Kejujuran Lidah

Memang lidah nggak bisa bohong.

Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.

Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini itu. Seminggu terakhir ini, meja urusan logistik di tengah ruangan pun penuh makanan: makanan kemasan pabrikan, minuman kaleng, kue-kue kering dalam kemasan plastik yang cantik, dan kue-kue tart berdekorasi aduhai. Bingkisan makanan ini menlengkapi sajian makanan kecil yang sering tampil dari para simpatisan yang berbaik hati membagi menu berbukanya. Makanan kecil yang sering muncul dari para simpatisan ini seperti: agar-agar made in Nanik, gorengan tahu, tempe, cireng, yang sering dibeliin Nanik, Martabak telor atau lunpia favorit Luhur.

Nah, bak panggung aduan, ternyata makanan yang kerap muncul berbarengan ini beradu laris. Ternyata yang paling cepat tandas adalah gorengan! Gak peduli apa yang digoreng, entah martabak yang agak berkelas kaki lima mahalan dikit, tempe yang cokelat gelap karena memakai minyak 10 kali pakai, hingga cireng kenyal alot karena sudah dingin, lebih cepat laris manis tanjung kimpul. Sementara, bingkisan hotel yang cantik menik-menik itu ternyata lebih sering mengendap dulu di kulkas untuk disajikan lagi  besok sorenya.

Mungkin inilah yang disebut selera dan cita rasa. Bicara soal rasa, memang lidah nggak bisa bohong. Soal kelas dari mana asal muasal makanan dan bagaimana penyajiannya? Halaagh …

Advertisements
Kejujuran Lidah

Toko Kue Ibu-ibu

Aku masih mengantuk. Tapi, ini adalah pagi yang sibuk. Nggak peduli jam masih menunjukkan pukul 06.00, tapi aku sudah memaksa diriku untuk beringsut. Aku musti mempersiapkan diriku untuk menembus kerumunan ibu-ibu! Aaah, pagi-pagi dan ibu-ibu yang mengerumuni kue fresh from the oven, jelas bukan perpaduan kata favoritku. Apalagi dua hari menjelang liburan Lebaran seperti hari ini.

Bukan toko kue di Kota Bandung namanya kalau tidak dipadati ibu-ibu. Jangankan yang bangunannya magrong-magrong di pinggir jalan protokol, yang di gang sempit pun asal sudah punya nama pastilah ramai. Salah satunya ya toko kue di Jalan Kamuning ini.

Bronis panggangnya terkenal garing dengan cokelat legit yang manisnya pas. Sementara di etalasenya dipenuh dengan kue-kue basah mulai dari jajanan pasar hingga bolen, pastel, dan schootel ala negeri Belanda. Belum lagi kue kering dan camilan dalam kemasan-kemasan plastik yang cantik itu… Rasanya? Jelas boleh diadu.

Nggak heran, toko kue ini selalu jadi incaran ibu-ibu yang punya acara keluarga, ibu-ibu yang mau bikin arisan,  ibu-ibu yang suka ngemil, pelancong ibu-ibu yang berwisata kuliner ke Kota Bandung. Lha kok semua ibu-ibu? Ya memang kebanyakan yang dateng ibu-ibu. Kalau nggak percaya, datang saja ketika toko baru buka pukul 07 sampai mau tutup pukul 20!

Tapi berkat ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa inilah aku pun yakin bahwa toko kue yang satu ini memang masuk kategori highly recommeded. Dan pagi ini, kembali aku mempersiapkan diri untuk menembus kerumunan ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa itu.

Dengan tak kalah cekatan dengan para ibu itu, aku memasukkan ke dalam kerangjang belanja: satu bronis panggang rasa keju, dua cake pisang panggang, dan satu bolu ketan hitam pandan kukus. Plus satu plastik kue kering almond. Kubayar dan lantas kutata rapi dalam tas merah marun. Aku pun pulang dengan hati riang. Besok, penganan itu akan kujejer di meja makan di rumah. Kue-kue itu pesanan ibuku.

Toko Kue Ibu-ibu