Bandung itu lutju #3: The Art of Doing Nothing

Sudah baca novel Eat Pray Love? Si tokoh, Elizabeth belajar the art of doing nothing dari orang Itali. Dia pasti belum tahu kalau dia bisa melakukan hal yang sama di Bandung.

Dalam film, Elizabeth diperankan oleh Julia Robert, artis berambut kruwil berwajah enak dilihat. Ia perlu usaha ekstra untuk bisa menikmati hari dengan berjalan-jalan di trotoar, ngobrol ngalor-ngidul, mengudap sore hari, duduk-duduk di taman. Mungkin kalau si Elizabeth itu bukan orang Manhattan, tapi orang Bandung, kayaknya kok nggak perlu jauh-jauh ke Itali buat belajar the art of doing nothing. Di Bandung, itu bisa bangeeet. Sepanjang hari di kota ini bisa bersantai seolah nggak ada masalah. Dan yang penting, banyak tempat bisa didatangi dalam satu hari berwisata kota.

Di jantung Bandung (baca: Gasibu dan sekitarnya) itu asik. Di mana lagi bisa jalan kaki mengukur jalanan dengan nyaman. Ehm, memang trotoar nggak lagi utuh, tapi setidaknya pepohonan jadi payung teduh sepanjang jalan. Dari taman cilaki, gasibu, seputaran jalan dago bawah, jalan riau atas, kalau mau bisa dijangkau dengan jalan kaki. Nggak usah ngapa-ngapin. Nongkrong di taman sambil ngemil gorengan dan es potong itu juga udah asik.

Betapa orang Bandung sangat paham seni nggak ngapa-ngapain juga kelihatan di riuhnya Pasar tiban di Lapang Gasibu tiap hari Minggu dari jam 5 sampai 11 pagi. Lokasi pasar membentang, dari depan Gedung Sate, sampai di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Jualannya sagala aya, dari yang penting sampai nggak penting: oblong, celana pendek, kaos kaki, jajanan, makanan, celemek, keset, kaset, macem-macem. Harganya miring, semiring-miringnya tergantung kepiawaian menawar harga.

Seringnya, orang datang ke sana tujuan utamanya untuk lihat-lihat dulu, kalau-kalau ada barang dengan mode terbaru. Soalnya, kalau nekad langsung cari barang A, B, atau C, orang harus sabar dan siap kecewa. Ada kalanya si pedagang nggak buka lapak atau kalaupun buka, lapaknya sering berpindah-pindah di radius 20-an meter. Saking padat dan ramainya lokasi pasar tiban, orang musti ingat betul-betul ancer-ancer lokasi lapak kesayangannya. Ini penting, daripada kesel nyari tempat idola nggak ketemu-ketemu.

Makanya, satu syarat penting the art of doing nothing di Bandung adalah tidak tergesa-gesa. Dengan kata lain, ini adalah seni menikmati berjalan kaki – atau bersepeda santai – yang nggak kemrungsung dan nggak mengejar harus. Sama sekali nggak disarankan bawa mobil roda empat apalagi lebih. Waah,bisa-bisa nggak nyeni lagi karena jadi emosi.

Hal yang nggak nyeni sama sekali di Bandung adalah keruwetan lalulintas. Ini sama ruwetnya dengan hidup orang-orang Jakarta yang sukanya bikin macet Bandung di ujung minggu. Memang, berwisata kota di Bandung itu asik. Cukup satu dua hari di Bandung bisa bikin pikiran segar kembali.

Sebagai warga Jakarta anyaran, aku sudah membuktikan jurus jitu itu. Eits, tapi aku nggak bikin macet. Karena tujuanku wisata kota, cukuplah jalan kaki atau ngangkot. Toh, aku nggak perlu belanja belanji di setiabudi atau ngadem di Lembang atau ngemil di Dago pakar. Mendengarkan koor tonggeret di bawah pepohonan taman Cilaki, itu sudah cukup.. Bonus kalau pas jalan, dapet kudapan anyar yang penuh inovasi ala Bandung..

Bandung itu lutju #3: The Art of Doing Nothing

One thought on “Bandung itu lutju #3: The Art of Doing Nothing

  1. Clara says:

    iya juga yach…tau gitu si elizabeth diajak aja tuch ke bandung…nyobain peuyeum, gorengan, cireng….lebih seru tuch kayanya ketimbang makan pizza di itali…lebih banyak pilihan di bandung..ada cimol, kripik pedes ma icih…brownies amanda..bla bla bla…hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s