Living

Ini kali pertama aku nonton film Rusia. Living salah satu nominasi dalam Festival Film Internasional Rotterdam. Sebuah film satir tentang kematian karya sineas muda Vasily Sigarev (1977). Perasaan kehilangan yang senyap dalam tiga jalinan kisah cinta tak lazim. Seluruhnya terjadi di tengah musim dingin Rusia yang menggigit.

Meski gila, ayah tetaplah seorang ayah. Seorang bocah tak mampu menerima kenyataan bahwa ayahnya yang tidak waras itu telah mati. si anak merasa selalu melihat ayahnya menuntun sepeda onthelnya di luar sana. celakanya, si ibu yang temperamen lebih kerap memaki dan menuduh si bocah mewarisi ketakwarasan si ayah. pacar baru si ibu, jelas tak bisa menggantikan sosok ayah. sementara si ibu lebih mirip psikopat. hamil tua tidak membuatnya kepayahan untuk terus merokok, memukul dan mencaci-maki. Keluarga ganjil yang seluruhnya terlihat tidak waras.

Kehilangan suami membuat seorang istri kehilangan kewarasannya. Ia memilih untuk mendem vodka sampai-sampai mengabaikan dua putri kembarnya. panti sosial mengambil alih si anak hingga si ibu ini dianggap cukup waras untuk kembali merawat. Malang, putri kembarnya justru kecelakaan ketika panti hendak memulangkan pada ibunya. tragedi pun dimulai. ibu kini benar-benar gila ini membongkar makam dan membawa dua putrinya pulang. Dalam pikirannya, dua putrinya pasti kedinginan. sesampai di rumah, ia memandikan dan memberinya dua putrinya makan. kegemparan tetangga berujung si ibu bunuh diri dengan meledakkan tabung gas.

Seorang perempuan mempertanyakan mengapa Tuhan menyemaikan cinta di hatinya kalau  kemudian harus merasai perih. perempuan nyentrik berambut gimbal dan bertindik di lidah itu serius bertanya pada seorang pendeta. hanya selang beberapa jam setelah pendeta itu menikahkannya, maut yang kejam justru memisahkan perempuan itu dengan kekasihnya. bukan HIV yang merenggut nyawa kekasihnya, tapi lima perampok brutal di kereta. masyarakat yang sakit membiarkan penganiayaan itu terjadi di depan mata. tak ada seorang pun yang peduli pada jerit pilu perempuan yang menyaksikan kekasihnya meregang nyawa. putus asa menggiring perempuan itu mengiris nadinya. Tapi ia menolak untuk mati. Semangatnya bangkit setelah tiba-tiba bayangan kekasihnya membuatnya tersadar harus mencari uang demi memakamkan dengan layak.

Perasaan kehilangan sulit diungkapkan. Kata-kata tak pernah cukup. Tapi, ekspresi datar dan dingin orang-orang Rusia dalam film itu lebih dari cukup. hatiku terjungkir. sepi yang senyap datang menyergap. tiba-tiba saja aku teringat seperti apa rasanya kehilangan.

Living

2 thoughts on “Living

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s