Magelang Siesta!

Seorang kawan bilang, bahwa paling enak punya toko kelontong di Magelang. Kerja tidak ngoyo dan bisa siesta, tidur-tidur siang sebentar setelah makan siang. Buka toko lagi sore harinya dan tak lama kemudian tutup lagi ketika hari belum terlalu larut. Nyaman.

Mungkin benar kata kawan itu. Jalan Jenderal Sudirman yang banyak toko kelontong, toko oleh-oleh dan warung makan jadul itu sering terlihat lengang. Padahal, aku lewat juga nggak sore-sore amat, sekitar jam lima sore. Di seputaran Akmil yang masih rungkut dengan pepohonan juga begitu. Entah karena orang sungkan bawa kendaraan ngebut di wilayah militer, atau memang nggak banyak yang melintas. Agak ramai ya hanya di sekitar alun-alun dan pertokoan di jalan Tidar dan Jalan Pemuda. Selebihnya, senyap.

Tiga hari di Magelang, rasanya seperti sudah seminggu. Bukan karena bosan, tapi memang sehari di sini serasa 28 jam, panjang. Hidup tidak diburu waktu, dan orang tidak akan babak belur dihajar rutinitas. Apalagi, hujan turun hampir setiap hari, membuat udara kota di kaki Gunung Tidar ini sungguh nyaman untuk .. siesta, ngeteh di rumah, atau apapun asalkan tidak berkeliaran di jalan.

Makanya, agak ganjil rasanya melihat kota dengan ritme alon-alon ini punya mal yang besar dan gemerlap seperti Artos. Awalnya, aku pikir nama itu dari bahasa Jawa yang berarti uang. Penamaan sederhana seperti pada toko-toko jadul, semacam arto moro atau sudi mampir. Ternyata Artos itu adalah Armada Town Square. Cool. Mal berusia dua tahun ini bersisian dengan hotel bintang 4 plus dari jaringan Aerowisata yang baru dibuka akhir tahun 2012. Keseluruhan kompleks Artos ini berukuran jumbo untuk kota yang hanya seluas 18,12 km2. Luas kota ini hanya sekitar separuh dari luas tetangganya, Kota Yogyakarta, yang juga dikenal kecil itu.

Suka tidak suka, kompleks Artos memang mengubah wajah Magelang siesta yang ngantukan. Mau bagaimana lagi. Sebuah kota akan mau siesta berlama-lama kalau toh resep belanja sampai gempor di mal yang gemerlap diyakini mampu melecut transaksi ekonomi yang jauh lebih pesat. Tidak penting lagi apakah tata kota menjadi agak wagu dengan mal yang beradu besar dengan Gunung “mungil” Tidar di seberangnya.

Dan aku ternyata menikmatinya. Di hari ketiga, aku menukar tempat menginap, dari hotel senyap di lembah Progo ke hotel riuh di mal. Tidak tahan, berlama-lama di tempat yang terlalu sunyi sendirian. Apalagi, ketika kabut turun dan yang didengar hanya arus deras sungai sepanjang malam. Akhirnya, aku memilih bergabung dalam keriuhan di pinggir Kota Magelang. Tapi lain waktu, aku pasti menikmati siesta yang sebenarnya di Magelang.

Magelang Siesta!

7 thoughts on “Magelang Siesta!

  1. Kesunyian Magelang agak terganggu dengan keberadaan mall baru ya? Jadi teringat, 15 tahun yll pernah survei di sini seminggu. Enak, adem, masyarakatnya ramah.

    1. suryasenja says:

      klo ramah, masih ramah.. banget. pertanyaan wajib “badhe tindak pundi? saking pundi?” itu pasti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s