Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Tania

3 thoughts on “Tania

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s