Balada Tisu Basah

Katanya, beraktivitas di luar ruang bisa menunjukkan karakter khas seseorang. Aku percaya itu.

Pengalaman naik ke puncak Gede tengah bulan ini sangat menyenangkan, kecuali persoalan kecil dengan mbak berambut ikal: tisu basah. Iya, tisu basah. Remeh temeh itu jadi selilit di antara kami berdua.

Sore hujan dan berangin. Kami berjalan beriringan menuju wc yang kami tentukan. Aku meminta selembar tisu basah padanya. “Tinggal satu,” katanya. Dan aku pun maklum, mengurungkan niatku.

Keesokan harinya. Siang yang lembab. Pemandangan elok terhampar kanan kiri depan belakang. Puncak gunung terlewati. Dan kulihat si mbak menimang sebungkus tisu basah. Sorenya kulihat dia meminta tisu basah pada teman seperjalanan yang lain. Mengelap tangannya yang berminyak sehabis cuci piring. Malamnya, si mbak membawa selastik tisu basah ke wc tujuan. Pemandangan baik, aku mencoba minta selembar …. tapi lagi-lagi jawabannya tinggal satu.

Pagi berikutnya kulihat lagi si mbak mengusap lelah dan sisa kantuk semalam dengan tisu basah. Dia juga sempat memintaku mengambilkan tisu basah di tas seorang teman, nggak peduli bahwa tubuhku masih kuyub habis nyemplung di kali. Siangnya si mbak makin lengket dengan tisu basahnya setelah makan siang. Aw aw aw …

Sepertinya, aku jadi hanya melihat dia dengan tisu basah. Dongkol. Sepertinya si mbak lupa kalau pernah bilang bahwa tisu basahnya tinggal satu …

Balada Tisu Basah

Stasiun

Ya, benar katamu. Perjalanan yang diawali pun diakhiri pada sebuah stasiun lebih mengesankan. Aku masih ingat, bagaimana kamu merawat ingatan tentang stasiun-stasiun kecil yang sudah ditinggalkan.

“Lihat, itu bekas stasiun,” katamu pada sepenggal ruas jalan. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku memastikan. Dan, ingatanmu pun menjulur dalam ruang kepalaku. “Bentuknya kotak memanjang, di situ bekas ruang tunggu, dan kita menginjak bekas relnya.” Ah, aku lebih suka mengingatmu ketimbang stasiun-stasiun itu.

Tapi aku setuju denganmu. Selalu ada potongan-potongan ingatan yang tercecer di stasiun. Dan sepotong itu adalah kamu. Mungkin benar, ratusan tahun lagi stasiun yang pernah kita kagumi itu hanya berupa tumpukan batu, yang kemudian kita buru, hanya untuk merawat ingatan tentang masa lalu. Stasiun itu adalah kamu, yang berdiri pada sejumlah simpul perjalanan, kadang keretaku berhenti, namun sering keretaku laju tak mampir padamu.

Ya sudahlah. Kataku, tak penting apakah kita akan berjumpa pada sebuah stasiun, lagi, kelak, suatu ketika pada kota yang sama atau berbeda. Tanpa kau meminta, sepotong ingatan sudah kulipat dan kuselipkan dalam ranselku. Tapi aku memintamu, merawat kain biru milikku, seperti aku merawat ingatan tentangmu …

Stasiun