Sajak Obira

Obira, obira
kisah pujangga yang menuju utara
singgah di dermaga kota tua
nyiur tengadah menantang angin beraroma kayu manis

bumi tempat sunyi menuai sepi
angin menggiring badai
tak sanggup menahan angkuh yang menggerogoti kolong langit
jejak-jejak tamak bergemuruh selaksa gempa
meninggalkan lubang-lubang menganga
menara suar, singgasana ambisi yang abai
lengkingan burung dan kelepak kelelawar menangisi puisi yang usai tiba-tiba saat laut menenggelamkam Obira pada suatu ketika

tersisa dongeng para pelaut buta
tentang tepian laut merah jambu
dan ikan-ikan keperakan berloncatan

di sana, Obira
sajak torehan pujangga
berkereta angin menebar mimpi pagi
menyelamatkan harapan
saat senja singgah, katakanlah,
jiwa adalah buku yang terbuka
ribuan kata tereja namun tidak terbaca

Obira, Obira
ke mana kata-kata akan bermuara
mungkin saja pelaut buta mengubahnya
dan laut tak menggulung Obira pada satu ketika

Advertisements
Sajak Obira

Menunggu Pak Sholeh

Ini sudah hari kelima Pak Sholeh tidak datang. Padahal, biasanya dua hari sekali dia muncul di pintu pagar. Mengadu gembok ke besi pagar. Klang .. klang, menandakan kedatangannya.

Pak Sholeh, tukang pengambil sampah di blok Rawa Belong. Umurnya kutaksir baru sekitar 30-an. Perawakan kurang cocok dengan pekerjaannya. Kalau saja dia pakai batik atau baju safari warna gelap, mungkin lebih ada potongan jadi sekuriti. Dan parasnya lumayan bersih kalau saja peluh dan topi bututnya itu tidak menutupi kulit bersihnya.

Pak Sholeh berkampung di Banten. Biasanya, kalau akan lama tidak datang, dia bilang mau pulang kampung. Mungkin di Rangkasbitung, Serang, apa di Cilegon. Aku lupa. Pokokya yang kuingat dia pernah bilang berkampung di Banten. Kalau dipikir dia datang memang tidak pernah sama waktunya. Kadang jam 7 pagi, sering lewat jam 8, tapi pernah juga hampir jam 12. Mungkin itu tergantung ke mana dia muter sehari itu. Rawa Belong saja sudah luas. Apalagi kalau dia juga mengangkuti sampah di kampung tetangga dan tetangganya lagi. Memang, tidak semua rumah di gang ini memanfaatkan jasanya. Tapi tetap saja, klien Pak Sholeh banyak. Itu gampang dilihat dari isi gerobaknya yang bisa macam-macam. Kalau datang, Pak Sholeh akan memarkirkan gerobaknya di depan pintu pagar. Besar sekali. Dengan gerobak itu, dia bisa mengangkut apa saja. Dari sampah, sampai bongkaran rumah. Kalau dia mau, sampah masyarakat juga dia bisa angkut. Dengan cekatan, dia akan memasukkan dua buntelan plastik berisi sampah ke gerobaknya itu. Sigap. Dia mungkin hanya perlu sekitar 10 menitan untuk mengambil sampah di tiga rumah cluster rabel. Setelah semua beres, dia akan pamit.

Dia tidak banyak bicara, kecuali pernah bilang supaya kantong sampah lebih baik ditaruh di dekat pintu, jangan di dekat pagar supaya tidak diambil orang lain. Itu saja. Berbeda dengan rivalnya yang bersuara keras, Pak Sholeh jauh lebih santun. Dia tidak pernah kedapatan sedang mengintip isi rumah lewat celah pintu yang terbuka. Dan kalau datang, dia selalu meneriakkan password dengan alunan suara yang khas, “sampah!”. kata kunci ini penting supaya penghuni rumah tidak dibuat parno dengan suara Klang.. Klang yang dibuatnya. Dia juga jujur cerita kalau pernah melompati pagar terkunci untuk mengambil sampah di halaman saat tidak ada satu pun penghuni cluster rabel. Pendeknya, soal kebersihan, Pak Sholeh juaranya. Sama seperti banyak urbaner lainnya, kami ini tidak sanggup mengatasi sampah yang kami bikin sendiri. Untung ada Pak Sholeh yang sigap mengangkut. Untuk jasanya itu, dia menagih Rp 15.000 per bulan.

Tapi kali ini, hampir seminggu Pak Sholeh tidak muncul. Menumpuk sampah, artinya menumpuk persoalan. Sampah basah mulai memanggil rombongan koloni semut yang pagi tadi saja sudah berbaris teratur merambati lantai. Dan sampah kering benar-benar jadi rongsokan di sudut ruangan. Botol plastik berbaur dengan kaleng bekas sardencis yang mulai beraroma tidak sedap.

Duh, Pak Sholeh … enjing dateng kan?

Menunggu Pak Sholeh

Cerita Sebelum Tidur

Palmerah sehabis hujan. Jalanan berpendar ditimpa petromak para pedagang buah. Orang-orang seliweran lalu lalang. Berlomba melawan cemas bergegas menghalau rutinitas. Angkot berderet-deret berdesakan memenuhi jalan. Tet tet teeeet. Segera pulang! Toh, esok hari semua ini akan kembali berulang.

