali perak besar berisi bubur ubi tersaji di ruang makan, goi pun merasa perutnya mual. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, lengannya, dan perutnya. Tapi demi menghormati tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamunya, ia pun makan separuh isi kuali sedikit demi sedikit.

Alih-alih merasa puas karena bisa makan bubur ubi sepuasnya, ia justru merasa bubur itu menggeder gedor lambungnya dan minta dimuntahkan. Ia pun berhenti sejenak. Sejenaak, hingga seekor rubah datang ingin makan bubur ubi. Si Tuan filantropis yang semula sibuk memaksa si goi menghabiskan sakuali bubur ubi, menjadi sibuk memerintahkan pembantunya untuk memberi rubah itu semangkuk bubur ubi. Goi pun lega karena tidak perlu lagi menghabiskan bubur ubi. Keringat yang semula membasahi bajunya pun perlahan mengering. Tiba-tiba angin pegunungan bertiup. Dingin menggigiti tubuhnya. Dan, bersamaan dengan itu, goi pun bersin dengan kerasnya ke arah kuali perak yang berisi bubur ubi.

Begitulah, akhir cerita goi dan semangkuk bubur ubi yang begitu diidamkannya. Begitu aku menamatkan cerita itu, aku tertawa. Ganjil, lucu, dan aneh. Ya, aneh. Jalinan cerita yang detil, beritme lambat, dan bernuansa senyap ternyata harus berakhir dengan bersin yang sepele dan menjijikkan. Maklum, aku pembaca pemula cerpen Jepang. Mungkin kalau sudah terbiasa, aku tidak akan merasa ganjil lagi. Dan mungkin aku akan berpikir bahwa bubur ubi itu enak sehingga benar-benar tertarik mencobanya.

Imogayu