Arwana

Sabtu dan minggu. Pertemuan yang direncanakan berjalan dengan lancar. Sepanjang hari yang hangat bersama teman-teman lama. Rasanya masih seperti dulu, mengumbar cerita remeh temeh di masa sma dan kuliah. Menyenangkan.

Kami masihlah sama, masih saja suka tertawa dan bercanda. Ehm.. sama? Tentulah tidak semuanya. Umur kami sudah bertambah. Tak lagi seperti dulu yang selalu mengaggap lewat begitu saja hidup, kini kami mulai serius menyapa hidup. “Menjadi ikan,” kata seorang teman. “Dan bermimpi menjadi kepala naga, ” kata teman yang lain. “Kalau hanya menjadi buntutnya, bagaimana?” timpal teman yang lain lagi.

Ya, ya, anggaplah kami ini ikan. Ikan muda yang bersemangat. Sebagai ikan muda, kami sibuk dengan kolam kami masing-masing. Macam-macam yang dikerjakan. Ada yang selalu ramah melayani pengurusan kredit mobil, ada yang serius memberantas CD bajakan sembari membuat novel teenlit (gak nyambung ya?), ada yang antusias mengendus-endus dan membongkar kasus kriminal, ada yang berapi-api memperjuangkan kesetaraan jender, dan ada yang jungkir balik memburu peristiwa harian.  

Sebagai ikan, kami pun sejauh ini bisa berenang dan menyelam dengan baik (ya iyalah, namanya juga ikan). Namun, ada satu ikan yang sangat pandai berenang. Kecepatan berenangnya mendahului ikan yang lain. Secara, ikan ini meloncat dari kolam yang sama, berenang dari tepian yang sama. Namun, ikan ini melesat melampaui ikan lainnya sehingga membuat ikan lainnya iri. 

Si ikan sukses ini pun menjadi sasaran cibiran ikan-ikan lainnya (iya, ikan-ikan ini anggota kelompencapir alias kelompok pencaci dan pencibir). Mereka kerap menuduh ikan sukses telah lupa pada akarnya. Maklum, ikan kelompencapir hanya melihat sisik luar si ikan sukses yang kini sangat mentereng, berwarna keperakan seperti kaca spion motor yang ditempa sinar matahari siang bolong. Ikan-ikan kelompencapir pun mengidap komplikasi sirik dan silau atas keberhasilan si ikan sukses.

Begitulah balada ikan yang berkumpul. Di dalam kerumunan, selalu menjadi tidak jelas juntrungan omongannya. Aku kemarin sempat bilang pada si ikan sukses. “Ah, kamu juga ikan kok, tapi kamu ikan arwana yang mahal! Sementara aku dan yang lain ikan mujair.”

Arwana

Rasa

Koma, belum titik. Dalam jejeran huruf membentuk kata, dan kata membentuk kalimat, tanda koma menandakan rentetan kalimat itu masihlah panjang berderet-deret. Belum berhenti.

Dengan koma, tentulah tidak berhenti. Dan kalau ada semangat berkarya tanpa henti salah satunya pastilah Teater Koma. Di tengah gemerlapnya film bioskop dan semaraknya sinetron televisi, teater ini terus bersetia mementaskan lakon.  Aku beruntung bisa melihat lakonnya yang ke-112, Kenapa Leonardo? di TIM. Sebuah lakon satir yang mempermainkan logika waras dan ketakwarasan. 

Adalah Pak Martin (Budi Ros), penderita amnesia akut namun memiliki kemampuan menyerap informasi apapun diajarkan padanya. Ia adalah salah satu pasien yang dirawat di Rumah Sakit Syaraf Kota. Di tangan Dokter Dasilva (Cornelia Agatha) yang ambisius, Pak Martin pun memiliki kemampuan super: menguasai 37 bahasa dunia dan 29 repertoar musik. Pak Martin dicetak paksa untuk menjadi manusia super, si Leonardo da Vinci kedua.

Tapi, betapa manusia tidaklah bisa disebut manusia bila tidak punya rasa. Pak Martin tak kenal apa itu panas, marah, atau cinta. Kemampuan otakknya membesar, namun hatinya mengerut. Eksperimen Dokter Dasilva ditentang oleh Dokter Hopman (N Riantiarno). Debat dua dokter ini pun bertebaran di sepanjang lakon berjalin kelindan dengan pembicaraan para pasien Lembaga Syaraf. Tidak jelas lagi, siapa yang waras di sini. Semua sama aneh dan mustahilnya. 

Ehm, aku bukannya mau sok-sokan mengulas lakon teater. Tapi, sungguh. Lakon itu menggelitik rasaku, di tengah rutinitas yang serba tergesa, rasaku masih hidup. Di tengah budaya instan, menonton lakon semacam ini bisa memperkaya rasaku sebagai manusia dengan cara yang juga instan. Aku menikmati lakon itu, meski aku sempat terkantuk-kantuk di ujung pentas. Maklum, panjangnya 4 jam! Pentas teater terlama yang pernah kutonton (hmm.. jangan bandingin dengan pentas wayang semalam suntuk lho yaaa) . Pesan lakonnya sangat jelas bagiku: Rasa manusia tidak dapat dipertukarkan dengan apapun juga. Titik!

