Balada Tisu Basah

Katanya, beraktivitas di luar ruang bisa menunjukkan karakter khas seseorang. Aku percaya itu.

Pengalaman naik ke puncak Gede tengah bulan ini sangat menyenangkan, kecuali persoalan kecil dengan mbak berambut ikal: tisu basah. Iya, tisu basah. Remeh temeh itu jadi selilit di antara kami berdua.

Sore hujan dan berangin. Kami berjalan beriringan menuju wc yang kami tentukan. Aku meminta selembar tisu basah padanya. “Tinggal satu,” katanya. Dan aku pun maklum, mengurungkan niatku.

Keesokan harinya. Siang yang lembab. Pemandangan elok terhampar kanan kiri depan belakang. Puncak gunung terlewati. Dan kulihat si mbak menimang sebungkus tisu basah. Sorenya kulihat dia meminta tisu basah pada teman seperjalanan yang lain. Mengelap tangannya yang berminyak sehabis cuci piring. Malamnya, si mbak membawa selastik tisu basah ke wc tujuan. Pemandangan baik, aku mencoba minta selembar …. tapi lagi-lagi jawabannya tinggal satu.

Pagi berikutnya kulihat lagi si mbak mengusap lelah dan sisa kantuk semalam dengan tisu basah. Dia juga sempat memintaku mengambilkan tisu basah di tas seorang teman, nggak peduli bahwa tubuhku masih kuyub habis nyemplung di kali. Siangnya si mbak makin lengket dengan tisu basahnya setelah makan siang. Aw aw aw …

Sepertinya, aku jadi hanya melihat dia dengan tisu basah. Dongkol. Sepertinya si mbak lupa kalau pernah bilang bahwa tisu basahnya tinggal satu …

Balada Tisu Basah

4 thoughts on “Balada Tisu Basah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s