Wow… !

Sebelum menginjak usia 20, aku bertanya-tanya bagaimana rasanya jadi perempuan usia duapuluhan. Bayangannya waktu itu, usia 20 rasanya kok sudah dewasa (untuk tidak menyebut tua :D) aku berandai-andai merancang itu ini yang  serius seperti menikah misalnya di usia 25 tahun (hahahaaaay!) . Kenyataannya lain. 20 hanya soal angka yang tak mengubah kedewasaan. Usia 20 terlampaui dengan hal yang linier: lulus kuliah, mencari kerja, mendapat kerja. Satu hal yang tak linier adalah soal menikah. Di saat teman-teman sibuk merancang pernikahan mereka, aku sibuk merancang hal lain-lainnya.

Mendekati usia 30, kembali pertanyaan itu mengusik: bagaimana menjadi manusia umur 30 tahun. Menuakah? Hmm.. sedikit. Dewasakah? nggak yakin. Lebih serius dengan hidup? Mungkin. Diam-diam ada rasa cemas yang terselip. Aku pun menyibukkan diri membuat targetku sendiri demi mengusir hantu-hantu masa lalu yang membuatku menua sebelum waktunya. Aku memilih banyak daftar apa-apa yang harus dilakukan sebelum usia 30 tahun. Ngotot? Konyol? yo ben. Lha bebas wong ini hidupku. Dan aku mensyukuri dilimpahi banyak sekali keindahan dalam hidup. Banyak hal mewarnai, salah satunya keguyuban di pabrik kata-kata selama hampir 10 tahun. Gak bakalan lupa gimana nyamannya duduk bekerja sambil memandang langit di kubikel biru. (Thanks to all my dear friends who made everything was sooo perfect in years we have been through!)

Waktu menggelinding dan  30 tahun pun terlewati. Sekarang 34 tahun ah, masih tigapuluh sekian. Ternyata rasanya masih sama saja, aku masih cengengesan, suka main-main ke sana kemari. Namun ada yang berubah, hidup rasa-rasanya lebih serius demi menyiasati sifat ibu tiri kota yang semprulnya sering tak terduga. Ternyata benar kata para senior, usia hanya soal angka yang tidak akan mengubah apapun soal kedewasaan. Soal mental adalah sejauh mana kita bisa memaknai dan belajar menyikapi apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Seperti tagline iklan rokok “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan” (damn, kenapa ya, iklan rokok kok bagus-bagus?).

Jadi, semuanya adalah soal pilihan, termasuk saat aku memilih untuk memulai perjalanan baru dengan petualangan baru. Ya… aku akan menikah! Wow, aku masih takjub dengan pilihanku ini. Ada kecemasan baru. Tidak lagi berkutat dalam angka, tapi soal entah. Menuakah aku? .. pasti. Tapi aku masih belum punya jawaban untuk: lebih dewasakah aku? lebih serius? Terlalu banyak jangan-jangan, kepala mendadak riuh dengan pikiran-pikiran yang bukan-bukan dan yang iya-iya.

Satu yang kutahu pasti, aku merasa lebih beruntung karena ada seorang sahabat yang akan selalu menemaniku dalam perjalanan terjal dan berliku. Adi meyakinkanku bahwa perjalanan panjang ini akan lebih bermakna bila dilewati bersama. Dan kami pun memantapkan niat untuk berjalan lebih jauh. And the starting line is countdown … Bismillah …

 

Advertisements
Wow… !

Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

Naik engkel rute Aikmal-Mataram rasanya nggak beda jauh dengan naik colt jurusan Prambanan-Terban. Sama-sama sesak penumpang, dan sama-sama riuh obrolan bahasa Jawa. Hmm.. serasa nggak sedang di Lombok.

Obrolan mengalir renyah. Ketara sekali jika antara kenek, sopir, dan penumpang sudah sering bertemu atau malah mengenal. Mungkin si pak Anu tetangga bu Ini, atau nenek B masih kerabat dengan si F. Bahasa yang kudengar malah didominasi bahasa Jawa. Usut punya usut, ternyata engkel itu melewati perkampungan orang Jawa. (woalaah .. yo mesti wae!)

