Senggal-senggol Tetanggaaa

Sekarang aku tinggal d rumah sewa nomor 6. Rumah dengan penampilan paling bersih terawat (dan juga terjangkau, tentu) di gang senggol nomor dua. Inilah babak keriuhan 3 bulan dalam hidup menghadapi para tetangga.

Persinggungan pertama dengan warga gang senggol adalah dengan ibu warung di depan rumah sewa nomor 6. Warung kecil serba ada, dari galon air minum sampai gas tiga kilo, dari momogi sampai kopi kemasan. Komplit plit. Buka dari pagi jam 7 sampai malam jam 12. Tempat paling happening. Pagi jadi ruang gosip para ibu-ibu, siang jadi tempat jajan anak-anak, dan malam berubah jadi tempat nongkrong para pemuda gawul gang senggol.

Persinggungan demi persinggungan beneran bikin tersinggung. Ibu warung dan keluarganya selalu want to know, celingukan mencari celah untuk mencari tahu ada barang-barang apa saja d rumah. Dan selalu want to give evaluation, beramah tamah mengomentari segala hal mulai dari pintu pagar yang selalu tertutup, tetangga yang jarang senyum, sampai urusan kebiasaan bepergian. “Mbak yang satunya itu sedang dievaluasi, kok nggak pernah senyum,” mantap kata anak si ibu mengomentari the other girl next door. Walah pak, gimana mau senyum kalau tiap pulang dianya musti konsentrasi manuver steer biar nggak nyenggol kaleng krupuk di warung.

Keramahan lain ditunjukkan tetangga yang tinggal di sebelah warung. Kesan pertama begitu menggoda. Kira-kira begitu waktu aku pertama kali bertemu bapak pemarah. Ya, tepatnya tensi yang tergoda. Ini gang senggol, Bung! Jangan bayangkan sebuah kampung permai dengan warga guyub ramah senyum sana sini. Si bapak pemarah itu, baru pertama kali ketemu sudah keluar kalimat bernada tinggi “Ngerti nggak?!”. Kalimat itu terlontar tiga kali waktu aku yang senyum ramah minta si bapak sedikit memundurkan mobilnya dari depan rumah kami. Itu baru sedikit, gimana kalau minta banyak? Rupanya dia merasa terganggu. Lhah, siapa suruh parkir di depan rumah. Sudah tahu gang senggol (bacok). Ck ck ck, sesama kontraktor aja kok ya nggak ada tepo slironya, sih?

Tindak tanduk warga gang senggol yang nggak lazim rupanya mengakar sampai di tingkat grass root. Ibu kucing yang cantik bertamu pada suatu sore. Masuk lewat jendela dapur yang menganga, langsung slonong naik ke lantai atas. Dia menyapa saat sudah duduk di keset depan kamar. Rupanya dia sedang mencari tempat buat kelahiran anak-anaknya. Perutnya sudah membuncit di bagian bawah. Ditaksir bisa punya empat kitties. Woooah, what’s wrong with you, buk? Ini rumah sewa nomor enam, bukan rumah bersalin.

Tiba-tiba terngiang lagu lawas, “Ke Jakarta aku kan kembaliiii iiii iiii..” hhh.. Kalau bisa milih sih lebih baik nggak.

Senggal-senggol Tetanggaaa

One thought on “Senggal-senggol Tetanggaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s