Rasa

Durian

Suka buah durian? Ehm.. buah yang satu ini banyak yang menyukai. Konon, inilah buah para raja di Sumatera sana. Disajikan segar maupun sebagai hidangan istana yang mengundang selera. Lempok, tempoyak, hmm.. apa lagi ya olahan dari durian itu? Eits, tapi nggak sedikit yang membenci. Mencium baunya yang menusuk bisa bikin mabuk. Apalagi kalau mencoba daging buahnya, perut panas rasanya mulas.

Bagi pencinta durian, tentulah buah ini tidak tergantikan rasanya.  (Ya jelas lah, masak durian di ganti jeruk?!) Dari segi harga saja sudah berbeda. Sebagai perbandingan, di Jawa, di daerah yang bukan sentra durian, beli 20.000 perak paling bagus dapat tiga biji. Itupun yang kurus kering tidak memesona. Tapi kalau di Bengkulu misalnya, kalau pas musimnya, satu butir dapet cukup 2.000 perak dengan daging buah yang tebal dan manis. Gitu juga di Bandung. Aku yang bukan pencinta durian tentu nggak mau repot dengan duri-durinya. Cukup beli es durian di Warung Sakinah di Simpang Dago 10.000 perak dan harus puas hanya dengan 5 biji durian.

Ya ya.. itulah durian. Namanya juga durian. Punya akar kata duri. Jadi artinya, ya, buah berduri. Jangan cuma mau enaknya, tapi juga harus ambil resikonya. September 2005, pesawat Mandala Airlines penerbangan 091 jatuh di Padang Bulan, Medan. Karena durian? Wah.. nggak (tahu). Tapi waktu kejadian, banyak orang mencurigai pesawat itu jatuh gara-gara mengangkut durian hampir 2 ton!

Ya ya .. itulah durian. Mungkin inilah buah kutukan. Dicari sekaligus dicaci. Kalau mau dimirip-miripkan, durian ini ibarat apel, buah nan cantik dari surga yang begitu diinginkan Adam. Cantik, tapi memabukkan hingga membuat Adam terusir dari surga. Emang mirip? Iya dimirp-miripkan meski fisiknya jelas berbeda.

 Aku hanya tiba-tiba teringat kalau durian dan apel itu sama-sama jadi julukan sebuah kota. Kota kutukan, yang didatangi ribuan orang setiap tahun tapi juga dicaci maki setiap hari. Ya ya.. apel untuk New York, The Big Apple. Dan durian untuk kota Jakarta, sebuah Durian Besar!

Ya, ya… itulah durian. Sekali lagi, aku bukan pencinta sejati durian. Aku menikmati buahnya tapi aku tidak mau repot dengan duri-durinya. Namun sekarang ini, aku harus siap. Aku akan mencicipi durian dan sekaligus durinya (kuharap tidak!) selama dua setengah bulan. Yay!

Durian

Alamat

Sepotong surat bersampul merah jambu tergeletak di mejaku. Surat yang baru saja sampai itu pun menggugah ingatanku. Bukaan. Bukan karena warnanya yang centil kayak permen yuppi merah jambu. Jangan salah sangka, surat itu bukan surat cinta. Namun ucapan hangat dari seorang sahabat: supaya aku tidak kehilangan semangat dalam dunia yang cacat. Begitu kurang lebih isinya.

Perhatian yang terlipat dalam surat itu menyentilku. Ternyata aku tidak punya perhatian sebesar perhatian temanku itu padaku. Ya, ya, aku nggak perhatian bahkan untuk sekadar memperhatikan di mana aku menyimpan catatan alamatnya.

Temanku ini bukan tipe orang yang suka menuliskan alamat si pengirim di belakang sampul. (Kebiasaan yang sebetulnya menyulitkan siapapun yang ingin langsung membalas suratnya) Tapi, ia sudah memberikan alamat barunya sekitar tiga bulan lalu melalui YM. Aku pun sudah menyalinnya di notes kecil. Dan notes itu (semula) kutaruh di dekat komputerku. Aku juga sudah pernah mengiriminya sepotong kartu pos di alamatnya itu beberapa waktu lalu. Dari beberapa korespondensi, aku terlanjur merasa telah menyimpan alamatnya baik-baik.

Tapi ternyata aku salah. Seiring dengan datangnya surat itu, spontan aku butuh meyakinkan diriku bahwa aku masih menyimpan alamatnya. Namun, notes tempat aku mencatat alamatnya itu tidak kutemukan. Diburu rasa tidak nyaman di dalam hati karena sudah menghilangkan alamat teman yang baik, aku pun membongkar rimba belantara mejaku. 

Menemukan notes mungil dengan tulisan cakar ayam terseok-seok yang berisi alamat temanku itu ternyata tidak mudah. Di mejaku ada setumpuk notes kecil serupa. Jadi, rasanya sia-sia kalau pun aku tabah membolak-balik selusin notes kecilku itu demi mencari alamat temanku. Di sela-sela gerundelanku, aku menyesal. Kalau saja lebih perhatian, tentulah saat itu aku meluangkan sedikit waktu untuk mencatat alamat temanku dalam buku alamat yang semestinya.

Ya, ya, lupa dan perhatian itu seperti pendulum yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Tidak bisa dalam satu saat, orang perhatian dan lupa pada satu hal sekaligus. Pendulum itu pun berayun seirama detakan jam dalam kepalaku. Celakanya, gerakannya lebih sering tertahan di sebelah ke kiri. Iya, aku sering lupa!

Maaf ya, ternyata aku nggak perhatian sama kamu. Aku sudah menghilangkan catatan alamatmu. Sementara, perhatianmu begitu besar. Hhm.. kamu pasti jarang lupa ya?

Alamat