Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

Naik engkel rute Aikmal-Mataram rasanya nggak beda jauh dengan naik colt jurusan Prambanan-Terban. Sama-sama sesak penumpang, dan sama-sama riuh obrolan bahasa Jawa. Hmm.. serasa nggak sedang di Lombok.

Obrolan mengalir renyah. Ketara sekali jika antara kenek, sopir, dan penumpang sudah sering bertemu atau malah mengenal. Mungkin si pak Anu tetangga bu Ini, atau nenek B masih kerabat dengan si F. Bahasa yang kudengar malah didominasi bahasa Jawa. Usut punya usut, ternyata engkel itu melewati perkampungan orang Jawa. (woalaah .. yo mesti wae!)

Sungguh, aku rasanya lebih baik tidur daripada larut dalam obrolan. Bau daun seledri bercampur dengan aroma asam keringat dan bau apak kain yang sudah tiga hari tidak dicuci. Untunglah engkel ini jendelanya blong, bikin angin semribit memporak porandakan rambut kusutku makin mbundet. Udara panas jadi agak berkurang kegarangannya. Nggak tahu juga mengapa kendaraan antar desa ini disebut engkel. Kendaraan elf berkursi 12 (kalau nggak salah hitung) tapi dipaksa bisa menampung hingga 20 orang berhimpitan. Jalannya pelan tapi pasti. Seolah tidak pernah ada kata persaingan jasa atau ketergesaan dalam kamus orang-orang di sini.

Di tengah perjalanan, seorang nenek menginang menyetop engkel. Ia naik dan  memilih duduk persis di depanku, satu-satunya tempat yang masih tersisa. Bicara dalam bahasa lokal yang nggak kumengerti dengan si kenek engkel. Dia sebut-sebut sumbawa dan masbege, dua tempat yang bisa kukenali dari lafal katanya. Selebihnya nol. Aku juga nggak tertarik untuk mengikuti obrolan mereka hingga akhirnya si nenek mengeluarkan bungkusan plastik dengan dua batang rokok warna cokelat. Terlihat unik. Si nenek mengangsurkan ke kenek yang sejurus menerima dengan senyum lebar dan mata berbinar. Mulai timbul rasa ingin tahu.

Rokok itu ternyata adalah dagangan terakhir si nenek hari itu. Khas bikinan orang Sumbawa, katanya, yang tidak dijual di banyak tempat di Mataram. Si kenek melengkapi keterangan si nenek dengan embel-embel bilang bahwa rokok itu banyak dicari orang di lombok. Naluri pelancong pun langsung membuncah. Dengan bahasa Jawa halus, saya nembung untuk dua batang rokok itu. Kenek ternyata memberikan cuma-cuma (mungkin berkenan karena solidaritas Jawa). Bukan, bukan buatku..

Aku membungkusnya sebagai buah tangan untuk Maun.

Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

3 thoughts on “Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

  1. Sebutan engkel merujuk ke jenis kendaraannya. Engkel untuk bis dan truk yang beroda empat. Makanya, bis/truk ini disebut juga bis/truk ringan. Kan sebelumnya bis/truk biasanya beroda enam (4 roda di belakang) ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s