Bucam

Sebutlah si mbak satu itu bucam. Tipe orang seperjalanan yang menjengkelkan. Huff..

Gara-gara si bucam, rencana gowes d lereng gunung kemaren molor dua jam lebih. Entah apa yang sedang dilakukan bucam sampai membiarkan 10 orang yang sudah siap berangkat sejak jam 7 pagi jadi harus menunda sampai jam 9. Padahal, perjalanan pagi itu sudah dirancang sejak dua minggu sebelumnya! Terlalu.

Di seperempat kepenatan mengayuh, bucam nongol. Tanpa permisi, dia langsung menyeruak barisan seperti mesin potong rumput yang tajam lagi berisik. Kayuhannya mantap, jelas dia cukup gesit dengan sepeda muahalnya itu menyusul rombongan yang sudah start tanpanya sekitar sejam sebelumnya. Apalagi penampilan bucam sudah meyakinkan biker sejati: jersey warna cerah, celana ketat hitam, lengkap dengan helm dan tas yang melekat di punggung. Berhasil masuk ke rombongan, lidahnya yang tajam segera membabat perasaan kami, “nah, bener kan kesusul!” ck ck ck dia memang nggak merasa ditungguin. Dan nggak merasa bersalah membuat kami menunggu berjam-jam. Kelewatan.

Aksi jumawanya masih berlanjut. Bak biker berjam gowes tinggi, bucam mengingatkan seorang teman lain untuk ganti gigi depan, dari dua ke gigi tiga. Padahal, seandainya bucam mau lebih mengenal siapa teman seperjalanannya siang itu, dia akan tahu bahwa teman yang baru saja digurui itu adalah pangeran tanjakan. Dengkul dan betis pangeran ini sudah teruji ampuh melibas banyak tanjakan. Mendengar ajaran bucam, si pangeran cuma bisa mesem asem berasa arbei hutan.

Si bucam belum puas tebar komen sok ngakrab. Kali ini giliranku jadi sasaran. “Teh, itu sadel sepedanya kenapa?” Duh, dia nggak bisa bedain mana sebutan buat sadel dan mana buat pedal. Jelas-jelas yang barusan aku otak-atik adalah pedal sepedaku.

Mulai nggak tahan dengan basa basi bucam, aku pun bersuara. “Oh, ini ya bucam?” -saat itu yang kusebut nama sebenarnya – “Yang tadi ditungguin sampai 2 jam lebih?” sapaku renyah mak kriieek. Tak lupa, kusematkan senyum tak tulus d ujung bibir. Dan .. slaaapsh.. Kataku rupanya tepat mengiris egonya. Tanpa banyak kata, dia pun mengayuh menjauh … Dan emosiku pun rebah.

Duh, pinus, maafkan aku … Rasa kesal menutupi seperempat hatiku, sampai-sampai cokelat hijaumu yang biasanya meneduhkan, siang kemarin justru sedikit kuabaikan. Aku malah sibuk membatin bucam, huh! Rugi rugi rugi …

Bucam

One thought on “Bucam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s