Bertemu Andrea Hirata

Aku bukan penggemar tulisan Andrea Hirata, apalagi mengidolakan orangnya. Tapi bukan berarti aku tidak mengagumi penulis berambut ikal itu. Siang tadi, aku berkesempatan bertemu dengannya.

Seperti novelnya Laskar pelangi, gaya tutur orang ini memang hidup. Kata-kata yang diucapkannya seolah menggiring satu keyakinan bahwa matahari akan selalu terbit dengan hangat esok hari, lusa, tulat, tubin. Ia sangat bersemangat menjelaskan tentang aliran karyanya yang disebutnya sebuah cultural novel.

Tentu, Andrea punya banyak sekali kosakata untuk  menjelaskan pemikirannya dan imajinasinya. Seolah aku memang sedang nimbrung di sebuah warung kopi di Gantong sana, sedang melihat pantai burung mandi yang tenang atau menapaki Bukit Samak A1yang zadul dan indisch.

Mendengar Andrea berbicara tadi, membuat pikiranku terlempar dan jatuh di Belitung Timur. Di dalam novelnya, Andrea melukiskan Gantong dalam era kejayaan timah tahun 1980 hingga akhir 1990-an adalah kota yang sepi dan terpencil. Tapi ternyata kota itu masih saja kota yang sepi di awal tahun 2008. Rasanya sulit bagiku saat itu untuk membedakan mana pasar dan mana permukiman. Kok, rasanya ya sama sepinya. Kota kecil itu seolah lengang diapit semak, perdu, perkebunan, dan rawa. wew ..

Sontak, itu membuatku takjub bahwa ada orang yang lahir dan tumbuh di kota kecil seperti Gantong bisa menjadi penulis tenar seperti Andrea. Debut novelnya, Laskar Pelangi (2006) sudah diterbitkan 5 juta eksemplar, tapi perkiraan buku bajakannya mencapai 15 juta eksemplar. Itu belum termasuk yang diterjemahkan dan beredar di daratan eropa, Jepang, dan Australia. Saat ini, dia tengah promosi dwilogi (2009) bertajuk Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas.

Hmm.. waktu kecil dia baca apa ya sampai-sampai bisa punya imajinasi seperti itu? Ya, pembicaraan tadi menyemangatiku:  semua orang bisa menulis meski tidak semuanya bisa jadi penulis (tenar).

Bertemu Andrea Hirata

Sekolah

Ketika aku datang pagi ini, seorang teman tampak sibuk berkemas. Mengambili kertas-kertas yang teronggok di sudut meja, mengikatnya menjadi satu bundel tebal. Menggeser kotak-kotak anyaman bambu warna warni koleksinya, dan mengelapnya. Tumpuk demi tumpuk buku di mejanya pun disusunnya kembali. Semuanya ia masukkan ke dalam kardus besar. Tak cukup satu kardus. Mungkin ia perlu empat kardus besar untuk membuat semua barang di mejanya terangkut. Ia memang sibuk berkemas. Ia akan pindahan. Pindah kota, pindah kerja, pindah kehidupan.

Melihatnya sibuk, perasaanku campur aduk. Aku banyak belajar darinya selama ini, dan sekarang, ia akan pindah. Perasaanku pun menjadi entah. “Aku akan sekolah lagi.” begitu katanya ketika kutanyakan apa rencana berikutnya.

Tentu tidak ada yang salah dengan rencananya. Keputusannya untuk sekolah lagi sudah dipikirnya masak-masaknya. Temanku, seorang perempuan cerdas, tentu tidak ingin otaknya mengeras karena rutinitas. Pikirannya selalu mengalir bak air jernih, gemericik, mengiringi setiap ketuk jemarinya di papan ketik. Pikirannya lancar tertuang utuh menjadi karya yang menggugah. Bahasanya bernas, ulasannya tangkas. Entah sudah berapa jiwa yang semula layu tanpa asa, kembali mekar setelah mengeja tulisannya yang segar. Ya, tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencananya. Meski untuk mewujudkan rencana itu, ia harus mengorbankan apa yang ia miliki sekarang. Sesuatu yang sudah disusun teliti selama lima tahun. Atau.. tunggu.. tunggu, mungkin aku yang salah menduga, ia justru merasa tidak memiliki apa-apa lagi di sini?

