Gang Delima

Kalau ada daftar tanaman yang menghilang dari pekarangan rumah, pohon delima musti dimasukkan ke daftar itu. Sekarang ini, mudah dihitung pake jari,siapa saja yang masih punya pohon delima di pekarangannya.

Dulu, delima kelihatannya jadi tanaman populer jadi peneduh pekarangan. Tapi sebetulnya, pohon ini lebih mirip semak tinggi ketimbang peneduh. Batangnya kecil-kecil tapi rimbun. Daunnya lebat. Sementara buahnya paling seukuran kepalan tangan menjuntai satu satu di sela-sela dedaunan. Bukan pohon yang cantik apalagi menarik.

Sangking populernya si delima ini, orang di kampung tempat tinggal Simbah di Purwokerto ramai menanam delima. Alhasil, waktu aku kecil, hampir setiap pekarangan di sepanjang gang punya pohon Delima. Buahnya kalau matang kelihatan ngawe-awe di atas pagar teh-tehan. Pantaslah kalau gang itu dinamai Gang Delima. Ya, karena memang banyak pohon delima. Tapi, biar begitu, aku nggak pernah kesengsem sama delima. Aseeeem.

Tapi itu dulu. Sekarang, 20 tahun berselang, gang itu masih disebut gang delima meski pohonnya udah jarang terlihat. Di pekarangan rumah Simbah aja udah lama tumbang kalah sama teras.

Tapi kayaknya aku berjodoh sama pohon delima. Ada pohonnya di rumah kosku sekarang. Bersisian dengan tanaman yang nggak kalah zadul, belimbing wuluh. Aku udah ngerasain hasilnya. Aseeem.

Tapi dasar si buah ini sekarang udah langka, akhirnya ada saja orang yang penasaran. Pernah ada satu tangkai buah disayang-sayang biar masak di pohon. Eh, baru setengah mateng, ada orang jahil yang nyolong. Ibu kos pun kecewa bukan kepalang.

Yah, gitu deh nasib si delima. Dibiarin ngilang, eh begitu langka dicari-cari. Jadi, pengen punya pekarangan njuk tanam delima. Sapa tau akhir tahun nanti nasibnya jadi kayak gelombang cinta .. yang perdaun bisa dihargai 50 ribu. Wah …

Advertisements
Gang Delima

Balada Buah Pome

Uugh .. gemas betul rasanya lihat iklan tentang buah pome!

Masih ingat nggak, beberapa waktu lalu muncul iklan minuman jus botolan yang mengusung rasa buah pome. Mbak Titi Kamal dengan lenggak lenggoknya yang khas memperkenalkan minuman jus buah pome ini. Sehat dan segar gitu kira-kira pesannya. Waktu itu tetangga nanya, “Buah pome itu apa sih?”

Lha sekarang ini muncul iklan lain lagi. Sebuah iklan koran kira-kira tulisannya: buah Pomegranate, buah kaya manfaat dan riwayat … bla-bla, dijelasin kandungan dan gunanya bagi kesehatan, bla bla … dimanfaatkan  sejak zaman bangsa Himalaya dan Persia pada 3500 SM, Yunani pada 500 SM, Inggris 1500 M, dan bla bla bla .. jreeeng Indonesia pada 2010 muncul gambar si jus kemasan kotak.

Nggak lama setelah iklan cetak itu muncul, aku lihat versi iklan televisinya. Tentu dengan kemasan yang lebih dramatik, jus merah yang mengucur tampak segar diimbangi suara narator yang lembut meyakinkan. Narator bilang inilah buah pome bla bla baik untuk kesehatan dan kesegaran tubuh.

Pome ..  pome …  pome …..! kata itu mengetuk-ngetuk kepalaku.

Ini keterlaluan sekali! Kenapa sih nggak dibilang aja, itu buah pome adalah Delima yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ada di tanah air ini!

Delima adalah simbol tua kesuburan dan kemakmuran. Entah ya, keyakinan ini apa mungkin karena bijinya yang banyak dan warna merahnya (kalau matang di pohon) yang menggoda itu.  Bijinya ini kayaknya memang jadi daya tarik, sampe orang Prancis bilang delima adalah apel berbiji, pomegrenade (kasihan ya…  nggak punya kosakata yang banyak sih sampe delima dibilang pome eh apel).

