Cerita Jakarta #1: Balada Kontraktor

Menjelang tinggal di Jakarta, aku bertekad menjadi kontraktor. Males tinggal di kamar sewa karena belum-belum sudah membayangkan kerumitan beradaptasi dengan pemiliknya dan tentu saja tetangga baru. Pilihan paling nyaman adalah mencari rumah kontrakan.

Jadilah, akhir minggu berburu rumah sewa. Rencananya mencari rumah dengan spesifikasi minimal dua kamar untuk aku dan the girl next door. Tapi lebih bagus lagi kalau bisa mendapatkan tiga kamar untuk seorang lagi kawan dari Surabaya. Ya, kami bertiga memang berniat membangun sarang kenyamanan di belantara Jakarta.

Tapi, mencari sarang ternyata nggak mudah. Kami ini ternyata calon urbaner yang kadung terbiasa hidup nyaman di lingkungan asri ala kota B dan kota Y. Kami kagok menyisir gang kampung ibu kota yang saking sempitnya bikin suara televisi di dalam rumah terdengar sama gayeng dengan obrolan siang di teras rumah. Air selokan yang mampet itu sama mandegnya dengan pikiran kami. Kami ternyata nggak sampai hati membayangkan tinggal di rumah yang daun jendelanya menyambar jemuran tetangga atau daun pintunya mengelupas terpapar tampias air hujan. Sungguh sulit membayangkan meringkuk di kamar yang siang hari saja gelapnya mengalahkan kolong meja di gudang kantor. Rasanya sulit percaya bahwa air di pipa kamar mandi itu tidak akan bocor, sama tidak yakinnya bahwa rahasia kami tidak akan bocor diulik tetangga yang hidupnya terlalu mepet.

Beruntung kami diantar oleh keluarga sugi yang ramah. Kami akhirnya tahu kalau sarang idaman itu bukan sekadar khayalan. Benar ada, di pekarangan milik Babe, seorang tuan tanah di bilangan Sasak. Berjajar rapi, bersih, dengan kamar-kamar yang terang alami sinar matahari. Cerah, secerah warna kuning kusen jendelanya. Halaman itu diteduhi pohon belimbing. Ah, sayang sudah penuh …

Owh, sial ini baru cari kontrakan! Belum lagi cari jodoh?

Cerita Jakarta #1: Balada Kontraktor

7 thoughts on “Cerita Jakarta #1: Balada Kontraktor

  1. puti says:

    Hahahaha.Itu pengalaman pertama cari kontrakan ya.lumayan jd ada gambaran kan. aku ki wis bosan cari kontrakan di Jkt, sampai hapal jalan2 tikus di kaw kebun jeruk.
    diantara sekian byk rumah, pasti ada satu yg cocok utk kita. smoga 2 bln lg ktrkan babe yg di sasak kosong. tetap doa aja.spt kalo doa cr jodoh :p

    1. endah says:

      he..he..lha aku mengko njuk pye klo harus memboyong keluarga besarku beserta ortuku yg sudah kaki nini?wadowww gak kpikiran, saat bumil harus berburu mangsa menjadi kontraktor, bersaing dg kawan lain dari kota Y, B, S, dll. fiuhhhhh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s