“Aku malah senang sekali sekarang,” begitu katanya ketika kutanyakan bagaimana perasaannya menjelang kepindahannya. “Semua sudah kupersiapkan. Aku akan belajar lagi,” katanya mantap.

Separuh hidupnya kini ada dalam kardus, terselip di antara buku-buku, tergurat di atas ratusan kertas-kertas bekas yang selalu ia simpan rapi. (Ia tipe orang yang tidak pernah membuang catatan, notes, sobekan karcis pertunjukan, undangan seminar, agenda rapat, de el el) . Semuanya sudah terbungkus rapi. Dan segera akan ia bawa serta untuk kembali disusun di tampat barunya nanti. Entah apa yang ada di pikirannya, bagiku seruwet coretan pensilnya di notes hariannya. Baiklah, selamat belajar teman …  Tentu saja, aku gembira atas rencanamu itu!

 

Sekolah

kopi

Beberapa hari lalu, aku dan seorang teman membuat perdebatan kecil tentang efek kopi. Teman ini mengeluhkan efek secangkir kopi yang baru saja dia minum. “Aku menjadi mellow, nggak stabil,” begitu katanya. Ya tentu saja, keluhannya itu membuatku ngakak.

“Nggak masuk akal.” Komentarku itu pun bikin dia makin ngotot menjelaskan bahwa kopi membuat sistem syaraf tubuhnya menjadi buyar, tidak stabil, dan menggiringnya untuk memikirkan hal-hal yang sentimentil. Perasaan tidak nyaman itu bercokol hingga dua hari lamanya. (Ah, itu sih dasar kamu aja yang melankolis!)

Tapi pembicaraan kami itu ternyata menghasilkan satu kesimpulan penting. Efek kopi ternyata bisa di luar dugaan.  Kalau bagiku menenangkan, maka bagi yang lain bisa berarti mengacaukan pertahanan tubuh. Paling tidak, membuat seseorang menjadi rileks meski sedang membongkar hatinya, dan mengurai kembali jahitan-jahitan luka hatinya.  

Ini terbukti pada dua teman yang lain, di waktu yang lain lagi. Dengan kopi, dua orang teman yang sedang mengidap luka cinta pun berbagi cerita. Satunya, seorang lelaki yang muram. Ia bilang bahwa sudah empat kali perempuan yang dikasihinya mengkhianatinya. Dan kedua, perempuan yang mengaku sudah memberikan seluruh hatinya pada seorang lelaki, hingga ia pun rela membagi lelakinya itu dengan perempuan lain.

Entah berapa tahun keduanya bertahan dengan perasaan mereka. Perasaan yang entah. Hanya satu yang aku tahu pasti, ada luka yang masih basah di situ. Dan akan selalu basah jika bukan mereka sendiri yang mengeringkannya.

Karena kopi yang kami hirup, atau mungkin juga karena udara pekat persahabatan, kami pun merasa dekat. Berbagi cerita yang tidak pernah kami bagi sebelumnya. Berharap, bisa berbagi hangat untuk membangunkan kembali semangat.  

Ya.. ya.. hati kami benar menjadi hangat. Cerita di warung kopi pun berlanjut. Kami pun melanjutkan obrolan kami di pantai berharap bisa menyapa matahari.

Tiba-tiba ada sebuah lagu di kepalaku.

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan.Tapi kita juga pernah duduk bermahkota. Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata. Dicumbui harumnya putik-putik bunga. Putik impian yang membawa kita lupa …. (Pas Band)

PS: My dear friends.. ayo kita cari lagi pucuk-pucuk mimpi kita!

kopi