Baiklah, contoh yang jelas lainnya. Delima adalah buah wajib untuk upacara kehamilan tujuh bulan di Pulau Jawa. Pada upacara itu, orang Jawa, Sunda, dan Betawi mencampurkan delima bersama enam buah lainnya dalam rujak.

Keyakinan tradisional pada delima ternyata bukan gelembung kosong. Berdasarkan sejumlah penelitian, delima mengadung antioksidan jenis polyphenol dan tanin untuk melawan kanker. Konon, masih perlu penelitian lebih lanjut, kandungan antioksidan ini lebih tinggi daripada kandungan dalam teh hijau.

Walaaah.. mbok ya bilang aja kalau itu delima. Apa delima terdengar kalah lezat daripada pome?!

Balada Buah Pome

Manis, tapi Jual Mahal

Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.

Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.

Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!

Tapi, ono rego ono rupo. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran – ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan – harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.

Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.

+ Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu!

Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak. (dengan rayuan semanis mangga tentu saja)

Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?

Manis, tapi Jual Mahal

Durian

Suka buah durian? Ehm.. buah yang satu ini banyak yang menyukai. Konon, inilah buah para raja di Sumatera sana. Disajikan segar maupun sebagai hidangan istana yang mengundang selera. Lempok, tempoyak, hmm.. apa lagi ya olahan dari durian itu? Eits, tapi nggak sedikit yang membenci. Mencium baunya yang menusuk bisa bikin mabuk. Apalagi kalau mencoba daging buahnya, perut panas rasanya mulas.

Bagi pencinta durian, tentulah buah ini tidak tergantikan rasanya.  (Ya jelas lah, masak durian di ganti jeruk?!) Dari segi harga saja sudah berbeda. Sebagai perbandingan, di Jawa, di daerah yang bukan sentra durian, beli 20.000 perak paling bagus dapat tiga biji. Itupun yang kurus kering tidak memesona. Tapi kalau di Bengkulu misalnya, kalau pas musimnya, satu butir dapet cukup 2.000 perak dengan daging buah yang tebal dan manis. Gitu juga di Bandung. Aku yang bukan pencinta durian tentu nggak mau repot dengan duri-durinya. Cukup beli es durian di Warung Sakinah di Simpang Dago 10.000 perak dan harus puas hanya dengan 5 biji durian.

Ya ya.. itulah durian. Namanya juga durian. Punya akar kata duri. Jadi artinya, ya, buah berduri. Jangan cuma mau enaknya, tapi juga harus ambil resikonya. September 2005, pesawat Mandala Airlines penerbangan 091 jatuh di Padang Bulan, Medan. Karena durian? Wah.. nggak (tahu). Tapi waktu kejadian, banyak orang mencurigai pesawat itu jatuh gara-gara mengangkut durian hampir 2 ton!

Ya ya .. itulah durian. Mungkin inilah buah kutukan. Dicari sekaligus dicaci. Kalau mau dimirip-miripkan, durian ini ibarat apel, buah nan cantik dari surga yang begitu diinginkan Adam. Cantik, tapi memabukkan hingga membuat Adam terusir dari surga. Emang mirip? Iya dimirp-miripkan meski fisiknya jelas berbeda.

 Aku hanya tiba-tiba teringat kalau durian dan apel itu sama-sama jadi julukan sebuah kota. Kota kutukan, yang didatangi ribuan orang setiap tahun tapi juga dicaci maki setiap hari. Ya ya.. apel untuk New York, The Big Apple. Dan durian untuk kota Jakarta, sebuah Durian Besar!

Ya, ya… itulah durian. Sekali lagi, aku bukan pencinta sejati durian. Aku menikmati buahnya tapi aku tidak mau repot dengan duri-durinya. Namun sekarang ini, aku harus siap. Aku akan mencicipi durian dan sekaligus durinya (kuharap tidak!) selama dua setengah bulan. Yay!

Durian