Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!

Aku pernah bilang, rasanya bilang berulang-ulang: Yogya terlihat lebih indah di waktu malam di bawah binar temaram lampu merkuri kekuningan. Ah, entah kamu mengingatnya atau tidak.

Tapi aku akan selalu mengingat, bagaimana cara menangkap pijar lampu-lampu itu. “Lihat, dengan begini lampu kekuningan itu bisa terlihat seperti bintang.” katamu menerangkan sambil memutar-mutar lensa kamera. Sesaat mengerjap dan sebelah matamu terpicing, kupikir aku juga melihat bintang di situ. Wah wah.. aku mulai nggombal.

Tapi aku tidak salah. Matamu benar temaram ketika menggenggam tangannya di pelaminan. Ehm, atau mungkin bukan temaram tapi redup seperti lampu petromak kurang gas.

Ya, pijar matamu meredup saat kamu mengatupkan tanganmu pada tangan perempuan yang menjadi kekasihmu empat tahun ini. Saat kamu membisikkan sepotong doa kebahagiaan untuknya dan suaminya. Ah, tidakkah kamu punya selarik luka?

“Aku akan baik-baik saja,” begitu katamu. Ya, semoga akan selalu begitu. Aku masih ingin melihat bintang yang pernah kamu bidik itu muncul lagi, di matamu. Nggak, aku nggak sedang nggombal. Betul, aku pernah melihatnya.

Itu bukan pantulan lampu, itu bintang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s