Sungguh, aku rasanya lebih baik tidur daripada larut dalam obrolan. Bau daun seledri bercampur dengan aroma asam keringat dan bau apak kain yang sudah tiga hari tidak dicuci. Untunglah engkel ini jendelanya blong, bikin angin semribit memporak porandakan rambut kusutku makin mbundet. Udara panas jadi agak berkurang kegarangannya. Nggak tahu juga mengapa kendaraan antar desa ini disebut engkel. Kendaraan elf berkursi 12 (kalau nggak salah hitung) tapi dipaksa bisa menampung hingga 20 orang berhimpitan. Jalannya pelan tapi pasti. Seolah tidak pernah ada kata persaingan jasa atau ketergesaan dalam kamus orang-orang di sini.

Di tengah perjalanan, seorang nenek menginang menyetop engkel. Ia naik dan  memilih duduk persis di depanku, satu-satunya tempat yang masih tersisa. Bicara dalam bahasa lokal yang nggak kumengerti dengan si kenek engkel. Dia sebut-sebut sumbawa dan masbege, dua tempat yang bisa kukenali dari lafal katanya. Selebihnya nol. Aku juga nggak tertarik untuk mengikuti obrolan mereka hingga akhirnya si nenek mengeluarkan bungkusan plastik dengan dua batang rokok warna cokelat. Terlihat unik. Si nenek mengangsurkan ke kenek yang sejurus menerima dengan senyum lebar dan mata berbinar. Mulai timbul rasa ingin tahu.

Rokok itu ternyata adalah dagangan terakhir si nenek hari itu. Khas bikinan orang Sumbawa, katanya, yang tidak dijual di banyak tempat di Mataram. Si kenek melengkapi keterangan si nenek dengan embel-embel bilang bahwa rokok itu banyak dicari orang di lombok. Naluri pelancong pun langsung membuncah. Dengan bahasa Jawa halus, saya nembung untuk dua batang rokok itu. Kenek ternyata memberikan cuma-cuma (mungkin berkenan karena solidaritas Jawa). Bukan, bukan buatku..

Aku membungkusnya sebagai buah tangan untuk Maun.

Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

Kabel-kabel Bikin Repot

Empat hari di daerah tanpa sinyal bukan berarti aku bisa meninggalkan ponsel. Menuju ke sana, aku masih perlu ponsel.Sekadar menyapa the girls next door. Dan tentu berkabar pada orang yang mengkhawatirkanku tapi nggak mau bilang (ya kan Maun?).

Perkara kabel ini pun ibarat selilit. Kecil tapi nggriseni. Kabel charger ponsel kalau ngruntel lumayan makan tempat. Itu belum termasuk kabel charger batere kamera batere cadangan yang semuanya aku paksakan masuk dalam tas plastik kecil berbungkus tas yang juga kecil. Intinya ditinggal jangan dibawa merepotkan. Kecil-kecil berat makan tempat.

Tapi baiklah. Akhirnya semuanya sudah pada tempatnya. Aku sudah mengepak semua kebutuhan dalam satu tas besar. Ada dua stel kaos, celana, plus jeroan berjejalan dengan kaos kaki dan sarung tangan. Buntelan itu berhimpitan dengan jaket, alas tidur, dan ransum yang (pasti) remuk. Aku siap berangkat.

Dunia hening, izinkan aku masuk .. Tapi aku pasti pulang untuk membagi segudang cerita, denganmu..

Kabel-kabel Bikin Repot

Sajak Obira

Obira, obira
kisah pujangga yang menuju utara
singgah di dermaga kota tua
nyiur tengadah menantang angin beraroma kayu manis

bumi tempat sunyi menuai sepi
angin menggiring badai
tak sanggup menahan angkuh yang menggerogoti kolong langit
jejak-jejak tamak bergemuruh selaksa gempa
meninggalkan lubang-lubang menganga
menara suar, singgasana ambisi yang abai
lengkingan burung dan kelepak kelelawar menangisi puisi yang usai tiba-tiba saat laut menenggelamkam Obira pada suatu ketika

tersisa dongeng para pelaut buta
tentang tepian laut merah jambu
dan ikan-ikan keperakan berloncatan

di sana, Obira
sajak torehan pujangga
berkereta angin menebar mimpi pagi
menyelamatkan harapan
saat senja singgah, katakanlah,
jiwa adalah buku yang terbuka
ribuan kata tereja namun tidak terbaca

Obira, Obira
ke mana kata-kata akan bermuara
mungkin saja pelaut buta mengubahnya
dan laut tak menggulung Obira pada satu ketika

Sajak Obira

Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!

Aku pernah bilang, rasanya bilang berulang-ulang: Yogya terlihat lebih indah di waktu malam di bawah binar temaram lampu merkuri kekuningan. Ah, entah kamu mengingatnya atau tidak.

