Waterfall

Di Jakarta, hujan tak lagi syahdu. Hujan adalah keruwetan yang njelehi. Sungguh celaka Jakarta. Membuatku tidak lagi menyukai hujan.

Hujan sejam itu artinya kerepotan berjam-jam. Banjir akhirnya mampir juga ke cluster rabel (ehm, ini panggilan mesra untuk my home sweat home aka hunian rawabelong :D). Tidak lewat pintu tapi anjlok dari atap rumah sewa nomor 6. Inilah banjir lokal di lantai atas yang bikin huruhara di dua rumah sekaligus.

Gara-gara talang mampet, air mencari jalannya sendiri. Terjun bebas. Mengalir sesukanya lewat langit-langit. Luasnya nggak tanggung-tanggung, ya seluas rumah itulah. Di kamarku, air menggenang bikin kaki adem namun hati panas. Dongkol ingat kasur pegas yang basah, tumpukan baju yang harus cepat-cepat dicuci, tebaran kertas yang lengket berbau, bantal duduk warna kuning yang semula cerah jadi suram. Runyam. Belum lagi tembok yang mendadak bermotif waterfall, rasa was-was eternit ambrol dan listrik konslet karena dudukan lampu basah kuyup. Air mengalir sampai jauh merambah kamar tetangga dan lantai bawah. Keluh. Kerusuhan ini tidak sebanding dengan hal ikhwalnya yang sepele: tukang tetangga yang ngawur dan serampangan buang sampah di atap orang.

Ah, Jakarta sungguh celaka! Membuatku tidak lagi menyukai hujan. Mendadak berharap ada panas menyengat sehari saja untuk mengeringkan langit-langit yang kini kuyub. Berharap pemilik rumah sewa sigap membuat semuanya menjadi betul: atap, talang, dan juga tukang tetangga.

Waterfall

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s