Di Kota S

Ini kota S. Kota pelesiran kuno di punggung gunung. Kalau malam minggu membuat Kota B jadi pasar malam, tidak di kota S. Malam minggu sama seperti malam jumat atau malam rabu atau malam senin. Sama sepi.

S memang untuk sepi. Satu-satunya keramaian sore ada d alun-alun. Anak-anak bermain odong-odong dan remaja menebar canda. Dan ada sedikit antrian di toserba yang sedang menggelar diskon. Toko dan warung berdiri berderet di sumbu jalan, masih dengan nama-nama lama sederhana: dahlia, sugih, laris, dan macan ketawa. Lagu lama juga membahana, diputar dengan gambar penyanyi menari di taman bunga. “Aku masih seperti yang dulu.”

Saat malam, obrolan warga beralih di gerobag ketoprak dan nasi goreng dengan cahaya petromak remang-remang. Satu dua mobil membelah jalan mengangkut para pelintas kota yang kemalaman. Selebihnya, sepi.. Tunggu masih ada suara .. Owh, ya itu tadi, sotil tukang nasi goreng yang beradu wajan memecah malam trek trek trek.

Ya, sepi sekali … Tapi kamu malah menari-nari di pikiranku!

Di Kota S

4 thoughts on “Di Kota S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s