Bandung Itu Lutju #2: Balada Caheum-Ledeng

Angkot yang paling banyak mengunci ingatanku adalah jurusan Cicaheum-Ledeng. Sejumlah teman yang datang ke Bandung hampir selalu nanyain di mana Cicaheum dan Ledeng.

Memang sih ada dua kemungkinan. Kemungkinan satu, nama Cicaheum-Ledeng itu memang terdengar lutju di telinga pendatang sepertiku. Apalagi kalau punya lidah kaku medok Jawa, bakalan susah meliukkan cengkok eu eu eu .. mesti wagu.

Kemungkinan dua, jalur Cicaheum-Ledeng itu memang lewat di depan jalan menuju rumah kos nomor 8. Jadi, teman-teman yang menemuiku di situ-situ itu, pasti bakal melihat deretan angkot ngetem di seberang mulut jalan.

Perkenalan awal dengan Bandung, memaksaku ikut mengenal angkot. Angkot itu singkatan dari angkutan kota. (hhmm.. next time aku musti cerita kalau urang Bandung juga suka nyingkat nama). Biasanya angkot pakai mobil kijang kotak atau suzuki carry.

Sopir angkot adalah manusia super multi tasking. Pelayanan hanya mengandalkan sopir, tanpa kondektur. Si sopir musti memecah konsentrasi: mengemudi sering tak hati-hati sekaligus lirik kanan kiri cari-cari penumpang. Selain teriak, biasanya sopir akan mencet-mencet klakson dengan riuhnya demi menarik perhatian calon penumpang. Stereotipnya, si sopir angkot ini kebanyakan pendatang Batak. Coba dengerin baik-baik saat sopir teriak-teriak cari penumpang, lidah memang gak bisa bohong, dia teriak lédeng atau lédéng ..😀

Menghafal jalur angkot Bandung sama seperti menghafal rumus kimia.. puyeng! Masing-masing rute cuma dibedakan dengan strip di body angkot. Atau kalau bagi jeli dan hafal rute, di kaca depan dan belakang tertempel rute antar-terminal, seperti Cicaheum-Ledeng, St Hall-Sd Serang, atau Dago-Kalapa. Hampir seluruh angkot dicat hijau tua, kecuali sejumlah jalur yang jarak tempunya juwawuh seperti Cisaranten warna pink, Ciwastra warna coklat, dan Riung warna putih.

Masih dalam bahasa lebay, angkot Bandung itu ibarat kendaraan tuhan. Berjalan penuh misteri dan kejutan. Cuma tuhan yang tahu ke mana arah kemudi angkot bakal berjalan. Lenggang lenggok semaunya, maju mundur seenaknya. Belum lagi berhenti tanpa permisi di tengah jalan. Jelas, bagi pengendara pengguna jalan lainnya, angkot bikin emosi.

Tapi bagi angkoters sejati, angkot adalah ajian andalan. Keistimewaan angkot Bandung adalah melayani rute yang nggak kebayang sama sekali, blusukan masuk perumahan atau pemukiman padat yang jalannya kecil-kecil itu. Dan waktunya juga sepertinya nggak terbatas. Sejumlah angkot yang lewat jalan protokol beroperasi sampai dini hari. Takjub? Jelas..! Di kotaku layanan angkot cuma sampai jam 6 sore.

Edun lah! Angkot ini memang salah satu ikonnya Bandung. Sebuah perusahaan kreatif bahkan sampai mengabadikan jalur angkot Bandung dalam desain kaos.

Bandung Itu Lutju #2: Balada Caheum-Ledeng

One thought on “Bandung Itu Lutju #2: Balada Caheum-Ledeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s