Meja Makan Keluarga Rabel

Inilah keluarga rabel. Sebuah keluarga yang ganjil terdiri dari tiga perempuan. The girls next door, para sahabat untuk berbagi: dari atap, celoteh, hingga nasi dalam magic com.

Satu bernama Put, inilah miss telaten dalam rumah. Paling rajin memindahkan peralatan yang numpuk di rak piring ke tempat penyimpanan. Kami semua rajin mencuci peralatan, tapi tidak cukup rajin mengelap dan menata apa yang sudah dicuci dan menyimpannya supaya kembali rapi. Nah, Mbak Put inilah yang paling rajin mengelap garpu sendok, termasuk wadah-wadah plastik yang kalau numpuk gitu saja tampak lebih mirip plastik siap daur ulang daripada wadah makanan.

Nah, kalau yang satu lagi adalah Nik, si problem solver sejati. Ia benar-benar tetangga sebelah kamar dalam arti yang sebenarnya. Enam tahun belakangan kami berbagi atap sejak dari Bandung. Dan episode glundungan terus berlanjut sampai sekarang di ibukota ini. Daya pemecahan Nik bisa bikin takjub. Misalnya nih, dia tak ragu untuk berbelanja onlen, cara jitu berbelanja tanpa macet tanpa repot di Jakarta. Nggak cuma wadah-wadah plastik tapi juga baju. Hmm.. itu kayaknya dia memang nggak punya masalah dengan ukuran dan warna baju. Sementara aku, baju musti dipegang, dijajal, baru dibungkus. Daya jelajah onlennya itu juga yang buatku bisa mirip katalog toko (makanan terutama). Dalam hitungan detik dia bisa kasih saran buat ngelongok ice cream cake enak di mana, kue kering garing di mana, apa lagi ya.. ? banyak lah. Belum lagi urusan pemecahan masalah ewuh pakewuh yang melibatkan tata kebiasaan. Nah, nik ini bisa kasih solusi jitu soal kepatutan dan kepantasan misalnya dalam hal ngasih kado lahiran, membawa buah tangan, nge-treat ibu bawel warung (kalau dulu nge-trick ibu kos :D).

Pada dasarnya kami ini keluarga yang hangat. Ngudoroso, sehangat obrolan dan teh hangat yang sesekali kami bikin bersama. Tapi ternyata gampang-gampang susah (catat: banyak gampangnya daripada susahnya!) buat hidup bareng satu rumah di Jakarta. Ini soal membangun jagongan efektif dan berkualitas. Memang tinggal satu atap, tapi ketemunya bisa kayak orang main petak umpet. Satu datang yang dua tidur, dua berangkat yang satu tidur. Kapan mo nggosip cobaa?

Hal yang menggelinding normal adalah urusan lidah, makan memakan. Lauk yang kami masak itulah penyambung rasa, tali jiwo bahasa rumangtisnya. Si pemasak pagi akan menyimpankan lauk bagi si pemakan siang. Seterusnya, si pemasak siang pasti akan ninggalin makanan buat si pemakan pagi. Makanan itu biasanya ditaruh dalam wadah yang ditempatkan di atas “meja makan”. Ya, kami punya “meja makan” yang selalu padat oleh toples berisi cemilan. Sebetulnya itu adalah container plastik yang berisi perkakas. Di taruh di sudut ruang bersama supaya bisa juga merangkap sebagai meja. Nah, di situlah kami berbagi perhatian kecil. Jika memasak, pasti ada rantang tertutup atau piring bertangkup piring di atasnya. Melihat benda-benda itu, kami langsung tahu bahwa ada aksi dapur di hari itu. Saatnya berbagi protein dan kalori!

Inilah keluarga rabel. Ganjil namun hangat … Luv ya, gals!

Meja Makan Keluarga Rabel

5 thoughts on “Meja Makan Keluarga Rabel

  1. put says:

    Nah, dari pengalaman tinggal sebagai kontraktor, cluster rabel ini juga paling unik. jarang ketemu, smoga juga jarang berkonflik. hahaha…Jadi ingat dg komunitas kontrakan rumah kuning. Sering ketemu, sering pula berkonflik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s