Tapi aku akan selalu mengingat, bagaimana cara menangkap pijar lampu-lampu itu. “Lihat, dengan begini lampu kekuningan itu bisa terlihat seperti bintang.” katamu menerangkan sambil memutar-mutar lensa kamera. Sesaat mengerjap dan sebelah matamu terpicing, kupikir aku juga melihat bintang di situ. Wah wah.. aku mulai nggombal.

Tapi aku tidak salah. Matamu benar temaram ketika menggenggam tangannya di pelaminan. Ehm, atau mungkin bukan temaram tapi redup seperti lampu petromak kurang gas.

Ya, pijar matamu meredup saat kamu mengatupkan tanganmu pada tangan perempuan yang menjadi kekasihmu empat tahun ini. Saat kamu membisikkan sepotong doa kebahagiaan untuknya dan suaminya. Ah, tidakkah kamu punya selarik luka?

“Aku akan baik-baik saja,” begitu katamu. Ya, semoga akan selalu begitu. Aku masih ingin melihat bintang yang pernah kamu bidik itu muncul lagi, di matamu. Nggak, aku nggak sedang nggombal. Betul, aku pernah melihatnya.

Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!

29 Tahun

Bagaimana rasanya menjadi 29 tahun? Rasanya ternyata tidak beda dengan kemarin dan kemarin dulu itu.

Semalam rasanya sungguh kacau. Aku setengah mempercayai bahwa gravitas bumi yang tengah berlipat enam kali itu tengah memengaruhi pasang surut emosiku. Seorang teman memberi tahu bahwa sekitar tengah malam 7 Juli 2010 adalah saat merkurius, bumi, venus, uranus, dan neptunus berada dalam satu garis lurus dengan matahari. Fenomena yang terjadi 20.000 tahun sekali. Aih, bahkan pikiranku pun tak mampu menjangkau peredaran benda langit seperti itu.

Sepotong cemas menelusup ke bawah bantal. Merayakan ulang tahun menjadi sangat kontemplatif, sendu, mendayu, mellow gak jelas. Aku tahu, sok-sokan mengevaluasi diri malah bikin patah hati .. owh, kurang ini itu, ingin itu ini. Rasanya punya mau banyaaak sekali … Aku pun mengajak cemas untuk tidur. Dalam hati aku berdoa, semoga semua akan baik-baik saja esok hari.

Dan benar, tadi pagi, matahari bersinar hangat. Rasanya jauh lebih hangat dari hari biasanya. Aku merasakan energinya mengalir, masuk bersama udara bersih yang kuhirup di bawah pepohonan Taman Cilaki. Bahagia pun membuncah. Dan aku pun merayakan hidup! Ada begitu banyak cinta dan doa terucap untukku pagi ini. Kuharap aku bisa membalasnya.

Terima kasih, Tuhan atas 29 tahunku.

29 Tahun

Stasiun

Ya, benar katamu. Perjalanan yang diawali pun diakhiri pada sebuah stasiun lebih mengesankan. Aku masih ingat, bagaimana kamu merawat ingatan tentang stasiun-stasiun kecil yang sudah ditinggalkan.

“Lihat, itu bekas stasiun,” katamu pada sepenggal ruas jalan. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku memastikan. Dan, ingatanmu pun menjulur dalam ruang kepalaku. “Bentuknya kotak memanjang, di situ bekas ruang tunggu, dan kita menginjak bekas relnya.” Ah, aku lebih suka mengingatmu ketimbang stasiun-stasiun itu.

Tapi aku setuju denganmu. Selalu ada potongan-potongan ingatan yang tercecer di stasiun. Dan sepotong itu adalah kamu. Mungkin benar, ratusan tahun lagi stasiun yang pernah kita kagumi itu hanya berupa tumpukan batu, yang kemudian kita buru, hanya untuk merawat ingatan tentang masa lalu. Stasiun itu adalah kamu, yang berdiri pada sejumlah simpul perjalanan, kadang keretaku berhenti, namun sering keretaku laju tak mampir padamu.

Ya sudahlah. Kataku, tak penting apakah kita akan berjumpa pada sebuah stasiun, lagi, kelak, suatu ketika pada kota yang sama atau berbeda. Tanpa kau meminta, sepotong ingatan sudah kulipat dan kuselipkan dalam ranselku. Tapi aku memintamu, merawat kain biru milikku, seperti aku merawat ingatan tentangmu …

Stasiun