Malam menggelinding. Menyelinap gang-gang sempit. Menggelantung pada pepohonan sisa cerita masa lalu kota. Bergelayut di langit-langit rumah bedeng, mengungkit mimpi para perantau yang kelelahan. Suara radio butut mengudara dengan frekuensi yang meleset. Siapa yang peduli? Para perantau sedang tersesat dalam mimpinya sendiri. Mimpi apa selarut ini?

Di ujung gang, tiga lelaki membongkar sunyi. Menertawakan hidup yang lucu sambil terus asyik memetik gitar. Lagu-lagu ceria berjejalan di bangku, menghibur cinta yang cengeng sekaligus memaki nasib yang jarang mujur. Sial. Malam yang berisik mengusik. Seseorang terbangun dengan kekesalan di ubun-ubun. Diam! Mengapa masih saja terjaga?

Jam dinding berdetak-detak. Suaranya memenuhi kamar yang gelap. Seorang perempuan meringkuk di atas kasur, menghitung jarum waktu yang berderak. Gagal. Hitungan ke tiga ratus tiga puluh tujuh tidak juga menghempaskannya dalam lelap. Angin malam menelusup meniup ingatan melambai-lambai, menerobos masa lalu yang jauh. Ah, kenangan macam apa yang kamu cari selarut ini?

Cerita Sebelum Tidur

Laskar Dagelan

Rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan kemarin malam di TIM, Selasa (29/3). Panggung dagelan musikal malam itu milik Butet Kartaredjasa, yang jadi produser pertunjukan. Cerita panggung musik itu dleweran ke mana-mana.

Dijejali sindiran DenSus (Susilo Nugroho) yang njelehi dan orasi budaya abdi dalem (Marwoto) yang kemampleng, siapa pun pasti bisa merasakan kejengkelan wong Yogya. Belum lagi hentakan musik Jogja Hiphop Foundation dengan suara latar suling prajurit Kraton yang njogjani, bolak balik, di awal dan di akhir pertunjukan, nyanyi Jogja tetap istimewa, istimewa orangnya. Panggung makin segar dengan bertabur banyak bintang. Ada Hanung Bramantyo, sutradara sang pencerah itu malah jadi bahan gasakan lawakan. Sinden kosmopolit Soimah juga ada, masih kenes dan kemayu tapi tampil sedikit urakan. Juga pelawak senior yang kalem tapi nyelekit, Yu Ningsih. Tapi ya, panggung itu milik Butet. Rasanya melihat Sentilun, pembantu nyiyir di Metro TV, sedang menari-nari di belakang panggung sepanjang pertunjukan.

Kalau saja Pak Beye menonton, seperti halnya Pak Sri yang datang malam itu, pastilah muka dan telinganya merah padam. Marah bin sebal. Sepanjang pertunjukan ceritanya berkutat soal Yogya yang istimewa. Sebetulnya semua kena sentilan. Martir memang dibombardir ke pusat republik, tapi pantulannya ke mana-mana sampai ke negeri ketoprak opera yang digambarkan suka saru dan merusak properti panggung. Ada lagi tokoh superman yang terbang-terbang dengan jubah merah kleweran. Jambulnya juga nglewer yang kok malah jadi mirip om Nur yang gemar sepak polah. Tentu semuanya diramu dengan bumbu dagelan, dari mengumbar plesetan khas Yogya, sampai lawakan lawas trio Joned, Wisben, dan Gareng khas punakawan goro-goro pewayangan. Penonton ngakak pol. Para seniman di panggung itu berkeyakinan kalau suara dagelan adalah suara rakyat. Dan kalau suara rakyat adalah suara tuhan, berarti suara dagelan adalah suara tuhan. Sesat pikir yang cerdas.

Cerdas memang. Saking cerdasnya, banyak orang nggak sadar kalau sebetulnya degelan yang bikin ngakak itu sebetulnya adalah panggung kejengkelan. Jengkel pada republik, jengkel pada kepala republik, jengkel pada pusat republik. Semua kejengkelan ditumpahkan malam itu, dengan banyak dialog yang sebetulnya lebih mirip orasi budaya ketimbang panggung teater. Nuwun sewu, ada yang terlewat. Karena terlalu semangat menggungat pusat di Jakarta, pusat Yogyakarta jadi luput kritikan.

Masak mendadak lupa sih, kalau pusat di Yogya itu pernah meloloskan izin MegaProyek Parangtritis yang hendak memangkas gumuk pasir bergunduk-gunduk yang maha langka di Parangtritis sana tahun 1990-an akhir? Dan ya masak sudah lupa kalau pusat di Yogya itu juga pernah mengizinkan pembangunan Amplaz yang nyaris merusakkan Gandok Tengen pesanggrahan Ambarukmo? Rencana itu kemudian memicu demo besar-besaran para seniman dan budayawan tahun 2005. Alhasil sekarang Pesanggrahan bersejarah yang dibuat sejak masa Sultan HB V terlihat wagu karena atapnya mepet banget dengan bangunan mal. Terus, apa ya lupa juga kalau pusat Yogya itu tahun 2005 juga pernah merelakan izin nggrowongi Alun-alun Utara untuk dibikin parkiran bawah tanah? Terakhir, yang paling wagu adalah pusat Yogya itu pernah berencana maju kompetisi jabatan lima tahunan, padahal sudah menggenggam jabatan seumur hidup? Woogh.. nuwun sewu, itu wagu sak pol-polane!

Sungguh, rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan. Aku sangat setuju kalau Yogya istimewa negerinya, istimewa orangnya. Tapi pusatnya.. wah ya tunggu dulu. Beneran, cerita dleweran ke mana-mana, marai nggondok.

Laskar Dagelan