Occupy!

Aku lupa namanya. Penampilannya terlihat modis dengan jaket tebal warna ungu metalik, syal tebal warna terang, dan celana pensil warna hitam. Topi fedora dan kacamata berbingkai hitam tebal ala nerd cocok dengan raut mukanya yang manis. Rambutnya yang kecoklatan acak-acakan menyembul dari balik topinya, serasi dengan cambang yang dibiarkan menutupi dagu. Aku menaksir usianya nggak lebih dari 25 tahun. Ia duduk dalam sebuah tenda di Beursplein.

Penampilannya mengingatkan pada tipikal anak band Britpop. Tebakanku nggak sepenuhnya salah. Dia mengaku bekerja sebagai DJ di sebuah klub di Maastricht. Sebuah tape kotak besar di sampingnya memutar lagu tanpa lirik berirama tekno. “I made it for this movement,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum menanggapi seperlunya musik ramuannya itu. Menarik. Tapi bagiku lebih menarik buku yang sedang dibacanya. Buku setebal tiga centi berjudul filsafat bla bla bla. Aku nggak tahu terusannya karena memakai bahasa Belanda. Dia bilang sedang kuliah di Maastricht jurusan hukum atau ekonomi, aku nggak ingat lagi penjelasannya.

DJ yang modis, buku filsafat, dan tenda yang mirip barak pengungsian korban bencana alam adalah perpaduan yang ganjil. Tenda itu berdiri tepat di depan gedung megah World Trade Center. Spanduk besar bertulisan Occupy Rotterdam terpampang, juga beberapa spanduk dengan tulisan pylox asal-asalan tentang perdamaian dan keadilan. DJ modis dan sejumlah kawan-kawannya sudah belasan hari menduduki tenda itu.

Ternyata, setiap negara punya persoalannya sendiri, nggak terkecuali negara semaju Belanda. Lupakan kelas buruh dan abaikan serikat pekerja dalam buku-buku babon. Demonstrasi kini dilancarkan kalangan mapan dengan isu yang beraneka rupa. Nggak jelas protes ditujukan pada siapa. Yang jelas maunya semua serba ideal. Sejumlah orang yang kuajak ngobrol meyakini sejumlah hal yang harus jadi sorotan. Mulai dari Amerika sudah terlalu mendominasi perekonomian dunia, krisis ekonomi Eropa yang tengah menggerogoti Yunani dan Itali, sampai persoalan lokal seperti komersialisasi ruang publik yang sudah kebablasan di Rotterdam.

Bukan cuma orang Belanda yang kesengsem gerakan Occupy. Secara masif, gerakan Occupy telah  mencuri perhatian publik dunia sejak dilancarkan sekitar dua bulan lalu. Aksi ini pertama kali menggebrak Wall Street, New York, Oktober 2011 dan setelah itu menjalari berbagai negara.  Terinspirasi dari Arab Spring, gerakan menargetkan unjuk rasa di lebih dari 950 kota di 82 negara demi menggugat korporasi dan liberalisme. Kemarin, ribuan pengunjuk rasa Occupy kembali menggelar aksi di New York (18/11). Aksi ini berakhir ricuh.

Occupy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s