Laskar Dagelan

Rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan kemarin malam di TIM, Selasa (29/3). Panggung dagelan musikal malam itu milik Butet Kartaredjasa, yang jadi produser pertunjukan. Cerita panggung musik itu dleweran ke mana-mana.

Dijejali sindiran DenSus (Susilo Nugroho) yang njelehi dan orasi budaya abdi dalem (Marwoto) yang kemampleng, siapa pun pasti bisa merasakan kejengkelan wong Yogya. Belum lagi hentakan musik Jogja Hiphop Foundation dengan suara latar suling prajurit Kraton yang njogjani, bolak balik, di awal dan di akhir pertunjukan, nyanyi Jogja tetap istimewa, istimewa orangnya. Panggung makin segar dengan bertabur banyak bintang. Ada Hanung Bramantyo, sutradara sang pencerah itu malah jadi bahan gasakan lawakan. Sinden kosmopolit Soimah juga ada, masih kenes dan kemayu tapi tampil sedikit urakan. Juga pelawak senior yang kalem tapi nyelekit, Yu Ningsih. Tapi ya, panggung itu milik Butet. Rasanya melihat Sentilun, pembantu nyiyir di Metro TV, sedang menari-nari di belakang panggung sepanjang pertunjukan.

Kalau saja Pak Beye menonton, seperti halnya Pak Sri yang datang malam itu, pastilah muka dan telinganya merah padam. Marah bin sebal. Sepanjang pertunjukan ceritanya berkutat soal Yogya yang istimewa. Sebetulnya semua kena sentilan. Martir memang dibombardir ke pusat republik, tapi pantulannya ke mana-mana sampai ke negeri ketoprak opera yang digambarkan suka saru dan merusak properti panggung. Ada lagi tokoh superman yang terbang-terbang dengan jubah merah kleweran. Jambulnya juga nglewer yang kok malah jadi mirip om Nur yang gemar sepak polah. Tentu semuanya diramu dengan bumbu dagelan, dari mengumbar plesetan khas Yogya, sampai lawakan lawas trio Joned, Wisben, dan Gareng khas punakawan goro-goro pewayangan. Penonton ngakak pol. Para seniman di panggung itu berkeyakinan kalau suara dagelan adalah suara rakyat. Dan kalau suara rakyat adalah suara tuhan, berarti suara dagelan adalah suara tuhan. Sesat pikir yang cerdas.

Cerdas memang. Saking cerdasnya, banyak orang nggak sadar kalau sebetulnya degelan yang bikin ngakak itu sebetulnya adalah panggung kejengkelan. Jengkel pada republik, jengkel pada kepala republik, jengkel pada pusat republik. Semua kejengkelan ditumpahkan malam itu, dengan banyak dialog yang sebetulnya lebih mirip orasi budaya ketimbang panggung teater. Nuwun sewu, ada yang terlewat. Karena terlalu semangat menggungat pusat di Jakarta, pusat Yogyakarta jadi luput kritikan.

Masak mendadak lupa sih, kalau pusat di Yogya itu pernah meloloskan izin MegaProyek Parangtritis yang hendak memangkas gumuk pasir bergunduk-gunduk yang maha langka di Parangtritis sana tahun 1990-an akhir? Dan ya masak sudah lupa kalau pusat di Yogya itu juga pernah mengizinkan pembangunan Amplaz yang nyaris merusakkan Gandok Tengen pesanggrahan Ambarukmo? Rencana itu kemudian memicu demo besar-besaran para seniman dan budayawan tahun 2005. Alhasil sekarang Pesanggrahan bersejarah yang dibuat sejak masa Sultan HB V terlihat wagu karena atapnya mepet banget dengan bangunan mal. Terus, apa ya lupa juga kalau pusat Yogya itu tahun 2005 juga pernah merelakan izin nggrowongi Alun-alun Utara untuk dibikin parkiran bawah tanah? Terakhir, yang paling wagu adalah pusat Yogya itu pernah berencana maju kompetisi jabatan lima tahunan, padahal sudah menggenggam jabatan seumur hidup? Woogh.. nuwun sewu, itu wagu sak pol-polane!

Sungguh, rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan. Aku sangat setuju kalau Yogya istimewa negerinya, istimewa orangnya. Tapi pusatnya.. wah ya tunggu dulu. Beneran, cerita dleweran ke mana-mana, marai nggondok.

Laskar Dagelan

2 thoughts on “Laskar Dagelan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s