Menunggu Pak Sholeh

Ini sudah hari kelima Pak Sholeh tidak datang. Padahal, biasanya dua hari sekali dia muncul di pintu pagar. Mengadu gembok ke besi pagar. Klang .. klang, menandakan kedatangannya.

Pak Sholeh, tukang pengambil sampah di blok Rawa Belong. Umurnya kutaksir baru sekitar 30-an. Perawakan kurang cocok dengan pekerjaannya. Kalau saja dia pakai batik atau baju safari warna gelap, mungkin lebih ada potongan jadi sekuriti. Dan parasnya lumayan bersih kalau saja peluh dan topi bututnya itu tidak menutupi kulit bersihnya.

Pak Sholeh berkampung di Banten. Biasanya, kalau akan lama tidak datang, dia bilang mau pulang kampung. Mungkin di Rangkasbitung, Serang, apa di Cilegon. Aku lupa. Pokokya yang kuingat dia pernah bilang berkampung di Banten. Kalau dipikir dia datang memang tidak pernah sama waktunya. Kadang jam 7 pagi, sering lewat jam 8, tapi pernah juga hampir jam 12. Mungkin itu tergantung ke mana dia muter sehari itu. Rawa Belong saja sudah luas. Apalagi kalau dia juga mengangkuti sampah di kampung tetangga dan tetangganya lagi. Memang, tidak semua rumah di gang ini memanfaatkan jasanya. Tapi tetap saja, klien Pak Sholeh banyak. Itu gampang dilihat dari isi gerobaknya yang bisa macam-macam. Kalau datang, Pak Sholeh akan memarkirkan gerobaknya di depan pintu pagar. Besar sekali. Dengan gerobak itu, dia bisa mengangkut apa saja. Dari sampah, sampai bongkaran rumah. Kalau dia mau, sampah masyarakat juga dia bisa angkut. Dengan cekatan, dia akan memasukkan dua buntelan plastik berisi sampah ke gerobaknya itu. Sigap. Dia mungkin hanya perlu sekitar 10 menitan untuk mengambil sampah di tiga rumah cluster rabel. Setelah semua beres, dia akan pamit.

Dia tidak banyak bicara, kecuali pernah bilang supaya kantong sampah lebih baik ditaruh di dekat pintu, jangan di dekat pagar supaya tidak diambil orang lain. Itu saja. Berbeda dengan rivalnya yang bersuara keras, Pak Sholeh jauh lebih santun. Dia tidak pernah kedapatan sedang mengintip isi rumah lewat celah pintu yang terbuka. Dan kalau datang, dia selalu meneriakkan password dengan alunan suara yang khas, “sampah!”. kata kunci ini penting supaya penghuni rumah tidak dibuat parno dengan suara Klang.. Klang yang dibuatnya. Dia juga jujur cerita kalau pernah melompati pagar terkunci untuk mengambil sampah di halaman saat tidak ada satu pun penghuni cluster rabel. Pendeknya, soal kebersihan, Pak Sholeh juaranya. Sama seperti banyak urbaner lainnya, kami ini tidak sanggup mengatasi sampah yang kami bikin sendiri. Untung ada Pak Sholeh yang sigap mengangkut. Untuk jasanya itu, dia menagih Rp 15.000 per bulan.

Tapi kali ini, hampir seminggu Pak Sholeh tidak muncul. Menumpuk sampah, artinya menumpuk persoalan. Sampah basah mulai memanggil rombongan koloni semut yang pagi tadi saja sudah berbaris teratur merambati lantai. Dan sampah kering benar-benar jadi rongsokan di sudut ruangan. Botol plastik berbaur dengan kaleng bekas sardencis yang mulai beraroma tidak sedap.

Duh, Pak Sholeh … enjing dateng kan?

Menunggu Pak Sholeh

2 thoughts on “Menunggu Pak Sholeh

  1. Tinggal di Rawabelong sebelah mane, jeng? Cedhak protelon sing lampu-merahnya nyaris nggak ada fungsinya?

    Ane di Asofa, pertigaan Rawabelong ke arah Kontan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s