Dampak erupsi, katanya?!

Rasanya gemas betul. Awan panas Merapi sudah berlalu setidaknya sebulan, tapi PT Pos tak kunjung membuka layanan pos ekspress Bandung-Yogykarta. Huh. Sebal! Benar-benar nggak mendukung kampanye Yogya Aman!

Padahal, mumpung masih di Bandung, aku ingin mengirim penganan khas ke orang-orang tersayang. Maklum, belum sempat pulang. Pos Ekspress itu semula kupikir bisa jadi andalan karena aku ingin mengirim kuweh panggang zadul yang daya tahannya paling cuma tiga hari.

Ya, aku sudah niat membungkuskan beberapa macam kuweh (memang begini tulisan aselinya). Ada yang berbumbu spekuk dengan aroma rempah, ada yang isian sarikaya, selai cokelat, pisang, jagung, dan ada yang berbumbu spekuk dimodifikasi dengan potongan keju. Seluruhnya selusin. Semua itu bungkus saat masih hangat. Meski semuanya dipanggang, tapi tidak seluruhnya menjadi kering kecokelatan. Membuat tekstur kuwehnya lembut dan kenyal. Hmm.. Sedap.

Segera aku pulang dan menaruhnya dalam wadah makanan plastik. Tapi bungkus asli kuweh sengaja tidak kubuka. Kubiarkan, karena memang ini merupakan ciri khas kuweh zadul ini. Terbuat dari plastik tidak transparan dengan cap bergaya desain dan fohn nggak kalah zadul, memampang nama toko roti dan kuweh2 Sidodadi, Jalan Ottto Iskandardinata 255, Bandung. Di bawah tulisan itu, ada gambar perempuan berdandan ala nonie Belanda yang rambutnya kruwel-kruwel sedang menangkat nampan berisi roti tawar yang tebal. Di depan si nonie ada etalase lawas yang penuh memajang aneka kuweh. Tagline di bawahnya sungguh di luar dugaan nggak ada hubungannya dengan roti dan kuweh: Jadilah peserta KB lestari. Sesudah rapi kubungkus kertas coklat dan kububuhi alamat tujuan, dua paket itu pun kubawa ke kantor pos.

Tapi informasi si mbak pengawai pengiriman barang bikin aku sebal. Ya itu tadi, ternyata pos ekspres ke Yogyakarta masih ditutup untuk waktu yang belum ditentukan. “Dari pusat kebijakannya seperti itu,” kata si mbak yakin. Tapi buatku itu tidak meyakinkan. Aku langsung ngeluyur pergi ke kantor pos pusat di Jalan Asia Afrika. Ternyata, jawaban si mbak di kantor pos pusat sama. Ia bahkan menambah infromasi wagu gaya sok tahu bahwa situasi Yogya sampai saat ini belum memungkinkan pengiriman paket ekspress karena terkena dampak erupsi Merapi.

Owh! Aku nggak bisa nahan mangkel lebih lama lagi. Aku ngeyel dan bilang bahwa Yogya sudah aman dan bilang dengan sengit dan muka kecut, “ini rumah saya, di Sleman, cuma berjarak 10 km dari kota, nggak kenapa-kenapa!” Eh si mbak dengan makin judesnya bilang, “ya dari pusat begitu. Belum ada surat sampai kapan. Kalau mau, kirim paket saja yang biasa. Lima hari pasti sampai.”

Sebal. Dengan bersungut-sungut aku pun beringsut. Tanpa mengucapkan terima kasih, menyambar paketku. Batal kukirimkan. Akhirnya paket itu berakhir di tangan teman lawas yang datang ke Bandung akhir minggu ini. Ya sudahlah … Niat pamer khazanah kuliner zadul Bandung sudah kesampaian, meski salah sasaran.

Tunggu ya, paket kuweh itu akan kubungkus dan kusampaikan sendiri.

Dampak erupsi, katanya?!

One thought on “Dampak erupsi, katanya?!

  1. Marput says:

    Hahahaha kekesalanmu dengan penjual roti jadul itu ternyata berlanjut ke PT Pos ya.
    Ya sudah..dinikmati sendiri. Nanti ada waktu utk mengantarnya langsung.

    Kenapa gak nyoba TIKI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s